
“Apa yang kalian lakukan nona muda?”
Pria tua Pemilik Penginapan Mawar mengerutkan keningnya saat melihat rombongan murid-murid Sekte Pedang Abadi. Dia juga sangat kesal karena Jiang Qinluan menendang pintu hingga hancur berkeping-keping.
Jiang Qinluan mengeluarkan Plakat Penegak Hukum Sekte Pedang Abadi dan dengan sombong berkata, “Kami mendapatkan laporan ada sepasang murid yang telah memasuki tempat terkutuk ini!”
Pemilik Penginapan langsung mengutuk Jiang Qinluan dalam benaknya, tetapi ekspresi wajahnya memancarkan senyuman. “Kami tidak pernah menerima pelanggan yang mengenakan Jubah Sekte Pedang Abadi, mungkin yang melapor itu salah lihat!” sanggahnya.
“Kami tidak percaya bualanmu,” sahut Jiang Qinluan mengerutkan keningnya, kemudian ia menatap Pelayan wanita di belakang Pemilik Penginapan yang tampak gugup. “Hei, kau! Katakan di kamar mana sepasang Pria dan wanita muda yang datang satu batang dupa yang lalu!” tanyanya dengan sudut bibir menyeringai jahat.
Pelayan wanita langsung bertambah gugup dan menatap Pemilik penginapan untuk melihat tanggapannya apakah ia harus menjawab pertanyaan murid Sekte Pedang Abadi itu.
“Kami akan menunjukkan di mana kamar sepasang Pemuda itu, tetapi kalian harus mengetuk pintu secara baik-baik agar mereka tidak tersinggung!” sahut Pemilik Penginapan terpaksa menyetujui keinginan Jiang Qinluan dari pada menjadi musuh Sekte Pedang Abadi yang merupakan salah satu dari Tiga Sekte terkuat di Kekaisaran Jiang tersebut.
“Baiklah... ikuti aku nona muda!” Pelayan wanita itu menuntun rombongan Jiang Qinluan menuju lantai Dua Penginapan Mawar, kemudian berhenti di kamar nomor Tiga Belas.
Pelayan wanita hendak mengetuk pintu kamar, tetapi tiba-tiba Jiang Qinluan menendang Pintu hingga Pintu itu terhempas keluar dari jendela yang ikut terlempar.
Zhao Jian yang sedang terbaring tanpa busana karena malas mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai langsung mengerutkan keningnya.
“Hei, ada apa ini?” tanya Zhao Jian.
“Kalian sudah gila ya? Memasuki kamar orang lain tanpa mengetuk lebih dulu!” gerutu Liu Ruxu terbangun dari tidurnya.
Liu Ruxu telah mengenakan pakaian tidak seperti Zhao Jian.
Wajah Jiang Qinluan dan Pelayan wanita memerah melihat kaki ketiga Zhao Jian sehingga keduanya berteriak histeris——sembari menutup wajah mereka dengan sepuluh jari yang sengaja di renggangkan agar tetap bisa melirik sesuatu yang belum pernah mereka lihat tersebut.
“Saudaraku kau memiliki Belut kualitas hibrida super!” Murid Pria gemuk mengacungkan jempol pada Zhao Jian.
“Kalian dari Penegak Hukum Sekte... apakah Nan Jing yang menyuruh kalian datang kemari?” selidik Zhao Jian sangat kesal sekali dan dengan terburu-buru mengenakan pakaiannya.
Jiang Qinluan menarik napas dalam-dalam dan berusaha melupakan sesuatu yang masih terngiang-ngiang di benaknya itu. “Bukan dia yang melapor, tetapi murid Pelataran Luar yang kebetulan lewat di depan Penginapan Mawar dan dia melihat kalian masuk ke tempat sarang perbuatan asusila ini!” sahutnya dengan tatapan sinis.
Penginapan Mawar biasanya tempat berlabuh wanita penghibur yang membawa pelanggannya, karena tempat ini adalah penginapan dengan biaya sewa paling murah di seluruh ibukota Kekaisaran Jiang.
“Seret mereka!” seru Jiang Qinluan tanpa menunggu penjelasan dari Zhao Jian. “Jangan coba-coba melawan, kalau kau merasa tidak bersalah maka buktikan saja saat persidangan nanti.”
Liu Ruxu menggenggam erat tangan Zhao Jian, bila mereka diseret ke Sekte Pedang Abadi maka itu akan menjadi tontonan serta bahan gunjingan murid-murid sekte. Walaupun nantinya mereka akan dibebaskan tetapi itu akan membuatnya sangat malu dan mungkin menjadi bahan candaan rekan-rekannya di Puncak Awan Putih.
Namun, anggota Penegak Hukum Sekte di belakang Jiang Qinluan tidak ada yang berani maju untuk menangkap Zhao Jian yang melepaskan Aura Ranah Saint miliknya.
