
Zhao Jian merasa ia harus membeli Pil dan sumberdaya untuk meningkatkan basis Kultivasi-nya, karena ia yakin para entitas kuat di Kekaisaran Jiang ini jauh lebih gila dari Kerajaan Zhao. Mereka bahkan berani mengancam dirinya yang merupakan menantu orang terkuat dan juga Kaisar negeri ini.
Namun, ia masih memiliki masalah pada keuangan karena gajinya baru cair bulan depan dan saat ini ia hanya memiliki Lima Keping Emas saja, sisa tabungannya diambil alih istri tercintanya.
“Ah, sulit juga menjadi orang jujur ini!” gumam Zhao Jian karena ia tidak memiliki pemasukan lain selain dari Klan Zhao dan gaji bulanan sebagai Hakim Kekaisaran. “Ah, aku lupa kalau menjalankan misi dari Sekte maka akan diberikan hadiah bila berhasil menuntaskan misi itu!” Zhao Jian tersenyum lebar.
Sore harinya, para Petugas Pengadilan yang diutus oleh Zhao Jian menuntaskan tugas yang ia berikan telah kembali dengan membawa Puluhan terduga pelaku kejahatan. Dia langsung melakukan sidang kilat secara normal tanpa menggunakan Kitab Keadilan seperti yang diinginkan oleh Hakim Jiang Feilong, akan tetapi ia tetap membuat para Hakim senior tak nyaman karena ia memberikan Vonis maksimum pada para tersangka itu.
Menjelang malam Zhao Jian kembali ke Sekte Pedang Abadi dan ia tercengang melihat suasana Ibukota Kekaisaran saat malam hari ternyata masih seramai siang hari.
Lentera-lentera menerangi setiap sudut jalan dan bangunan, yang paling menarik perhatiannya adalah banyak gadis-gadis cantik yang membujuk para pejalan kaki agar mampir ke lapak jualan mereka.
“Hai tampan ....” Tiba-tiba gadis cantik merangkul tangan Zhao Jian. “Ayo beli barang-barang daganganku itu, hanya dengan beberapa Kepingan Perak saja maka kamu dapat manfaat yang sangat besar dan mungkin menerobos ke Ranah selanjutnya. Aku mendapatkan barang-barang ini di lautan tak berujung dan semua itu adalah barang-barang peninggalan ahli beladiri hebat!” katanya lagi sembari tersenyum cerah.
“Dia mulai lagi!” kata Pria tua yang berjualan Bakpao di sebelah lapak gadis yang juga Kultivator itu. Basis Kultivasi-nya adalah Ranah Spirit dan tidak ada lambang Klan atau Sekte di pakaian yang ia kenakan—yang menandakan ia mungkin adalah Kultivator pengembara.
“Hei, Pak tua! Mulutnya tolong di jaga! Mana mungkin aku berani menipu murid Sekte Pedang Abadi! Kalau aku menipunya sama saja aku mempersembahkan leherku untuk disembelih!” Gadis cantik berusia yang mungkin berusia Tiga Puluhan tahun itu.
“Dasar pembual!” sahut Pria tua itu tidak mau mengalah—sehingga gadis cantik itu menggertak kan giginya takut pelanggannya kabur lagi gara-gara cibiran Pria tua itu.
Zhao Jian memperhatikan barang-barang dagangan gadis itu. Ada cangkang kerang, tulang ikan, rumput laut berusia ratusan tahun yang mengandung energi spritual Air, mutiara yang memiliki cahaya redup, dan gumpalan berlendir yang mungkin ingus dari monster laut.
“Yang dikatakan Pak tua itu benar, tidak ada barang berharga di sini!” kata Zhao Jian sehingga gadis itu memasang ekspresi wajah memelas yang membuatnya menghela napas panjang. “Baiklah berapa harga rumput laut ini? Jangan mahal-mahal, aku ini sangat miskin walaupun menjadi murid Sekte Pedang Abadi!”
“Hmm, karena kamu cukup tampan dan murid Sekte Pedang Abadi, maka aku akan menjualnya satu Keping Emas saja!” sahut gadis cantik itu.
Namun, Zhao Jian langsung berbalik badan dan melangkah pergi karena harga yang ditawarkannya itu sangat tidak masuk akal sekali, lebih baik dirinya membeli sumberdaya di Puncak Tungku Surgawi saja, di sana harganya jauh lebih murah.
“14!”
“13!”
“10!”
“Lima Keping Perak! Kalau tak mau ya sudah pergi sana, dasar pelit! Padahal murid Sekte besar tapi tidak memiliki uang!” gerutu gadis cantik itu menyerah membujuk Zhao Jian agar membeli dagangannya.
“Ha-ha-ha... baiklah, aku akan membeli Rumput laut ini!” sahut Zhao Jian langsung mengambil rumput laut itu dan menyimpannya ke Kantung Penyimpanan-nya.
Gadis cantik itu merasa terjebak oleh permainan Zhao Jian sehingga ia ingin menangis karena rumput laut berusia seratus tahun yang ia dapatkan dengan susah payah itu hanya dijual dengan harga Lima Keping Perak saja, dan itu hanya setara dengan biaya sewa satu malam di Penginapan.
Wajahnya menjadi masam dan tertawa jahat sembari memegang pundak Zhao Jian. “Hei, anak muda! Kau menipu wanita tua ini, kan? Cepat keluarkan uangmu satu Keping Emas atau aku akan menjerit histeris dan berguling-guling di tanah agar menarik perhatian orang-orang di sekitar kita!” ancamnya.
“Eh?” Zhao Jian bingung menatap gadis cantik itu dan sesaat kemudian langsung tercengang karena ia merobek lengan bajunya. “Sial! Apakah wanita ini sudah gila!”
Karena gadis cantik itu mulai menarik kerah bajunya—sehingga Zhao Jian meraih tangan gadis cantik itu.
“Sudahlah aku anggap saja ini sedekah!” gerutu Zhao Jian sembari menyerahkan Satu Keping Emas pada gadis cantik itu. “Mana Lima Keping Perakku tadi?” Zhao Jian mengulurkan tangannya.
“Apaaaa? Kau ini benar-benar pelit sekali!” Gadis cantik itu mengerutkan keningnya. “Bawa ini saja!” Dia menunjuk gumpalan berlendir di lapak dagangannya, karena barang yang satu itu tak ada yang pernah meliriknya.
Zhao Jian tersenyum masam karena telah ditipu oleh gadis cantik dan ia berpikir apakah mengeluarkan Kitab Keadilan untuk melihat sudah berapa banyak gadis cantik ini menipu orang lain. Namun, ia urung melakukannya saat melihat gadis cantik itu tersenyum bahagia setelah mendapatkan uangnya. Sembari menghela napas panjang, Zhao Jian memindahkan gumpalan berlendir itu ke Kantung Penyimpanan-nya dan segera meninggalkan lapak gadis cantik itu.