
“Hei, bocah! Minggir kau!”
Salah satu Prajurit Kekaisaran Jiang membentak Zhao Jian yang dengan santai malah memunguti sayuran milik wanita tua yang berserakan di jalanan.
Namun, Zhao Jian malah mengabaikan seruan Prajurit itu sehingga orang-orang yang melihatnya menjadi khawatir dia akan mendapatkan masalah dari Komandan Jing Han tersebut.
“Hei, apakah kau tuli bocah laknatt!” umpat Prajurit itu.
Jing Han yang berada di dalam gerbong kereta kuda merasa sangat kesal karena tiba-tiba laju kereta kuda malah berhenti dan hampir membuatnya tersungkur.
“Kenapa kalian membuat keributan yang tidak perlu, singkirkan saja semut-semut rendahan itu kalau mereka menghalangi jalan!” Jing Han berkata kasar pada bawahannya
Prajurit yang membentak Zhao Jian segera menundukkan wajahnya ke arah gerbong kereta kuda Jing Han, dan menghunus Pedangnya.
Namun, langkahnya terhenti karena melihat lambang Sekte Pedang Abadi pada Jubah yang dikenakan oleh Zhao Jian.
“Apalagi yang kalian tunggu! Cepat bereskan saja bocah itu!” gerutu Jing Han bertambah kesal dan keluar dari dalam gerbong kereta kuda. “Oh, ternyata dia bocah dari Sekte Pedang Abadi!” Dia berkata pelan setelah melihat Jubah yang dikenakan oleh Zhao Jian.
“Nak, tidak perlu memungutnya! Biarkan saja mereka lewat lebih dulu!” seru wanita tua pemilik sayuran itu dengan ekspresi wajah cemas karena takut Zhao Jian akan dibunuh oleh mereka.
Petinggi Kekaisaran Jiang selalu tutup mata dengan kejadian-kejadian seperti ini yang dilakukan oleh para pejabat di daerah atau oleh Komandan militer—karena mereka sibuk memikirkan cara menaklukkan Gui Dao Kerajaan lain untuk dilahap oleh Gui Dao Kekaisaran Jiang, makanya Kaisar Jiang Long berencana menikahkan Putrinya dengan Zhao Jian karena mendapatkan kabar dari Jiang Mo—bahwa Zhao Jian itu memiliki artefak yang dapat mengungkapkan kebenaran. Kaisar Jiang Long juga sangat suka dengan semboyan Keadilan Mutlak yang diterapkan oleh Zhao Jian dan tidak takut hal itu akan menyinggung kepentingan entitas kuat.
Zhao Jian tersenyum hangat pada wanita tua itu dan masih dengan santai memunguti sayuran yang berserakan di jalanan.
Pria Pendekar langsung menggelengkan kepala karena merasa kasihan pada Zhao Jian. Dia yakin Zhao Jian itu terlalu polos karena tidak menyadari cara kerja Dunia yang sesungguhnya, di mana yang kuat selalu memandang rendah mereka yang lemah.
“Nak, biarkan saja! Tidak perlu membantuku,” kata wanita tua itu sembari memegang bahu Zhao Jian dengan tangan gemetaran saking takutnya para Prajurit Kekaisaran akan marah karena perjalanan mereka tertunda oleh ulahnya itu.
“Baiklah bibi... tetapi mereka harus mengganti rugi
karena—” Belum selesai Zhao Jian berbicara, Jing Han langsung menendang gerobak milik wanita tua itu hingga hancur.
“Hei, Nak! Aku telah berusaha menahan amarah karena kamu adalah murid Sekte Pedang Abadi. Namun, kamu malah bertingkah angkuh dan ingin kami mengganti rugi pada wanita tua ini? Apakah otakmu sudah tak waras?” gerutu Jing Han dengan alis terangkat sebelah. “Kau sekarang berada di wilayah kami, di sini hukum Kekaisaran Jiang yang berlaku! Bukan hukum Sekte Pedang Abadi... jadi, menyingkir lah jangan sampai aku bertambah marah! Kali ini aku akan memaafkanmu karena kau murid Sekte Pedang Abadi. Namun, bila kamu berulah lagi maka ....”Jing Hu meremas tangannya mengancam Zhao Jian.
Sudut bibir Zhao Jian memancarkan seringai tipis dan melepaskan Aura Ranah Tianzun miliknya, sehingga para Prajurit Kekaisaran langsung mundur beberapa langkah kecuali Jing Han yang tetap bersikap angkuh.
