Beasts Master

Beasts Master
Kompetisi Perburuan Hutan Tengah XVIII



Kompetisi Perburuan Hutan Tengah telah berakhir, kelompok-kelompok murid-murid dari berbagai Sekte mulai keluar dari hutan tengah.


Para Patriark maupun Penatua mulai menebak-nebak siapa yang akan menjadi Juara tahun ini.


“Aku rasa tahun ini tetap Hua Yin yang akan menjadi Juara satu!” seru Patriark Sekte Tianxin, “selamat Patriark Hua... cucumu adalah jenius beladiri terhebat yang pernah ada di Kekaisaran Jiang.” Dian sengaja memuji kehebatan Hua Yin dihadapan Pemimpin berbagai Sekte tersebut.


Namun, Patriark Sekte Gunung Hua heran kenapa Patriark Sekte Pedang Abadi tidak tersinggung seperti tahun-tahun sebelumnya, seharusnya ia akan berteriak keras dan mengatakan Bai Lie akan melampaui kehebatan Hua Yin.


Patriark Sekte Tianxin yang bekerjasama dengan Sekte Gunung Hua menyingkirkan murid-murid Sekte Pedang Abadi tersenyum tipis ke arah Patriark Sekte Pedang Abadi.


“Sepertinya Patriark Yan tampak percaya diri kalau Bai Lie dapat menyaingi Hua Yin?” selidiknya penasaran kenapa Xiao Yan masih bersikap tenang.


Patriark Xiao Yan mengelus-elus janggut putihnya dan sudut bibirnya memancarkan senyuman tipis. “Tentu saja murid-murid Sekte Pedang Abadi kami akan memenangkan kompetisi ini. Apakah Patriark Tianxin tidak ingat, kami tidak hanya memiliki Bai Lie saja. Kini kami memiliki Jiang Ruo dan Zhao Jian!”


Hanya menyebut dua nama itu saja, seluruh Patriark Sekte yang ada di sana langsung terkejut dan beberapa diantara mereka langsung berspekulasi Jiang Ruo dan Zhao Jian mungkin akan menjadi kuda hitam yang patut diperhitungkan.


“He-he-he... untuk tuan Putri Jiang Ruo mungkin dapat menyaingi Hua Yin karena kejeniusannya sudah terlihat sejak kecil. Namun, untuk nama yang terakhir aku rasa dia tidak pantas disamakan dengan kejeniusan Hua Yin!” sahut Patriark Sekte Tianxin yang sangat yakin cucunya dan cucu Patriark Hua telah menyingkirkan Zhao Jian dan murid-murid Pelataran Dalam Sekte Pedang Abadi lainnya.


Xiao Yan menatap Patriark Sekte Tianxin dengan seksama, ia merasa ada yang aneh dengan ucapannya itu.


Dia berpikir mungkinkah mereka menyuruh murid-murid mereka untuk menyingkirkan Zhao Jia.


Xiao Yan menghela napas panjang, dia merasa kasihan dengan murid-murid itu karena yang dia tahu Zhao Jian sangat tegas dalam membuat keputusan. Dia takut mereka akan dihukum mati, karena walaupun Kitab Keadilan memvonis ringan dengan tambahan hukuman cambuk, maka saat dihukum cambuk itu Zhao Jian jutsru menggunakan energi spiritual yang sangat besar agar terpidana tersebut mati atau terluka parah.


“Itu rombongan tuan Putri Jiang Ruo... sepertinya mereka baik-baik saja dan ekspresi wajah mereka tampak cerah, mungkinkah tangkapan mereka sangat memuaskan?” seru Patriark dari Sekte kecil.


Patriark Sekte Tianxin mulai gelisah, kenapa cucunya tidak muncul? Padahal mereka berburu di bagian tepi Hutan Tengah karena mereka hanya mengincar murid-murid Sekte Pedang Abadi saja.


“Itu adalah Bai Lie! Ha-ha-ha... wajahnya tampak murung, sepertinya tangkapannya tidak memuaskan, Penatua Yan!” Patriark Sekte Gunung Hua menyindir Xiao Yan yang tetap bersikap santai dan mengelus-elus janggutnya yang putih.


Tak lama berselang, Hua Yin muncul dengan kondisi terluka begitu juga dengan rekan-rekannya bahkan Tang San harus dipapah karena dadanya terluka parah.


Patriark Sekte Gunung Hua tampak terkejut, tetapi ia yakin mereka telah berhasil mengalahkan Zhao Jian walaupun harus terluka begitu. Namun, ia juga heran kenapa mereka malah terlihat murung, seolah-olah seperti pihak yang kalah dalam sebuah pertarungan.


