Beasts Master

Beasts Master
Seleksi



“Saudari Ruo... apakah kamu tidak ingin ikut bersama kami melihat calon murid baru Pelataran dalam Sekte kita? Kabarnya calon suamimu juga diterima di Sekte Pedang Abadi, loh!” kata teman baik Jiang Ruo di Puncak Awan Putih.


“Ya, kabarnya dia adalah Beast Master yang sangat hebat dan dapat mengalahkan Lu Xiaoran, padahal Lu Xiaoran itu dapat mengalahkan musuh dengan basis kultivasi satu tingkat di atasnya. Basis Kultivasi Lu Xiaoran adalah Ranah Tianzun yang berarti dia dapat mengalahkan Ranah Saint termasuk Penatua Su Bimbing. Zhao Jian itu hebat juga ya... padahal basis kultivasi-nya cuma Ranah Jie Zhu dan disaat pertarungan naik ke Ranah Tianzun!”


Mereka tidak tahu kalau basis kultivasi Lu Xiaoran sebenarnya sudah turun sebelum mendatangi Gui Dao Kerajaan Zhao—akibat gagal melaksanakan misi dari Sistem Surgawi.


Jiang Ruo menghela napas panjang tanpa menatap teman-temannya itu. Dia sangat sedih Lu Xiaoran meninggalkan dirinya, Pemuda dengan Pesona yang dapat membuat hati wanita meleleh itu adalah laki-laki satu-satunya yang membuatnya jatuh cinta. Namun, Lu Xiaoran malah menghilang tanpa meninggalkan sepatah katapun untuknya.


“Sebaiknya kita biarkan dia sendirian saja, dia masih butuh waktu untuk menenangkan hatinya!” bisik rekan Jiang Ruo pada wanita cantik di sebelahnya.


“Ya, aku juga pasti sangat sedih bila tunangan setampan Lu Xiaoran menghilang tanpa mengajakku. Padahal aku pasti mau dibawa kemanapun olehnya asalkan selalu ada di sisinya!”


“Kaisar Jiang Long juga terlalu keras kepala, masa ia menjodohkan saudari Ruo dengan Pria yang sudah beristri dan belum pernah ia temui! Jangan-jangan Zhao Jian itu adalah Pemuda dengan perut buncit dengan wajah standar saja, karena biasanya Hakim Pengadilan seperti itu!”


Jiang Ruo mengerutkan keningnya mendengar bisik-bisik dari sahabatnya itu. Walaupun ayahnya memaksanya menikah dengan Pria lain untuk menutup aib yang ditinggalkan oleh Lu Xiaoran, ayahnya pasti tidak mungkin akan menikahkannya dengan Pria seperti yang mereka bayangkan. Pastilah Pria itu cukup tampan juga walaupun masih jauh dari ketampanan Lu Xiaoran.


Dua gadis cantik murid Puncak Awan Putih sahabat Jiang Ruo itu kemudian terbang menggunakan Pedang mereka menuju lereng Puncak Gunung Pedang.


...***...


Beast Elang milik Penatua Duang Siliang mendarat di halaman Paviliun yang ada di lereng Puncak Gunung Pedang.


“Selamat datang di Sekte Pedang Abadi dan kita saat ini berada di Pelataran Luar. Puncak-puncak Gunung itu adalah Pelataran dalam!” Duan Siliang menunjuk ke arah Gunung yang menjulang tinggi hingga menyentuh awan di depan mereka dan ada Tujuh Gunung di Sekte Pedang yang mewakili Tujuh tempat Pelataran Dalam.


Zhao Jian tercengang melihatnya, Gunung itu adalah Gunung Batu tanpa ada tanamannya, akan tetapi di puncaknya tampak sangat rimbun dan terlihat bangunan megah menjulang tinggi di sana.


“Hei, jangan seperti orang Desa yang tidak pernah melihat luasnya Dunia! Cepat berbaur dengan mereka!” seru Duan Siliang sembari terbang dengan Beast Elangnya menuju Puncak Penjinak Beast.


“Ooh, ternyata di sana adalah tempat paling lemah di sekte ini! Usahakan jangan sampai masuk ke sana, kalau sudah tak ada pilihan lebih baik kita memasuki Puncak Gunung Emas saja!” seru Zhao Jian pada rekan-rekannya dari Klan Zhao.


