
Menjelang malam, Zhao Jian memanggang ikan yang ia tangkap dari sungai. Dia hendak menangis karena tidak memiliki bekal lagi dalam Tas Sihirnya.
Dia menyerahkan semua perbekalannya pada bocah yang membantunya keluar dari Kota Dishan karena berpikir akan bertemu Desa atau Kota lagi. Namun, siapa sangka yang ia lewati hanya pegunungan tak berhuni semua.
Satu-satunya yang tersisa dalam Tas Sihirnya adalah Garam dan bubuk cabai sehingga ikan bakarnya masih ada rasa.
“Mudah-mudah Bocah itu dan keluarganya baik-baik saja kedepannya,” gumamnya menghela napas panjang.
Zhao Jian tidak menyarankannya memasuki Sekte Bangau Surgawi karena bocah memiliki akar Spritual rendah, Sekte kecil saja pasti akan menolaknya sehingga ia ditakdirkan menjadi Manusia biasa saja.
“Grgrgrgrgrgrgrgr!”
Salah satu Beast Beruangnya mendekat membawa satu ekor ikan besar.
“Bagus-bagus... sekarang, kalian hajar semua binatang yang ada di hutan ini dan bila itu adalah Beast maka tangkap hidup-hidup!” seru Zhao Jian.
Huli Jing yang duduk bersila disebelahnya langsung membuka mata karena tergiur dengan bau ikan bakarnya, air liurnya menetes dari sudut bibirnya.
Zhao Jian mengerutkan keningnya, “Hei! Bagaimana kamu malah tergoda oleh bau ikan bakar? Saat bermeditasi itu kamu harus fokus dan bayangkan apapun disekitarmu adalah esensi yang harus kamu lahap dengan rakus!”
Zhao Jian menasihati Huli Jing sembari menyantap ikan bakar itu sehingga air liur Huli Jing semakin deras berjatuhan dari sudut bibirnya.
Huli Jing menyeka air liurnya dan menganggukkan kepala. “Baik tuan Jian!” sahutnya sembari memejamkan mata.
“Akhirnya ia berkultivasi dengan sungguh-sungguh!” gumam Zhao Jian merasakan fluktuasi energi spiritual disekitarnya. “Aku juga tidak boleh melewatkan kesempatan ini,” pikirnya lagi sembari duduk bersila.
...***...
“Sial! Mereka bodoh sekali!” Bos Kelompok Bayangan marah setelah mendapatkan informasi kalau Long Teng dan timnya gagal menangkap Zhao Jian, mereka malah tewas dalam misi itu. “Pada akhirnya kita kehilangan jejak Zhao Jian, Klan Yun pasti akan marah!” keluhnya, Aura Pembunuh menyebar di dalam ruangan itu yang mengakibatkan bawahannya merasa tertekan.
“Bos... kendalikan amarahmu!” seru penasihatnya sembari menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat.
Bos Kelompok Bayangan menghilangkan Aura Pembunuh-nya. Dia menghembuskan napas panjang, “Kira-kira ke mana tujuannya berikutnya? Suruh cabang Kelompok Bayangan di sana mengikutinya tanpa melakukan penyerangan!”
Dia berpikir Klan Yun saja yang menangkap Zhao Jian, dia tidak ingin kehilangan bawahan lagi seperti yang terjadi pada Long Teng dan timnya.
“Aku merasa dia akan ke salah satu dari Lima Kota ini!”
Penasihatnya menunjuk Lima Kota dalam peta dan kelimanya mengarah ke arah tengah Dinasti Gu Agung tetapi masih dekat dari Kota Dishan.
“Kirim pesan pada Klan Yun untuk mengirim Pendekar kuat mereka ke Lima Kota itu dan katakan kita akan memotong bayaran sebesar 26% karena gagal dalam misi di Kota Dishan!” kata Bos Kelompok Bayangan sedih rugi besar dalam misi ini.
“Tidak perlu ada pemotongan, kami akan memberikan bayaran tambahan hingga Zhao Jian tertangkap.” Tiba-tiba Pemuda tampan memasuki ruangan Bos Kelompok Bayangan itu. “Yang penting adalah Kelompok Bayangan tahu ke mana Zhao Jian bergerak, cukup itu saja dan ... Klan Yun berduka cita atas gugurnya anggota Kelompok Bayangan di Kota Dishan!” katanya lagi dengan ekspresi wajah sedih.
