Beasts Master

Beasts Master
Gadis Kecil Qingqing



“Kita akan memasuki wilayah Klan Yan, Hakim Jian!” seru Zhao Bai yang kudanya berlari di sebelah Kuda yang ditunggangi Zhao Jian.


“Ya, semoga saja kita tidak terlambat mencapai Kota Lingxi!” sahut Zhao Jian dengan pandangan lurus ke depan.


Dia tidak sabar ingin bertemu dengan musuh yang telah membunuh Petugas Pengadilan Zhao Kai dan Zhao Yunfei—walaupun ia harus berhadapan dengan ribuan anggota Sekte Underworld, pihak yang ia curigai membunuh mereka. Karena ada tiga Beastnya yang akan melindungi dan membantunya melawan musuh tersebut.


“Ada anak kecil yang terbaring di jalan!” teriak Petugas Pengadilan yang langsung menghentikan laju kudanya—sehingga tabrakan kuda beruntun pun tak terhindarkan.


Zhao Jian terlempar dari kudanya dan langsung mencium tanah, kemudian tubuhnya berguling-guling ke arah anak kecil yang tergeletak di tanah.


Zhao Jian meraih tubuh anak kecil itu agar yang lain tidak menimpanya atau diseruduk kuda yang saling bertubrukan.


“Ah, awas Hakim Jian!” teriak Zhao Que yang terlempar dari kudanya yang ikut menabrak kuda Petugas Pengadilan yang tiba-tiba berhenti.


Zhao Jian mengerutkan keningnya, sudah terlambat untuk menghindar.


“Krekkkkkkk!”


Zhao Jian merasa masa depannya telah hancur, karena kepala Zhao Que menabrak tongkat saktinya dengan keras.


“Ara... ara... itu tidak sengaja Hakim Jian!” Senyum genit terpancar dari sudut bibir Zhao Que, karena Zhao Jian meringis kesakitan. “Tenang saja, kalau itu tidak berfungsi lagi he-he-he... Hakim Jian masih bisa menjadi Kasim hebat di masa depan!” candanya.


“Sial kau bibi Que... siapa yang mau menjadi Kasim dan tidak bisa merasakan kenikmatan Dunia!” gerutu Zhao Jian segera duduk bersila sembari menyerahkan anak kecil di pelukannya pada Zhao Que.


Zhao Jian kemudian mengalirkan energi spritual ke arah Tongkat Saktinya agar fungsinya masih optimal dan tidak terjadi kerusakan fatal yang mengakibatkan menjadi Kasim nantinya.


“Tubuh gadis kecil ini sangat lemah, mungkin karena tidak makan dan minum beberapa hari. Eh, ini!” Zhao Que terkejut melihat Kantung Penyimpanan milik Zhao Kai terkait di pakaian gadis kecil tersebut. “Pantas saja gadis kecil ini selamat, ternyata Saudara Kai dan Saudara Yunfei berkorban demi dia!”


Zhao Que meraih Kantung Penyimpanan itu dan melihat isinya. Semua masih utuh, hanya makanan dan minuman saja yang telah habis.


Zhao Jian membuka matanya setelah selesai menyembuhkan rasa sakit pada Tongkat Saktinya. Kemudian ia mengalirkan energi spritual pada gadis kecil itu, sehingga wajahnya yang pucat perlahan-lahan menjadi cerah kembali.


Zhao Jian tidak tahu harus menjawab apa, karena semua Penduduk Desa telah dibunuh oleh musuh yang membunuh Dua bawahannya tersebut. Dia hanya menundukkan wajahnya, sehingga gadis kecil itu menangis tersedu-sedu.


“Eh, jangan menangis cantik!” Zhao Que menyeka air mata gadis kecil itu. “Bagaimana kalau kamu ikut dengan Bibi saja mencari keberadaan Ibumu. Mungkin ibumu juga sedang mencarimu di suatu tempat!” Zhao Que membujuknya dan gadis kecil itu menganggukkan kepala tanda setuju.


“Oh, ya... siapa namamu gadis cantik?” Zhao Jian bertanya sembari menyerahkan sepotong roti padanya.


Gadis kecil itu meneteskan air liur melihat roti ditangan Zhao Jian dan segera menyambarnya, kemudian memakannya dengan lahap. “Qingqing!” jawabnya sembari terus mengunyah roti tersebut.


“Nama yang bagus dan cantik sepertimu!” sahut Zhao Jian, tetapi ia heran dengan pandangan Zhao Que dan yang lainnya. “Hei, ada apa dengan kalian?”


“Hmm, pantas saja bibimu ini tidak pernah dilirik olehmu!” Zhao Que bercanda. “Ternyata kamu menyukai bibit yang masih kecil-kecil!” katanya lagi sembari berpura-pura sedih dan menjauhkan Qingqing dari Zhao Jian.


“Hei, aku bukan laki-laki seperti itu! Aku masih laki-laki normal yang menyukai wanita ber... ah, lupakan saja, ayo pergi! Kita tidak boleh membuang-buang waktu di sini!” Zhao Jian segera melompat ke atas panggung kuda.


“Ternyata Hakim Jian memiliki selera yang sama denganku!”


“Tapi ia belum mengungkapkan mau yang daun muda atau yang terlalu matang seperti ....”


Zhao Que mengerutkan keningnya ditatap oleh para Petugas Pengadilan junior. Dia mengeluarkan Niat Membunuh karena mereka menyinggung masalah usinya yang telah berkepala empat tetapi belum juga menikah.


“Ayo cepat susul Hakim Jian, nanti dia memarahi kita karena berleha-leha di belakang!”


Para Petugas Pengadilan segera melarikan diri karena takut dimarahi oleh Zhao Que.


Zhao Chen dan Zhao Bai tersenyum melihat tingkah mereka, kemudian keduanya segera menyusul Zhao Jian.


“Pegang Bibi dengan kuat ya, Qing‘er!” Zhao Que membawa Qingqing bersamanya.


Qingqing mengangguk pelan dan tersenyum bahagia karena akan dipertemukan dengan ibunya lagi. Namun, ia tak tahu kalau semua keluarganya sebenarnya telah tewas ditangan Ye Jing.