Beasts Master

Beasts Master
Kota Canglang



Walikota Canglang mengerutkan keningnya saat membaca pesan yang dibawa burung merpati tanpa tercatut nama pengirimannya. Namun, ia menduga pesan ini berasal dari Pengadilan di Ibukota Kerajaan Zhao.


“Sial! Kenapa Hakim-Hakim tua itu malah mengutus Hakim muda ke sini dan ia juga Hakim paling anti suap lagi!” gerutu Walikota Canglang menampar meja dengan keras sehingga meja tersebut terbelah dua.


Komandan militer Kota Canglang dan Hakim tunggal yang ada di Kota Canglang terkejut dengan tindakan sumber Kantung uang mereka tersebut.


“Apa yang terjadi tuan Huang Taiji?” Zhao Qihan, Hakim satu-satunya di Pengadilan Kota Canglang bertanya dengan ekspresi wajah masam, karena ia tersinggung dengan tindakan Huang Taiji yang memukul meja—tindakannya itu tidak menghormati dirinya sebagai Hakim.


Huang Taiji tidak menjawab pertanyaan Zhao Qihan, ia justru menyerahkan gulungan kertas yang dibawa merpati putih.


Zhao Qihan dan Zhao Meng, Komandan militer Kota Canglang langsung mengerutkan kening. Keduanya tidak menyangka ada tuan muda dari Klan Zhao mereka tertarik menjadi Hakim dan malah akan mengusut tindakan korupsi, pemerasan serta tindakan kriminal lainnya yang mereka lakukan di Kota Canglang selama ini.


“Apa yang akan kita lakukan? Dia pasti dengan mudah menemukan kejanggalan dalam biaya pengeluaran anggaran Kota Canglang—karena Aku tidak pernah menulis laporan keuangan!” gerutu Huang Taiji.


Namun, Zhao Meng malah tersenyum mendengar ucapannya dan mengedipkan mata pada Zhao Qihan—yang langsung berdiri dan mendekati Huang Taiji dengan seringai tipis terpancar dari sudut bibirnya.


Huang Taiji merasa ada yang aneh dengan sikap mereka. “Kenapa Hakim Qihan menyeringai, apakah Anda telah menemukan solusi atas permasalahan kita ini?”


“Ya, permasalahan ini sebenarnya sangat mudah diatasi karena kamu tidak pernah menyimpan bukti-bukti keterlibatan kami dalam kejahatan yang kamu lakukan!” sahut Zhao Qihan.


Huang Taiji terkejut mendengarnya, “Kalian!”


Dia ingin mundur dan menghunus Pedangnya, tapi sudah terlambat—Pisau milik Zhao Qihan lebih dulu tertancap di dadanya dan Zhao Meng menjentikkan jarinya—kemudian Api kecil muncul di ujung jarinya.


“Terbakar lah saudara Taiji dan jangan khawatir, kami akan mengangkat Putramu sebagai boneka penghasil uang kami selanjutnya ha-ha-ha ....” Zhao Meng tertawa terkekeh-kekeh.


“Kita harus pergi lebih dulu dan mengancam istri serta Putra-putri Huang Taiji agar tidak mengadukan kejadian ini. Kita harus melemparkan kasus kematiannya pada Sekte Underworld!” kata Zhao Qihan dan Zhao Meng langsung mengangguk setuju.


Zhao Qihan memerintahkan Petugas Pengadilan bawahannya untuk melenyapkan berkas-berkas perkara yang tidak pernah mereka selidiki. Dia takut Zhao Jian juga akan menyelidikinya, karena Otoritas Hakim Kerajaan lebih berkuasa dari pada Hakim di Pengadilan cabang.


“Hakim Qihan! Hakim Jian telah tiba!” Petugas Pengadilan cabang berteriak di depan ruangannya.


Zhao Qihan mengerutkan keningnya, kedatangannya Zhao Jian terlalu cepat—padahal ia menduga mereka akan tiba besok. “Apa ia berangkat kemarin?” gumamnya cemas.


Dia menghela nafas panjang dan segera keluar menyambut kedatangan rombongan Zhao Jian.


Puluhan Petugas Pengadilan cabang Kota Canglang berbaris rapi di depan gedung Pengadilan sembari menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat pada Zhao Jian.


“Selamat datang Hakim Jian di Kota Canglang!” sapa mereka.


Namun, Zhao Jian mengerutkan keningnya, ia heran kenapa Petugas Pengadilan malah berkumpul di sini—seharusnya mereka bekerja menyelidiki kasus kejahatan, seperti kasus di Desa tadi yang menjadi korban dari tindakan kejahatan Sekte Underworld.


Zhao Jian langsung menduga, kalau mereka tidak becus dalam bekerja dan harus diselidiki, mungkin mereka malah terlibat dalam berbagai kasus kejahatan.


“Paman Chen, apakah kamu menyadari ada yang tidak beres dengan mereka?” Zhao Jian berkata melalui suara telepati sembari berjalan ke arah Zhao Qihan yang tersenyum cerah menyambut kedatangannya.


“Betul, sepertinya mereka makan gaji buta karena merasa di Kota terpencil ini tidak akan ada pihak Kerajaan Zhao yang akan mengawasi kinerja mereka!” sahut Zhao Chen.


“Kalau begitu tolong selidiki mereka, sedangkan aku dan Bibi Que yang akan menyelidiki Walikota Canglang!” kata Zhao Jian lagi.


Zhao Qihan segera menangkupkan tinju dan berkata, “Hakim Jian pasti lelah... kami telah menyiapkan ruangan untuk istirahat kalian dan akan membantu dalam penyelidikan kasus yang sedang Hakim Jian tangani!”


“Terimakasih, Hakim Qihan!” Zhao Jian hanya berkata tiga patah kata itu dan berjalan melewatinya tanpa menunjukkan rasa hormat, sehingga Zhao Qihan mencibir marah—ekspresi wajahnya menjadi masam. Dia merasa tindakan Zhao Jian sungguh keterlaluan, padahal ia hanya Hakim pemula—yang seharusnya menghormati Hakim yang lebih senior.