
Huang Bai berpikir pihak manapun yang ia dukung, nasib Klan Huang tetap akan berakhir tragis. Bila ia mengatakan yang sebenarnya pada Hakim Zhao Jian, maka Hakim Zhao Qihan dan Komandan Zhao Meng akan menghancurkan Klan Huang, sedangkan bila ia mendukung sebaliknya juga akan bernasib sama. Namun, saudari perempuannya dan ibunya mungkin tidak akan dihukum oleh Hakim Zhao Jian dan ia berpikir itu sudah cukup daripada seluruh keluarganya dimusnahkan.
Huang Bai menarik nafas dalam-dalam, ia sudah memutuskan pilihannya.
“Patriark Huang Taiji sebenarnya melakukan bunuh diri karena kedoknya melakukan penggelapan dana ketahuan oleh Pengadilan cabang Kota Canglan. Dia sengaja menghanguskan barang bukti agar Putranya, Huang Bai bisa melanjutkan kepemimpinan Klan Huang di Kota Canglan ini!” sela Penatua Pertama Klan Huang.
“Iya benar, kami saat itu ada di ruangan kerjanya untuk membujuknya agar menyerahkan diri pada Pengadilan sehingga Klan Huang tidak disalahkan dalam kasus penggelapan dana tersebut!” sahut Penatua Kedua.
Penatua lainnya mengangguk setuju, sehingga Huang Bai dan ibunya tercengang mendengarnya. Kini mereka mengerti, ternyata para Penatua telah mendukung Hakim Zhao Qihan dan Komandan Zhao Meng.
Huang Bai menduga dirinya, ibunya dan adiknya mungkin akan dikorbankan dalam kasus ini. Mungkinkah Hakim Zhao Qihan dan Komandan Zhao Meng menjanjikan hadiah besar untuk mereka atau Penatua Pertama dijanjikan menjadi Walikota Canglan dan Patriark Klan Huang berikutnya—karena semasa ayahnya masih hidup, Huang Taiji dan Penatua Pertama sering berselisih pendapat.
Huang Bai menggertak kan giginya, sedangkan seringai jahat terpancar dari sudut bibir Zhao Meng dan Zhao Qihan.
“Sudahlah Hakim Jian... tak perlu lagi melanjutkan kasus ini, karena Huang Bai dan keluarganya telah melenyapkan semua barang bukti. Hakim Jian boleh membawa mereka ke Ibukota untuk menyelamatkan wajahmu agar tidak terlalu malu karena gagal menyelesaikan kasus ini!” Zhao Qihan berkata dengan seringai mengejek.
“Aku bersumpah Hakim Qihan dan Komandan Meng lah yang membunuh ayahku serta mereka ikut menikmati harta yang digelapkan oleh ayahku!” teriak Huang Bai sembari menunjukkan jari tangannya ke arah wajah Zhao Qihan.
“Beraninya kamu menunjukkan sikap tidak sopan pada Hakim Qihan, Huang Bai!” bentak Penatua Pertama. “Aku akan memberimu pelajaran agar mengetahui batasanmu, kamu hanyalah Walikota sementara sebelum diadakan pemilihan Patriark Klan Huang yang baru!”
Penatua Pertama Klan Huang mengayunkan tangannya menampar wajah Huang Bai, tetapi tiba-tiba tangannya membeku.
“Siapa yang memberimu ijin memutuskan siapa yang salah dan benar di sini. Aku adalah yang paling berkuasa di sini, baik itu sebagai Hakim atau tuan muda Klan Zhao!” seru Zhao Jian yang membuat Penatua Pertama Klan Huang terdiam sembari menahan rasa sakit pada tangannya.
Zhao Jian tersenyum, kemudian mengeluarkan gulungan kertas dari Kantung Penyimpanannya. “Bacakan dekrit Raja Zhao Tian ini, Nona muda Xue!”
Semua yang ada di ruangan itu terkejut mendengarnya dan mereka melihat ada cap Naga Emas di gulungan kertas tersebut—yang menandakan itu adalah dekrit Raja Zhao Tian asli.
“Raja Zhao Tian memberikan kuasa penuh pada Hakim Zhao Jian menyelidiki sebuah kasus dan berhak memaksa terduga pelaku untuk meneteskan darahnya pada Kitab Keadilan yang merupakan Artefak tingkat tinggi yang mengungkapkan kebenaran. Bagi siapapun yang menolak seruan Hakim Zhao Jian maka mereka diputuskan bersalah tanpa perlu diadili dan dianggap melakukan pembangkangan dengan vonis hukuman mati!” Huang Xue ikut terkejut setelah membacakan isi gulungan kertas tersebut.
Zhao Qihan mengedip mata pada para Penatua Klan Huang, sedangkan Zhao Meng segera mengaktifkan formasi susunan Bintang yang sempat tidak mau aktif, tapi bawahannya segera menelusuri semua titik tempat diletakkannya Kristal Batu—ternyata Prajurit yang menghilang tersebut belum menaruh Kristal Batu di sana.
Zhao Jian merasa energi spritual-nya ditekan dan sulit dikeluarkan; Meridian-nya seperti tersumbat sehingga aliran energi spritual dari Dantian-nya terhambat.
“Ha-ha-ha... kamu terlalu sombong Hakim Jian!” Zhao Qihan tertawa terkekeh-kekeh. “Kita berada di dekat ekor Gui Dao, jauh dari Kota Tianwu. Di sini hanya berlaku hukum rimba; yang kuat menekan yang lemah,” ejeknya.
Para Penatua Klan Huang segera menghunus senjata masing-masing dan membunuh anggota Klan Huang yang masih setia pada Huang Bai.
Huang Bai, Huang Xue dan ibunya tampak panik, tetapi mereka bingung Zhao Jian tetap tersenyum sembari mengelus-elus kepala Beast Rubah di pangkuannya.
Zhao Qihan dan Zhao Meng juga bingung, kenapa Zhao Jian masih bersikap tenang padahal energi spritual-nya telah ditekan oleh formasi susunan Bintang. Bukan hanya dia saja yang ditekan, tetapi seluruh ahli beladiri di Kota Canglan juga ditekan dan hanya orang-orang yang setia dengan mereka saja yang tidak ditekan.
“Oh, ternyata kalian menggunakan formasi susunan Bintang milik militer Kerajaan Zhao!” Zhao Jian berkata dengan santai karena ia telah mempelajari formasi susunan Bintang ini ketika di Akademi Kerajaan—makanya ia tidak terkejut.
“Cih, jangan berpura-pura kuat Hakim Jian, hidupmu telah berakhir,” ejek Zhao Meng. “Kami akan mengabarkan Klan Zhao bahwa kamu telah dibunuh oleh Sekte Underworld sehingga kami tidak disalahkan atas kematianmu ha-ha-ha ....”