“He-he-he... tokoh utama kompetisi Perburuan Hutan Tengah ini akhir muncul juga!” Patriark Xiao Yan tertawa bangga karena Zhao Jian muncul dengan basis Kultivasi meningkat ke Ranah Paramita.


Patriark Sekte Tianxin tersungkur dengan tubuh gemetar, karena Zhao Jian muncul maka cucunya dan murid-murid Sekte Tianxin lainnya berarti sudah mati.


Ini tak adil bagi Sekte Tianxin, padahal Sekte Gunung Hua menjamin Hua Yin pasti akan menyingkirkan Zhao Jian dan murid-murid Sektenya hanya perlu mengeliminasi murid-murid Sekte Pedang Abadi yang berburu di bagian tepi hutan tengah.


“Patriark Hua... kenapa Zhao—” Patriark Sekte Tianxin berteriak keras.


Namun, Patriark Sekte Gunung Hua langsung menyerangnya untuk membungkamnya dengan menebas lehernya menggunakan Niat Pedang. Dia kemudian mencibir, “Kau berisik sekali! Bukankah sudah biasa ada yang terbunuh selama kompetisi berlangsung.”


Patriark Xiao Yan menatap Patriark Sekte Gunung Hua dengan sinis. “Apakah kamu sudah tidak mematuhi Hukum Kekaisaran?”


“Ini bukan urusanmu! Apakah kamu akan bertindak sebagai Hakim Penegak Keadilan setelah menjadi tangan kanan Kaisar?” sahut Patriark Sekte Gunung Hua menatap tajam Patriark Xiao Yan, energi spiritual Ranah Paramita Puncak membuat murid-murid yang berkumpul di lapangan tertekan.


Zhao Jian menatap ke arah sumber aura Ranah Paramita itu sembari melepas Ranah Paramita miliknya untuk meredam tekanan itu.


“Apakah tua Bangka itu marah karena cucunya tidak berhasil membunuhku?” gumamnya mengerutkan keningnya. “Sepertinya kebencian mereka padaku semakin besar saja! Hadehhh... susah sekali menjadi orang baik!” gumamnya lagi sembari menggelengkan kepala.


Hakim Agung yang menjadi perwakilan istana Kekaisaran berdehem untuk menenangkan situasi, dan Patriark Sekte Gunung Hua langsung menarik kembali Ranah Paramitanya sehingga semua murid-murid yang ada di lapangan bernapas lega karena merasa tidak tertekan lagi.


“Kirim beberapa Penatua Ranah Paramita ke dalam hutan tengah untuk mencari apakah masih ada murid yang terjebak di sana dan sisanya mulai menghitung jumlah buruan mereka!” seru Hakim Agung, karena bila ia mengaktifkan Perisai yang melindungi Hutan Tengah maka orang yang terjebak di sana hanya akan bisa keluar di Kompetisi Perburuan Hutan Tengah selanjutnya, itupun bila mereka tidak diterkam oleh Beast.


“Kalian pergilah!” seru Patriark Xiao Yan pada Penatua Sekte Pedang Abadi yang ikut bersamanya.


Beberapa Penatua kemudian terbang ke dalam hutan tengah, sebagian lagi ikut menghitung jumlah buruan murid-murid yang ikut berkompetisi tersebut.


Patriark Sekte Gunung Hua memperhatikan kelompok yang dipimpin oleh cucunya, walaupun mereka tidak dapat mengalahkan Zhao Jian, dia yakin hasil buruan mereka pasti lebih tinggi dari murid-murid Sekte Pedang Abadi maupun Sekte lainnya.


Hua Yin menarik Tas Sihirnya yang dikaitkan di pinggangnya. Dia mengalirkan energi spiritual untuk memilih herbal spritual bermutu tinggi dan juga Kristal Beast Ranah Saint yang mereka taklukkan sebelumnya.


Namun, ekspresi wajahnya tampak mengkerut masam, rekan-rekannya juga memiliki ekspresi wajah yang sama sehingga ia langsung menduga kalau Zhao Jian telah mengambil buruan mereka.


Hua Yin menoleh ke arah Zhao yang langsung menyeringai lebar dan mengeluarkan Puluhan Kristal Beast Ranah Saint.


“Itu adalah Kristal Beast Badak Hitam dan Beast Kalajengking Biru milikku?” gumam Hua Yin menggertak kan giginya dan mengepal tangannya. “Sial! Ini semua gara-gara Kakek, kalau aku tidak berkompetisi secara adil maka aku akan tetap menjadi nomor satu dalam kompetisi ini!” gerutunya kesal.