
Zhao Jian terkejut melihat begitu banyak Petugas Pengadilan yang sedang menawan sisa-sisa bandit bawahan Nan Feng, dia menduga mereka pasti datang bersama Hakim yang berusaha menyelamatkan Nan Feng tadi.
“Tuan Jian... mereka melarang kami membunuh para monster sialan itu!”
Ayam Jago langsung mengadu begitu melihat Zhao Jian muncul di hadapannya. Dia membusungkan dada bersikap sombong karena tuannya telah muncul, padahal tadi dia sempat ketakutan saat para Petugas Pengadilan melarangnya membunuh para bandit yang tersisa.
Zhao Jian memperhatikan para Petugas Pengadilan dan tatapannya berhenti pada sosok Ranah Saint yang merupakan Hakim lainnya selain Hakim yang berusaha menyelamatkan Nan Feng.
Hakim itu menangkupkan tinju, sudut bibirnya memancarkan senyuman tipis. Dia terlihat seperti tipikal orang yang sulit dibaca apa tujuannya atau sosok bermuka dua yang jauh lebih berbahaya dari para bandit yang terang-terangan menunjukkan sisi buruk mereka.
“Hakim Gao Yuan menyapa Hakim Jian... aku yakin Hakim Jian telah melenyapkan Nan Feng. Tindakan itu adalah pilihan yang paling tepat, tetapi bisakah para Pion-Pion ini diserahkan pada kami untuk diadili melalui Pengadilan agar Hakim pusat tidak menggonggong?” Gao Yuan langsung mengungkapkan tujuannya tidak membunuh sisa-sisa bandit.
Nan Chi yang memilih bersembunyi di dalam gubuk selama pertarungan antara Petugas Pengadilan melawan para bandit memutuskan keluar dari gubuk setelah mendengar perkenalan Gao Yuan yang merupakan salah satu Hakim Kota Nandong.
“Ternyata kita tidak sepenuhnya gagal menyelamatkan gadis-gadis yang diculik oleh kawanan bandit, masih ada satu gadis yang selamat!” Gaoer—Beast Anjing berbulu hitam sangat senang melihat kemunculan Nan Chi.
Zhao Jian mengerutkan kening dan menggertak kan giginya, amarahnya tersulut kembali; dari ujung jari tangannya muncul benang-benang sutera putih yang langsung melesat dan melilit leher para bandit-bandit yang tersisa hingga kepala mereka terputus.
“Hakim Jian?” Gao Yuan terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Zhao Jian itu. “Gerakannya cepat sekali, bahkan aku terlambat untuk menghadangnya,” gumamnya.
Dia yakin Zhao Jian marah karena kondisi Nan Chi yang sangat mengenaskan, pakaian yang ia kenakan telah robek dan menampakkan bagian tubuhnya.
Zhao Jian mengeluarkan Pil Penyembuhan dan menyerahkannya pada Nan Chi. “Apakah masih ada gadis-gadis lain bersamamu? Dan apakah kamu dari Desa Pakis Hitam?” tanyanya penasaran, apakah gadis dihadapannya itu putri dari Nan Yue.
Dengan tangan gemetar, Nan Chi menerima Pil Penyembuhan yang diberikan oleh Zhao Jian dan langsung menelannya. “Ha-hanya aku saja yang tersisa, mereka telah dibunuh oleh pimpinan bandit!” sahutnya sembari menangis tersedu-sedu.
Zhao Jian menghela napas panjang dan menundukkan wajahnya. “Maaf aku terlambat, kalau saja ....” Dia hanya bisa berandai-andai saja.
“Umm, namaku adalah Nan Chi, apakah orang tuaku masih hidup?” Nan Chi bertanya lagi, karena khawatir orangtuanya telah dibunuh oleh kawanan bandit sebab saat mereka dibawa dari Desa Pakis Hitam, beberapa Penduduk Desa mencoba menyelamatkan mereka tetapi para bandit langsung membunuh mereka.
“Kamu Nan Chi... syukur lah, ibumu lah yang mendatangi Sekte Pedang Abadi dan meminta kami menyelamatkanmu,” sahut Zhao Jian bernapas lega ternyata gadis dihadapannya itu adalah Putri dari Nan Yue.
“Gao Yuan! Kenapa kau membunuh mereka?” Tiba-tiba Hakim yang berusaha menyelamatkan Nan Feng muncul, ekspresi wajahnya terlihat masam menatap tajam Gao Yuan.
Zhao Jian keheranan, kenapa kedua Hakim Kota Nandong itu terlihat bermusuhan dan Gao Yuan tidak memberitahu Hakim itu bahwa dirinya lah yang telah melenyapkan para bandit yang tersisa.