“Ya, tempat itu tampak sangat suram, bahkan bangunannya saja tidak ada!” sahut Liu Ruxu yang berharap diterima di Puncak Gunung Pedang atau Puncak Awan Putih.


Pemuda dengan puluhan tompel berbagai ukuran diwajahnya langsung tersenyum sinis menatap rombongan Zhao Jian. “Lihatlah ini... budak-budak dari Gui Dao kecil mencoba memasuki Sekte Pedang Abadi ha-ha-ha... apa mereka mau jadi pelayan kita, ya?” ejeknya.


Murid-murid lain langsung menoleh ke arah Zhao Jian dan menertawakan mereka.


“Jangan terpancing dengan ejekan mereka!” bisik Zhao Jian. “Biarkan aku yang mengatasi mereka!” katanya lagi sembari berjalan mendekati Pemuda yang bersikap arogan itu.


Sudut bibir Zhao Jian memancarkan seringai tipis, sehingga Pemuda itu terkejut begitu juga dengan murid-murid lainnya, karena sikapnya itu seperti sedang mengirim pesan tersirat bahwa ia tidak takut pada mereka.


“Siapa yang kalian katakan budak? Seharusnya kalian bersujud di hadapanku, apa kalian tidak tahu siapa aku?” Zhao Jian menepuk pundak Pemuda itu—sehingga ia langsung tertekan hingga terduduk di lantai, karena basis Kultivasi-nya hanya Ranah Spirit saja—sementara Zhao Jian adalah Ranah Tianzun yang sudah setara dengan murid-murid senior di Pelataran Dalam.


Murid-murid lain langsung menjauh memberikan ruang kosong disekitar Zhao Jian dan Pemuda arogan yang kini berwajah pucat pasi tersebut.


Sebelum Zhao Jian mengatakan siapa dirinya, Pemuda itu berkata, “Kau berani menyakitiku? Apakah kamu tahu Kakak Pertamaku adalah murid Puncak Gunung Pedang, kalau aku mengadu padanya maka habislah kamu!” ancamnya agar Zhao Jian melepaskan tangannya dari pundaknya.


Namun, Zhao Jian malah tersenyum lebar dan berkata, “Sudah kukatakan kalian harus menaruh hormat padaku! Bukankah identitasku telah tersebar ke penjuru negeri Kekaisaran Jiang? Aku adalah calon suami Putri Mahkota, Jiang Ruo!”


Semua murid-murid itu terkejut mendengarnya, karena yang mereka tahu calon suami Jiang Ruo itu diangkat oleh Kaisar menjadi Hakim muda Pengadilan Kekaisaran. Mereka tidak menyangka Pemuda tampan di depan mereka ini ternyata adalah Hakim muda itu.


Liu Ruxu mengerutkan keningnya. “Kenapa aku merasa kesal mendengarnya, ya?” gerutunya.


Liu Hao tersenyum masam karena ia juga tak menyangka cara pamungkas yang dikatakan oleh Zhao Jian ternyata hanya membanggakan statusnya sebagai calon suami Putri Mahkota Kekaisaran Jiang.


“Tolong jangan marah saudari sepupu! Aku yakin dengan cara ini tidak akan ada yang berani mem-bully kita kedepannya, sehingga kita bisa berlatih dengan nyaman!” Liu Hao membujuk Liu Ruxu yang terlihat sangat kesal pada suaminya itu.


Zhao Jian menoleh ke belakang dan mengedipkan mata sembari mengacungkan jempol, seolah-olah mengatakan aku berhasil mengatasi mereka.


Namun, Liu Ruxu malah mendengus dan melipat tangannya di dada—serta membuang muka ke arah lain.


“Eh, apakah aku melakukan hal yang salah? Padahal aku sudah melakukan hal yang terbaik tanpa menggunakan Kitab Keadilan menghukum parasit pengganggu ini!” gumam Zhao Jian bingung.


Dua wanita cantik dengan basis Kultivasi Ranah Jie Zhu tersenyum menatap ke arah Zhao Jian. Keduanya melayang menggunakan Pedang Lima Puluh tombak dari permukaan tanah.


Bukan hanya mereka saja yang melayang di udara, beberapa murid-murid senior dari Pelataran Dalam juga ikut memperhatikan calon-calon murid Pelataran Dalam yang baru itu.


Mereka datang untuk melihat talenta mereka, apakah cocok bergabung dengan kelompok mereka, karena murid-murid Pelataran dalam itu secara tidak resmi memiliki kelompok-kelompok sendiri.