...***...
Zhao Jian membuka matanya keesokan paginya, dia terkejut ada banyak mayat binatang di sekitarnya dan para Beast Beruang langsung memukul dada masing-masing seolah-olah mengatakan kami telah berkerja dengan baik tuan Jian.
“Bagus!” Zhao Jian mengacungkan jempol. “Kalian bermeditasi lah di dalam Tas Sihir!” katanya lagi sembari memberikan beberapa tanaman herbal Spritual untuk mereka makan agar energi spiritual mereka meningkat.
Beast Beruang Ranah Saint menyeret Beast Kera Putih Ranah Saint yang terluka parah ke hadapan Zhao Jian.
“Ini?” Zhao Jian tersenyum lebar. “Kalian hebat sekali mendapatkan Petarung hebat ini. Di masa depan, dia mungkin akan mengobrak-abrik Surga dengan Tongkat Emasnya ha-ha-ha ...,” candanya.
Beast Kera Putih biasanya berkelompok, Zhao Jian curiga Beast yang satu ini sengaja menghadang para Beast Beruang agar anggota kelompoknya dapat melarikan diri yang berarti dia yang terkuat dalam kelompok itu.
Zhao Jian menyangkan tidak menangkap semua anggota kelompoknya sehingga Beast-nya semakin banyak.
“Daging Beast Rusa ini pasti harganya mahal bila dijual,” gumam Zhao Jian sembari mengeluarkan Kristal Beast dari mayat Beast Rusa.
Tidak semua Beast dijadikan peliharaannya karena beberapa Beast tidak berguna dalam pertarungan. Bila ia memelihara mereka, justru akan membebani keuangannya saja karena ia harus memberikan sumberdaya untuk meningkatkan kekuatan mereka.
Setelah Beast Kera siuman dari pingsannya, Zhao Jian langsung melakukan kontrak jiwa dan memasukkannya ke dalam Tas Sihir.
Huli Jing juga kembali ke dalam Tas Sihir dan Daji menggantikan dirinya menemani perjalanan Zhao Jian.
Daji duduk bersila di punggung Ayam Jago yang melompat sangat jauh ke arah depan. Tujuan mereka adalah Kota selanjutnya sembari menangkap Beast yang kebetulan berpas-pasan dengan mereka.
“Tuan Jian... aku mencium aroma herbal Spritual!” seru Gaoer yang berlari di sebelah Ayam Jago.
Zhao Jian tersenyum lebar, akhirnya ia mendapatkan herbal Spritual. “Mudah-mudah saja itu berusia ratusan tahun,” gumamnya, bila ia menyerap energi spiritual herbal Spritual itu mungkin ia akan mencapai Ranah Paramita Puncak. “Cepat ambil herbal Spritual itu!” serunya lagi.
Gaoer menganggukkan kepala dan melesat dengan cepat meninggalkan Ayam Jago.
“Kenapa Gaoer lama sekali? Apakah herbal Spritual itu dijaga oleh Beast dengan basis Kultivasi tinggi?” gumamnya karena biasanya selalu ada Beast yang menjaga herbal Spritual langka karena herbal Spritual itu mengeluarkan sedikit energi spiritual-nya dan Beast yang menjaganya itu akan menyerangnya sehingga terjadi simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan, herbal Spritual menjadi aman dan Beast itu dapat meningkatkan energi spiritual-nya.
“Ayam Jago... cepat bergerak ke arah Gaoer pergi!” seru Zhao Jian khawatir dengan keselamatan Gaoer.
“Asiapppp... Tuan!” sahut Ayam Jago melompat tinggi. “Eh, kenapa ada ledakan-ledakan beruntun di sana!” Dan itu adalah tempat yang dituju oleh Gaoer tadi.
Zhao Jian mengerutkan keningnya, dia menghunuskan Pedang Keadilan dan melakukan kuda-kuda beladiri.
“Eh? Perasaan saat aku ditangkap oleh Pria tua kemarin, tuan Jian tidak sekhawatir ini,” gumamnya merasa Zhao Jian pilih kasih karena Gaoer adalah Beast betina.
Dalam sekejap, Zhao Jian muncul di lokasi ledakan dan terkejut Gaoer sedang tersudut, bulu-bulu tubuhnya berdiri sembari menunjukkan taringnya.