
“Panggil semua Pasukan Naga, Paman Mo!” seru Zhao Jian setelah sampai di Paviliun Selatan Istana Kerajaan Kura-kura Awan.
“Baik Hakim Jian!” sahut Jiang Mo keheranan untuk apa mereka dikumpulkan—apalagi ada Petugas Pengadilan dari Kerajaan Kura-kura Awan di sebelah Zhao Jian yang menampakkan tatapan kebencian padanya.
Dalam Dua Puluh tarikan napas semua Pasukan Naga berbaris di halaman depan Paviliun Selatan. Yang menandakan Jiang Mo berhasil mengawasi mereka dengan baik sehingga Pasukan Naga yang berasal dari Klan Hua maupun antek-antek militer tidak berkeliaran ke luar istana untuk membuat kekacauan.
“Semua sudah di sini Hakim Jian!” seru Jiang Mo sembari menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat.
Zhao Jian mengeluarkan Kitab Keadilan sehingga semua Pasukan Naga mengerutkan kening.
Petugas Pengadilan Kerajaan Kura-kura Awan keheranan kenapa Pasukan Naga tampak ketakutan dengan buku aneh ditangan Hakim Jian.
“I-ituuuuu? Itu adalah artefak tingkat tinggi!” Petugas Pengadilan itu terkejut walaupun tidak mengetahui apa fungsinya.
Sudut bibir Zhao Jian memancarkan seringai tipis dan menggigit ujung telunjuknya sehingga mengeluarkan setetes darah.
Zhao Jian menulis “Dua hari” pada halaman pertama Kitab Keadilan. “Tenang saja dosa-dosa yang kalian lakukan selama berada di Kekaisaran Jiang tidak akan terungkap untuk saat ini he-he-he .... ”
“Kenapa ia malah senang?” Petugas Pengadilan Kerajaan Kura-kura Awan mengerutkan keningnya sembari berkata dalam hatinya.
Saat Zhao Jian menerobos ke Ranah Tianzun, Kitab Keadilan juga mengalami evolusi; di mana ia dapat mengatur batasan waktu sehingga mempersingkat waktu penyelidikannya.
Dalam kasus Pasukan Naga ini, Zhao Jian juga tidak akan merasa malu karena tidak mengungkapkan perbuatan tercela mereka, apalagi sampai mengungkapkan ada diantara Pasukan Naga yang ingin mengadu domba pihak-pihak kuat di Kerajaan Kura-kura Awan. Bila Raja Fang Zihao sampai mengetahui hal itu maka proses negoisasinya akan berjalan buntu—karena sudah jelas pihak musuh sebenarnya ingin menghancurkan mereka, maka mereka akan berpikir lebih baik bertarung sampai mati. Padahal pemikiran itu hanya ada pada militer Kekaisaran Jiang dan Klan-Klan besar saja, sedangkan Raja Jiang Long dan Patriark Sekte Pedang Abadi menginginkan jalan damai dalam penaklukan Gui Dao ini.
“Zhao Jian mengutuk Pangeran Fang Han karena dia mendekati Jiang Ruo. Menurut Hukum Kerajaan Kura-kura Awan Pasal 115 tentang pencemaran nama baik keluarga Kerajaan maka Zhao Jian akan dihukum Cambuk Seratus Kali.”
Zhao Jian tersenyum masam membaca tulisan yang muncul di halaman kosong Kitab Keadilan. Dia sengaja ikut memeriksa dirinya sendiri karena percaya diri tidak akan mendapatkan kesalahan sebab ia tak melakukan kesalahan apapun selama ada di Kerajaan Kura-kura Awan ini. Namun, siapa sangka ternyata ada Pasal karet juga di Kerajaan Kura-kura Awan ini.
Fang Han yang akan menghampiri mereka segera berbalik arah dan menyuruh Fang Zening, adiknya saja yang mendampingi mereka.
“Sial! Ternyata nona Ruo benar-benar istri Hakim Jian, tetapi kenapa nona Ruo malah menampakkan ekspresi wajah sedih malam itu?” gumam Fang Han takut menemui Zhao Jian karena tak ingin diselidiki juga menggunakan artefak tingkat tinggi yang mengungkapkan kebenaran itu.
“Selanjutnya Paman Mo tolong teteskan darahmu pada Kitab Keadilan ini!” seru Zhao Jian pada Jiang Mo.
“Artefak yang sangat hebat sekali!” kata Fang Zening sembari tersenyum hangat menghampiri Zhao Jian.
Kasim Ma dan Petugas Pengadilan segera menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat.
“Aku juga sangat membenci pelaku yang melakukan perbuatan tercela pada wanita Pelayan itu. Bila pelakunya tertangkap maka dia harus dihukum berat dan jangan sampai lolos walaupun dia berasal dari keluarga Kerajaan atau tuan muda Klan besar!” sahut Zhao Jian sembari tersenyum dan menatap Petugas Pengadilan. “Bukankah begitu, Paman?”
“Be-benar Hakim Jian, Pengadilan Kerajaan Kura-kura pasti menghukum pelakunya sesuai dengan undang-undang yang berlaku di negeri ini!” sahut Petugas Pengadilan dengan gugup, karena anggota keluarga Kerajaan itu tak pernah tersentuh Hukum dan tuan muda Klan besar tetap dibebaskan bila melakukan kejahatan dengan membayar denda berupa Kepingan emas saja.
Kitab Keadilan tidak bereaksi pada Jiang Mo, begitu juga pada Puluhan Pasukan Naga lainnya. Namun, saat giliran Pasukan Naga dari Klan Hua tiba-tiba sinar terang muncul pada halaman kosong Kitab Keadilan.
“Hua Ming menyogok Pelayan bernama Chi Mei untuk dipertemukan dengan salah satu tuan muda Klan besar. Dia berencana menghasut tuan muda itu agar mau bekerjasama untuk menggagalkan penyerahan Gui Dao Kerajaan Kura-kura Awan dengan damai!”
Zhao Jian terkejut membacanya dan wanita bernama Chi Mei itu adalah Pelayan wanita yang mayatnya ditemukan di Telaga. Namun, Kitab Keadilan tidak menyebutkan nama tuan muda yang ingin dijumpai Hua Ming—yang berarti Chi Mei mati di salah satu tuan muda atau oleh Prajurit istana maupun orang dalam istana sebelum berhasil melakukan misinya.
Zhao Jian mengeluarkan Pedang Keadilan dan satu kedipan mata Kepala Hua Ming telah menggelinding di lantai sebelum Kitab Keadilan menyebutkan hukuman apa yang akan ia terima.
Semua orang terkejut melihatnya, mereka tak menyangka Hakim muda yang mudah tersenyum itu akan bertindak sangat kejam dan dingin.