“Nona muda Qinluan... Dia itu adalah anggota Penegak Hukum dari Puncak Penjinak Beast yang juga Hakim Kekaisaran,” bisik murid Pria berbadan gemuk yang langsung mengenali Zhao Jian karena dia hadir dalam pesta pernikahan Zhao Jian dengan Putri Mahkota Jiang Ruo.
“Memangnya Hukum di Sekte kita dibeda-bedakan berdasarkan jabatan mereka ataupun kasta mereka?” sahut Jiang Qinluan tidak senang mendengar jawaban bawahannya.
“Awalnya aku tidak ingin ikut campur terlalu dalam urusan Penegak Hukum Sekte dan hanya akan mengawasi Puncak Penjinak Beast saja. Namun, melihat kinerja grasak-grusuk kalian maka aku berubah pikiran, Aku akan melakukan pembersihan mulai sekarang!” sahut Zhao Jian melangkah mendekat ke arah Jiang Qinluan.
“Hei, kau belum diadili... jadi jangan coba-coba mengalihkan masalah yang kau hadapi!” sindir Jiang Qinluan dengan tatapan sinis.
Zhao Jian mencengkram kedua pipi Jiang Qinluan sehingga bibirnya monyong ke depan. “Mulutmu itu terlalu tajam dan tidak cocok menjadi anggota Penegak Hukum walaupun kau terkenal sangat tegas, tetapi kau sembarangan menerima tugas tanpa melakukan penyelidikan apakah laporan itu benar atau tidak!” sahut Zhao Jian.
“Lepaskan aku kurang ajar!” umpat Jiang Qinluan sembari mendorong serta memukul dada Zhao Jian tetapi itu tetap tak bisa melepaskan cengkraman tangan Zhao Jian dari pipinya.
“Jian gege... tidak boleh begitu, lepaskan saja dia!” sela Liu Ruxu mendekati keduanya. “Sebelum Jian gege menikah dengan nona Ruo, kami telah menikah lebih dulu!” Liu Ruxu mencoba meluruskan kesalahan pahaman Jiang Qinluan.
“Eh, benarkah?” Jiang Qinluan terkejut mendengarnya.
“Benar nona muda Qinluan... semua orang juga tahu bila menyelidiki indentitas suami Putri Mahkota Jiang Ruo dan kenapa nona muda tidak tahu? Bukankah nona muda juga anggota Klan Jiang?” sahut murid Pria Gemuk dengan ekspresi keheranan menatap Jiang Qinluan.
Jiang Qinluan tersenyum masam dan langsung mengutuk Pemimpin Penegak Hukum Sekte, Jiang San. “Sial! Baru kali ini aku merasa dipermalukan saat menjalankan tugas! Apakah Jiang San itu sengaja menjerumuskan aku?” pikirnya.
“Nah, sekarang siapa yang bertanggungjawab atas kasus ini, aku akan meminta pertanggungjawaban darinya!” Zhao Jian membuyarkan lamunan Jiang Qinluan.
“Aku hanya menjalankan tugas saja dan yang menyuruhku menjalankan tugas adalah Pemimpin Penegak Hukum Sekte, bila kau ingin meminta pertanggungjawaban maka datangi saja dia!” sahut Jiang Qinluan tersenyum masam. “Kami juga korban lho!” Dia berkilah.
“Korban bibirmu! Kugigit juga nanti bibir nakalmu itu!” gerutu Zhao Jian geram menatap Jiang Qinluan yang langsung melompat mundur ketakutan dengan gertakan Zhao Jian.
“Kalau aku Ranah Saint juga maka aku akan melawanmu dalam duel hidup mati!” gerutu Jiang Qinluan dalam hati mengutuk Zhao Jian.
“Sudahlah Jian gege... nona Qinluan hanya melakukan tugas saja karena ada yang melaporkan kita!” sela Liu Ruxu sembari tersenyum hangat sehingga semua anggota Penegak Hukum mengangguk senang. “Bagaimana kita ke Puncak Penjinak Beast saja, aku ingin melihat seperti apa Beast baru Jian gege itu!”
“Betul-betul... kalian ke sana saja!” sahut Jiang Qinluan agar urusannya dengan Zhao Jian segera berakhir.
Zhao Jian melirik Jiang Qinluan yang langsung melompat mundur sembari memasang kuda-kuda beladiri saking takutnya akan dimarahi olehnya.
Zhao Jian menghela napas panjang dan berjalan keluar dari Penginapan Mawar. "Jangan lupa bayar tagihan kami dan perbaiki juga pintu yang telah kalian rusak, jangan sampai aku mendengar laporan kalian mengancam Pemilik Penginapan—”
“Baik-baik... senior Jian!” sela Jiang Qinluan sebelum Zhao Jian selesai berbicara.
Pelayan wanita sangat senang mendengarnya, yang berarti gajinya tidak akan dipotong atas kerusakan yang terjadi malam ini.