Beasts Master

Beasts Master
Sidang Jalanan



“Tangkap dia! Aku akan melakukan persidangan padanya!” seru Zhao Jian sehingga semua Petugas Pengadilan terkejut mendengarnya. “Kenapa kalian malah bingung? Tangkap dia!” katanya lagi karena mereka malah saling berpandangan dan ragu-ragu menuruti perintahnya.


Petugas Pengadilan wanita yang menjadi Pimpinan mereka segera berdiri dan mendekati Jing Han, sehingga Petugas Pengadilan lainnya segera mengepung Komandan militer Kekaisaran Jiang tersebut.


Jing Han mengerutkan keningnya dan menatap tajam ke arah para Petugas Pengadilan. “Apa kalian sudah gila menuruti perintahnya? Aku ini adalah Komandan militer dan kalian hanya Petugas Pengadilan sipil saja, hanya Pengadilan Militer saja yang bisa menahanku!” bentak Jing Han.


Namun, mereka tetap mengelilingi Jing Han dan Petugas Pengadilan wanita berkata, “Hakim Jian memegang Token Emas yang berarti kedudukannya setara dengan Hakim Agung atau para menteri, dan mendapatkan keleluasaan dari Kaisar membuat sebuah keputusan!”


Ekspresi wajah Jing Han makin muram karena tidak menyangka hanya gara-gara kasus sepele akan dipermalukan di depan umum oleh Hakim pemula.


Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. “Untuk saat ini sebaiknya aku menyerah saja, aku yakin Jenderal Jing Mu akan membebaskanku karena beliau memiliki teman yang menjadi Hakim senior di Pengadilan!” gumamnya sembari membiarkan Petugas Pengadilan wanita memborgol tangannya.


Petugas Pengadilan ingin membawa Jing Han ke gedung Pengadilan, tetapi Zhao Jian menghentikan mereka sehingga mereka tampak kebingungan dan berpikir keributan apa lagi yang akan dibuat oleh Hakim termuda tersebut.


Sebuah Kitab muncul di tangan Zhao Jian dan ketika ia membuka Kitab itu, ternyata hanya ada lembaran kosong saja.


Zhao Jian menarik belati yang terselip di pinggangnya dan menggores jari tangan Komandan Jing Han—sehingga setetes darah menetes ke Kitab Keadilan.


Satu persatu kejahatan yang dilakukan oleh Jing Han selama hidupnya pun tertulis di halaman kosong Kitab Keadilan.


Jing Han terkejut melihatnya, begitu juga dengan Petugas Pengadilan dan para penduduk. Kejahatan yang dilakukan oleh Jing Han sangat banyak sekali; Pembunuhan rekan satu sekte-nya saat masih menjadi murid Sekte Pedang Abadi, Pemerkosaan anak petani miskin, korupsi, pemalakan dan Kitab Keadilan terus mencatat kejahatan-kejahatan yang ia lakukan.


Vonis yang dijatuhkan oleh Kitab Keadilan juga sangat banyak, mulai Hukuman Penjara selama Dua Puluh Tahun, Sepuluh Tahun, Cambukan Seribu Kali, Hukuman Mati, Hukuman Mati lagi, Penjara Satu Tahun, Hukuman Mati ....


“Ini... ini pasti rekayasa kasus olehnya, karena ia ingin terlihat hebat! Mana mungkin aku melakukan perbuatan keji begitu! Aku akan melakukan banding dan akan mengadukanmu pada Kaisar Jiang Long!” bentak Jing Han protes pada Zhao Jian.


Namun, dalam satu kedipan mata Zhao Jian telah menghunus Pedang Keadilan dan menebas leher Komandan Jing Han, sehingga kepalanya menggelinding di jalanan.


Banyak penduduk yang menjerit histeris karena terkejut melihat adegan itu. Dalam sejarah Kekaisaran Jiang mungkin inilah pertama kali ada sebuah sidang dilakukan di jalanan dan yang menjadi algojo-nya juga sang Hakim tersebut.


Zhao Jian telah mempelajari cara membuka Segel Kantung Penyimpanan dari Yan Mo, sehingga dengan mudah ia menghancurkan Segel Kantung Penyimpanan itu dan tercengang melihat isinya.


“Benar-benar koruptor yang kaya raya!” gumam Zhao Jian tercengang melihat Kepingan Emas, Perak dan Perunggu di dalamnya.


Zhao Jian mengambil Lima keping Emas dan melempar Kantung penyimpanan milik Jing Han itu pada Petugas Pengadilan wanita. “Jadikan ini sebagai barang bukti dan sampai jumlahnya berkurang atau ....”


“Tentu saja kami tidak akan berani melenyapkan barang bukti, Hakim Jian!” sahut Petugas Pengadilan wanita sembari menangkap Kantung Penyimpanan itu.


“Aku rasa ini sudah cukup untuk menggantikan biaya kerusakan gerobak bibi!” Zhao Jian menyerahkan Lima Keping Emas pada wanita tua itu.


Dengan tangan gemetar, wanita tua itu menerima kepingan Emas yang diberikan oleh Zhao Jian. “Sebenarnya cukup satu Keping Emas saja Yang Mulai Hakim untuk kompensasi kerusakan gerobakku!” kata wanita tua itu.


Zhao Jian tersenyum cerah. “Tenang saja bibi, anggap saja itu kompensasi atas luka yang ada ditangan Bibi!”


Wanita tua itu kemudian tersenyum, ketakutan di wajahnya menghilang. Padahal awalnya ia sangat takut pada Zhao Jian—karena dengan mudahnya membunuh seorang Komandan militer. Namun, kini ekspresi wajahnya terlihat seperti Pemuda baik-baik yang tidak pernah melakukan kesalahan.


Mu Lan segera meninggalkan kerumunan itu dan tersenyum cerah. “Jiang Ruo pasti muntah darah bila mengetahui kalau calon suaminya ternyata adalah Pahlawan kesiangan, tidak seperti Lu Xiaoran yang selalu fokus berkultivasi dan menebar pesona ketampanannya!” gumamnya.


“Paman hebat sekali!” Gadis kecil berusia delapan tahun dengan rambut dikepang dua tiba-tiba memegang tangan Zhao Jian, sehingga ibu gadis kecil itu hampir jatuh pingsan karena Putrinya berani memegang pejabat negara. Bila hal seperti ini terjadi pada pejabat lain—maka gadis kecil itu akan ditendang oleh bawahan pejabat tersebut. Namun, Zhao Jian malah tersenyum pada gadis kecil itu.


“Ha-ha-ha... aku merasa jadi bangga gadis kecil! Kalau ada orang yang menyakitimu maka adukan saja padaku agar Hakim ini mengadili mereka! Namun, kamu juga tidak boleh nakal ya? Karena bila kamu nakal maka akan ditangkap juga!” sahut Zhao Jian.


Ibu gadis kecil itu bernapas lega karena Zhao Jian tidak marah, sehingga para penduduk segera mengerumuninya dan beberapa diantara mereka mengadukan tentang pencopet, preman yang suka memalak mereka dan beberapa pejabat yang melakukan pemungutan upeti sangat tinggi.


Zhao Jian dengan sabar mencatat keluhan mereka, sehingga para Petugas Pengadilan tercengang melihat sikapnya itu. Dia terlihat seperti sedang melakukan pencitraan saja, akan tetapi terlihat tulus.