
“Sepertinya murid-murid Pelataran Dalam sibuk melakukan kultivasi tertutup,” gumam Zhao Jian saat berjalan di lembah atau bagian Pelataran Luar Sekte Pedang Abadi.
Namun, tiba-tiba Zhao Jian terkejut melihat wanita berusia empat puluhan tahun sedang menangis tersedu-sedu di depan Paviliun Misi sembari bertekuk lutut.
“Maafkan kami nyonya... saat ini Sekte Pedang Abadi tidak bisa mengirim Ranah Saint untuk melakukan misi karena mereka sedang melakukan meditasi tertutup dan sisanya sedang berjaga-jaga untuk memastikan proses kultivasi tertutup Patriark Sekte berjalan lancar!” kata murid wanita yang bertugas di Paviliun Misi saat ini.
“Tolonglah... kirim seseorang! Mungkin Putriku akan dibunuh oleh mereka, bukan hanya Putriku saja semua wanita di desa telah dibawa oleh mereka!” sahut Wanita itu memohon sembari bersujud di kaki murid wanita itu.
“Ah, tolong mengerti lah keadaan Sekte kami saat ini, kenapa nyonya tidak meminta bantuan militer atau Klan terdekat saja?” Murid wanita itu kebingungan bagaimana cara membujuk wanita itu agar berhenti bersujud di hadapannya.
Zhao Jian segera mendekat setelah mendengar pembicaraan mereka, sebagai Hakim Kekaisaran dan Penegak Keadilan——hati nuraninya langsung tergerak untuk membantu wanita itu.
Melihat murid Pelataran Dalam mendekat ke halaman Paviliun Misi, murid wanita itu menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat.
“Aku akan menerima misi itu karena aku adalah Ranah Saint!” seru Zhao Jian sembari menangkupkan tinju juga menyapa murid wanita itu.
Murid wanita itu melihat lambang Puncak Penjinak Beast di jubah yang dikenakan oleh Zhao Jian, yang berarti dia adalah Pemimpin sementara Puncak itu karena semua Penatua di sana sedang melakukan meditasi tertutup.
Zhao Jian tersenyum mendengarnya dan berkata, “Junior seperti tidak tahu Puncak Penjinak Beast saja, bukankah selama ini kami itu seperti anak ayam yang kehilangan induknya... alias belajar sendiri-sendiri saja sementara para Penatua hanya duduk manis di gubuk mereka makanya Puncak Penjinak Beast menjadi yang terlemah dan hampir ditutup oleh Sekte, untung saja aku dengan sukarela mau menjadi murid Puncak Penjinak Beast sehingga Patriark Xiao Yan tidak jadi menutupnya.”
Murid wanita mengangguk pelan dan dia merasa jawaban Zhao Jian ada benarnya walaupun bagian terakhir ucapannya itu meragukan sekali, karena semua murid-murid melihat kalau Zhao Jian hampir menangis saat diculik oleh Penatua Xiao Shi saat seleksi penerimaan murid baru saat itu.
Wanita berusia empat puluhan tahun itu menyeka air matanya dan segera bergegas mendekati Zhao Jian, kemudian menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa terimakasih karena Zhao Jian mau membantunya.
“Namun, nyonya ini hanya memiliki satu Keping Emas saja sebagai imbalan dari misi itu, kalau dikonversi ke dalam Poin Prestasi maka senior Jian hanya mendapat 50 Poin Prestasi saja!” seru murid wanita itu——yang membuat Zhao Jian terbatuk karena terkejut mendengarnya, tetapi ia langsung tersenyum sembari menganggukkan kepala tanda ia tidak mempermasalahkan hadiah dari misi itu.
“Kita harus bergegas ke desa Pakis Hitam, aku takut kita terlambat menolong Chi‘er karena para bandit itu biasanya akan membunuh gadis-gadis yang mereka culik setelah bosan menikmatinya,” kata wanita itu sembari menarik lengan Zhao Jian.
“Para bandit sialan itu! Aku akan melenyapkan mereka hingga ke akar-akarnya!” Zhao Jian geram mendengarnya, karena ia sangat membenci para pemerkosa atau orang-orang yang menindas yang lemah. “Bibi... naiklah ke atas punggung Beast Ayam Surgawi ini, dia akan membawa kita dengan cepat ke Desa Pakis Hitam!” katanya lagi sembari melompat ke punggung Ayam Jago yang langsung membungkukkan tubuhnya.
...***...
Update sikit saja hari ini, babang tampan kurang sehat 😁