Dua Prajurit segera bergegas ke arah wanita tua itu dengan seringai tipis terpancar dari sudut bibir mereka, sehingga wanita tua itu menangis dan memohon ampunan agar tidak ditangkap.
“Kalian sombong sekali, bukannya mengayomi rakyat Kekaisaran Jiang! Kalian malah bertingkah layaknya pemilik negeri ini dan bertingkah sewenang-wenang!” sahut Zhao Jian sembari melepaskan energi spritual racun dengan dosis rendah, sehingga kedua Prajurit itu langsung kejang-kejang dan memuntahkan seteguk darah.
Jing Han terkejut melihatnya dan segera mengeluarkan penutup wajah dari Kantung Penyimpanan miliknya. “Hmm, ternyata kau adalah Kultivator dengan energi spritual Racun! Namun, itu belum cukup untuk menundukkanku bocah laknatt! Rasakan ini!”
Jing Han melompat ke arah Zhao Jian yang segera menarik Pedang Keadilan dari sarung Pedang di punggungnya. Para kerumunan penduduk segera berhamburan menjauh dari sana karena takut akan terkena dampak pertarungan itu.
“Siapa yang bertarung itu?” Mu Lan yang kebetulan keluar dari Sekte Pedang Abadi terkejut melihat ada yang bertarung ditengah-tengah ibu kota Kekaisaran. Dia juga tidak menyangka ada orang bodoh yang berani menyinggung Prajurit Kekaisaran dan menentang mereka.
“Itu adalah murid Sekte kalian Nona muda!” sahut salah satu penduduk.
“Eh, kenapa ada murid Sekte Pedang Abadi yang berkonflik dengan Prajurit Kekaisaran!” Mu Lan segera ke sana melihat murid dari Puncak mana yang memiliki nyali besar itu. “I-itu adalah calon suami Putri Mahkota Jiang Ruo!” Dia terkejut melihat Zhao Jian bertarung melawan Komandan militer.
Bilah Pedang milik Jing Han berbenturan dengan bilah Pedang Keadilan, sehingga Jing Han dan Zhao Jian terhempas beberapa langkah karena basis Kultivasi mereka sama.
“Oh, kamu lumayan hebat juga! Namun, kini aku akan bertarung dengan serius, jadi waspadalah bocah laknatt!” Dari bilah Pedang Jing Han memancar energi spritual Petir.
“Oh, betulkah?” ejek Zhao Jian sembari melepaskan energi spritual Api, Angin dan Es secara bersama-sama sehingga Jing Han terkejut dan ekspresi wajahnya menjadi masam.
Keduanya melesat secara bersama-sama sehingga menimbulkan kepanikan, karena bila serangan mereka beradu maka akan menimbulkan ledakan energi spritual yang merusak area di sekitar mereka.
Namun, saat bilah Pedang keduanya akan beradu tiba-tiba terdengar suara peluit, dan Puluhan Petugas Pengadilan muncul di sana.
“Apa yang kalian lakukan?” bentak Petugas Pengadilan wanita yang menjadi Pemimpin rombongan dari Petugas Pengadilan Kekaisaran Jiang tersebut. Dia kemudian menatap tajam ke arah Zhao Jian dan berkata, “Jebloskan dia ke penjara dan kirim pesan pada Sekte Pedang Abadi agar Penatua-nya datang menjemputnya!”
Beberapa Petugas Pengadilan mendekati Zhao Jian dan hendak menangkapnya. Namun, Zhao Jian mengeluarkan Token Hakim Kekaisaran miliknya, sehingga para Petugas Pengadilan itu bertekuk lutut.
“Hormat kami pada Yang Mulia Hakim Kekaisaran!” seru Petugas Pengadilan tersebut, sehingga semua orang terkejut melihatnya, termasuk Petugas Pengadilan wanita yang awalnya membentak Zhao Jian.
Petugas Pengadilan wanita itu melompat turun dari Kudanya dan bertekuk lutut sembari menundukkan wajahnya, hanya Jing Han yang masih berdiri karena merasa kedudukannya setara dengan Hakim Kekaisaran.
“He-he-he... aku lupa kalau calon suami Putri Mahkota Jiang Ruo telah diangkat menjadi Hakim Kekaisaran secara pribadi oleh Kaisar Jiang Long!” Mu Lan tak menyangka akan berakhir seperti ini. “Sekarang apa yang akan kamu lakukan, Zhao Jian?” Dia penasaran keputusan yang akan dibuat oleh Zhao Jian pada Komandan militer tersebut.