“Kau!” gerutu Hakim itu semakin kesal, kemudian ia menatap Zhao Jian dan mendengus dingin. “Aku akan menulis laporan apa yang terjadi di sini tanpa menutup-nutupi tindakan sekecil apapun!” katanya lagi dengan nada mengancam.
Hakim itu kemudian terbang ke arah Kota Nandong membawa tubuh Nan Feng untuk diserahkan pada Klan Nan.
Sudut bibir Gao Yuan memancarkan seringai tipis menatap kepergian Hakim itu, dia kemudian bertekuk lutut di hadapan Zhao Jian bersama Petugas Pengadilan yang dibawanya—hanya Petugas Pengadilan yang datang bersama Zhao Jian saja yang tetap berdiri dengan ekspresi wajah kebingungan.
“Kenapa kalian bertekuk lutut?” Zhao Jian kebingungan.
“Kami adalah faksi keadilan yang merupakan golongan minoritas di Pengadilan Kekaisaran. Pimpinan kami adalah Hakim Sepuh Jiang Gang... Hakim Jian pasti tidak mengenalnya karena dia dikucilkan oleh Hakim lainnya. Namun, berkat dukungan beliau kami tetap dapat menegakkan keadilan dan menghukum kejahatan,” sahut Gao Yuan. “Beliau juga telah mengirim pesan untuk mendukung Hakim Jian dan tolong pimpin lah faksi keadilan karena dengan dukungan Hakim Jian maka kami akan bergerak dengan leluasa untuk mewujudkan keadilan di seluruh Kekaisaran Jiang!”
Hakim Jiang Gang sudah lama ingin bertemu dengan Zhao Jian tetapi dia sudah terlalu tua dan gerak-geriknya dibatasi oleh Hakim senior lainnya, sehingga ia menunjuk Hakim yang setia dengannya untuk mengabari Zhao Jian bahwa ada faksi keadilan di Pengadilan Kekaisaran yang sejalan dengan visi misinya. Tujuan utamanya tentu karena Zhao Jian adalah menantu Kaisar yang secara otomatis tidak ada yang berani mengusiknya secara terang-terangan.
“Faksi Keadilan?” Zhao Jian terkejut mendengarnya. “Pantas saja dia terlihat seperti penjilat,” pikirnya sembari membayangkan senyuman menjijikkan Gao Yuan sebelumnya.
Nama faksi mereka sangat mirip dengan nama Kitab Keadilan dan Pedang Keadilan, bila ia bergabung dengan mereka maka lengkap sudah ia memborong semua nama Keadilan nantinya.
Zhao Jian tersenyum masam karena merasa dirinya belum bisa mewujudkan keadilan tersebut. “Kalau dipikir-pikir lebih baik bergabung dengan faksi keadilan daripada harus bergerak sendirian sementara musuhku semakin menggunung, kalau aku bergabung dengan kalian maka beban yang kuhadapi akan lebih ringan karena berbagai beban penderitaan dengan kalian!” kata Zhao Jian sehingga Gao Yuan mengerutkan keningnya.
“Kenapa dia berkata begitu? Apakah dia sebenarnya memiliki musuh yang lebih mengerikan daripada faksi keadilan? Jangan-jangan aku telah menggiring faksi keadilan ke dalam jurang kehancuran,” gumam Gao Yuan.
“Baiklah... Hakim Gao, tolong urus kejadian ini karena aku harus kembali segera ke Sekte Pedang Abadi. Kekuatanku sangat dibutuhkan saat ini karena semua Penatua dan Patriark sedang melakukan Kultivasi tertutup,” kata Zhao Jian menepuk pundak Hakim Gao Yuan yang mengerutkan keningnya.
“Sial! Sudah kuduga, malah kami yang dimanfaatkan olehnya. Namun, nasi sudah menjadi bubur, kami hanya bisa menelannya saja dan berharap akan mendapatkan manfaat di masa depan!” gerutunya dalam hati.
Zhao Jian menaikkan Nan Chi ke punggung Ayam Jago, sedangkan dirinya menggunakan teknik meringankan tubuh melesat ke Desa Pakis Hitam.
“Apa yang akan kita lakukan Hakim Gao?” Salah satu Petugas Pengadilan bertanya dengan ekspresi wajah kebingungan.
“Bakar mayat-mayat mereka dan kembali ke Kota Nandong,” sahut Gao Yuan. “Sial! Pada akhirnya aku juga yang akan berhadapan dengan Hakim-hakim lainnya,” keluhnya.