Beasts Master

Beasts Master
Puncak Awan Putih



Beberapa murid perempuan menghadang Zhao Jian begitu ia sampai di Puncak Awan Putih. “Apa tujuanmu ke sini dan siapa kamu?” tanya salah satu dari mereka.


Zhao Jian menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat dan menyerahkan Plakat murid Puncak Penjinak Beast pada murid wanita itu. “Aku adalah Zhao Jian dan ingin bertemu dengan istriku yang baru saja diterima menjadi murid Puncak Awan Putih. Apakah aku boleh berjumpa dengannya?”


“Boleh saja, akan tetapi kami akan menahan Plakatmu untuk sementara selama kamu berada di Puncak Awan Putih kami. Namun, waktunya hanya satu batang dupa saja, bila melebihi batas waktu yang disediakan maka kamu akan di Penjara selama Seratus hari. Jadi, gunakanlah waktu yang tersedia itu dengan baik dan jangan sampai melebihi batas waktu yang ditentukan!” kata murid wanita itu memberikan penjelasan.


Zhao Jian tersenyum hangat dan menangkupkan tinju. “Terimakasih senior!”


Kemudian ia memasuki Puncak Awan Putih dan menyarungkan Pedang Keadilan pada sarung Pedang di punggungnya.


Zhao Jian takjub dengan kemegahan Puncak Awan Putih, ini sangat jauh berbeda dengan Puncak Penjinak Beast.


Dia sempat bertanya pada beberapa murid Puncak Awan Putih di mana asrama murid baru berada dan dengan ramah mereka menunjukkan tempat itu padanya.


“Jian gege... kenapa kamu berada di sini?” Liu Ruxu yang sedang duduk di taman bersama Zi Yun terkejut melihat Zhao Jian muncul di Puncak Awan Putih.


Zhao Jian tersenyum lebar dan segera menghampiri Liu Ruxu. “Kamu hebat sekali menjadi murid Puncak Awan Putih! Oh, ya siapa gadis cantik itu?” Zhao Jian melambaikan tangan pada Zi Yun.


Zi Yun terkejut mendengar ucapan Pemuda tampan di depannya itu. “Apakah kamu sudah menikah saudari Ruxu?” tanyanya penasaran.


Liu Ruxu mengangguk pelan. “Perkenalkan dia adalah suamiku, Zhao Jian dan dia merupakan Beast Master serta Hakim Kekaisaran, bila kamu memiliki masalah laporkan saja padanya maka ia akan membantumu!”


“Benarkah? Suamimu hebat sekali!” Zi Yun takjub.


Jiang Ruo yang baru keluar dari ruang latihan terkejut mendengar percakapan mereka. Dia langsung menatap calon suaminya itu dan Zhao Jian juga menoleh ke arahnya. Namun, Jiang Ruo langsung menatap ke arah lain.


“Cantik-cantik sekali murid-murid wanita di sini ya he-he-he ....” Zhao Jian tertawa dan mengeluarkan makanan dari Kantung Penyimpanannya.


“Matamu jelalatan ke mana saja, hah?” Liu Ruxu mencubit pinggang Zhao Jian.


“Aaaaaaa! Ampun Istriku... tapi memang kenyataan murid-murid Puncak Awan Putih ini cantik-cantik!” sahut Zhao Jian.


Zi Yun tersenyum cerah melihat tingkah laku suami istri di depannya itu.


Zhao Jian tidak menyadari kalau wanita cantik yang ia lihat itu adalah calon istrinya, Jiang Ruo.


“Bolehkah aku melihat Beastmu itu tuan muda Jian?” Zi Yun sangat penasaran.


Zi Yun langsung memeluk Beast Rubah Putih itu. “Lembut sekali! Aku jadi ingin menjadi Beast Master juga,” katanya tersenyum bahagia.


“Aku tak bisa berlama-lama di sini, nanti aku mendapatkan hukuman karena senior yang ada di gerbang masuk Puncak Awan Putih hanya memberikan tenggat waktu satu batang dupa saja!” seru Zhao Jian setelah merasa puas berjumpa lagi dengan istrinya.


Liu Ruxu mengangguk pelan, sudut bibirnya memancarkan senyuman karena suaminya itu masih peduli padanya. Padahal awalnya ia mengira Zhao datang kemari untuk bertemu dengan Jiang Ruo. Namun, setelah cukup lama berada di sini, Zhao Jian tak pernah mengungkit nama Putri Mahkota Kekaisaran Jiang tersebut.


“Ternyata murid baru itu adalah istri pertama calon suamimu!” Mu Lan berbisik pada Jiang Ruo yang langsung mengerutkan keningnya.


Jiang Ruo tak mengatakan apapun dan ia langsung menuju kamar asramanya, entah mengapa ia merasa kesal karena Zhao Jian tidak menyapanya. Dia malah bermesraan dengan istri pertamanya di depan matanya.


...***...


Setelah turun dari Puncak Awan Putih, Zhao Jian segera keluar dari Sekte Pedang Abadi menuju pusat Kota, ibukota Kekaisaran Jiang tersebut.


Zhao Jian tercengang melihat bangunan-bangunan yang menjulang tinggi dan lalu-lalang penduduk Kota yang jauh lebih ramai dari Kota Tianwu, ibukota Kerajaan Zhao yang dulu.


“Permisi Paman, di manakah letak gedung Pengadilan?” Zhao Jian bertanya pada Pria yang mengenakan Jubah Pendekar dan Dua Pedang kembar di punggungnya.


Pria itu menatap Zhao Jian dengan tatapan sinis karena merasa tidak senang diberhentikan olehnya. Namun, Pria itu langsung tersenyum begitu mengetahui kalau Pemuda di hadapannya itu ternyata adalah murid Sekte Pedang Abadi.


“Oh, tuan muda cukup berjalan lurus saja dan nanti tuan muda akan melihat bangunan luas dengan tembok yang cukup tinggi mengelilinginya. Nanti akan ada Petugas Pengadilan berpakaian serba hitam mengenakan Topi Caping berwarna hitam di gerbang masuk bangunan itu!” sahut Pria itu.


Zhao Jian menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat. “Terimakasih, Paman!” sahut Zhao Jian sembari berjalan ke arah yang dituju oleh Pria itu.


Namun, tiba-tiba ada rombongan penunggang Kuda yang melaju cukup kencang, sehingga salah satu dari penunggang kuda itu menabrak gerobak dorong milik wanita tua yang berisi sayuran.


Wanita tua itu terjatuh, sayuran di gerobaknya berhamburan setelah gerobaknya terbalik.


Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung mengutuk penunggang Kuda itu, sedangkan Zhao Jian bergegas untuk membantu memunguti sayuran yang berserakan di jalanan. Namun, Pria Pendekar yang berbicara dengannya tadi langsung menepuk bahunya.


“Jangan ikut campur! Mereka itu adalah rombongan militer yang dipimpin Komandan Jing Han. Walaupun kamu murid Sekte besar, janganlah mengusik mereka. Nanti, hidupmu akan berakhir tragis!” bisik Pria itu.


Zhao Jian mengerutkan keningnya, ternyata keadaan di Kekaisaran Jiang ini tak ada bedanya dengan Kerajaan Zhao. Ada saja beberapa kelompok ditubuh pemerintahan yang tidak bisa diatur dan bertingkah layaknya Raja-Raja kecil.


“Tenang saja Paman. Mari kita lihat, sehebat apa mereka!” sahut Zhao Jian, sudut bibirnya memancarkan seringai jahat—sehingga Pria Pendekar itu merasa ada yang tidak beres dengan Pemuda tampan ini.