
Fang Han menenggak arak sembari mengucapkan kalimat Puisi patah hati di bawah Pohon Persik, sehingga para Pelayan Istana sedih melihatnya.
Fang Zening sudah berulang kali memperingatkannya agar tidak larut dalam kesedihannya karena kepentingan Kerajaan lebih utama dari masalah pribadi.
Pemuda tampan tiba-tiba muncul di sebelah Fang Han dan meraih botol arak di tangannya. Pemuda itu langsung menenggak arak yang tersisa di dalam botol itu.
“Hei, apa yang membuatmu seperti ini? Kau terlihat seperti patah hati saja!” Pemuda itu tertawa mengejek Fang Han yang tetap terdiam sembari menengadah menatap bintang-bintang di langit.
Pemuda tampan itu bingung, padahal biasanya Fang Han pasti akan marah—sehingga ia menebak-nebak mungkin Fang Han benar-benar patah hati. Namun, gadis mana yang membuatnya patah hati itu?
“Katakan siapa gadis itu dan siapa Pemuda yang telah melampaui batas itu agar aku memotong belutnya sehingga ia akan menjadi Kasim!” seru Pemuda itu. “Pria itu akan menjadi Kasim pribadimu agar dia juga sakit hati melihat gadis pujaannya bermesraan denganmu setiap saat!” desaknya.
Namun, Fang Han malah menghela napas panjang dan butiran air mata membasahi wajahnya.
Pemuda tampan itu menampar wajah Fang Han. “Hei, bodoh! Apa seperti ini sikap Pangeran terkuat kami? Mana Fang Han yang selalu terdepan melawan musuh itu? Kau itu adalah ahli beladiri! Cepat bangkit dan lawan mereka!”
Fang Han menyeka air matanya dan menceritakan tentang utusan Gui Dao Asing yang akan menyerbu Kerajaan Kura-kura Awan. Dia juga menceritakan jatuh cinta pada gadis muda yang ternyata sudah menjadi istri ketua utusan itu. Namun, gadis itu terlihat seperti tertekan dan dipaksa untuk melayani ketua utusan itu.
“Apa yang harus kulakukan Fang Yuan? Apakah kau memiliki solusi untuk masalah yang kuhadapi ini, sepupuku?” Fang Han memegang pundak Fang Yuan.
Fang Yuan tersenyum masam dan mengigit rumput yang cabut di depannya. Dia juga bingung cara menghadapi orang asing itu, karena bila mereka salah langkah maka nasib 100 Juta penduduk Kerajaan Kura-kura Awan akan terdampak juga.
Setelah jangkrik berbunyi entah berapa kali, akhirnya Fang Yuan menemukan solusi. Dia kemudian menceritakan rencana briliannya itu pada Fang Han.
“Apa yakin ini akan berhasil?” tanya Fang Han ragu-ragu menyetujui rencana Fang Yuan.
“Kita coba saja dulu! Kalau gagal kita coba rencana lain!” sahut Fang Yuan tersenyum lebar.
“Baiklah!” Fang Han hanya bisa menuruti rencana gila Fang Yuan saja.
...***...
Fang Han mencuri pakaian Pelayan wanita dan bedak serta pewarna bibir milik adik perempuannya, kemudian mereka berdandan seperti Pelayan wanita.
“Kenapa aku cantik sekali, ya? Ini harus dirahasiakan dari orang-orang Kekaisaran Jiang, takutnya aku malah dipaksa menjadi Kasim kalau mereka tahu aku sangat cantik!” Fang Yuan memuji penampilannya di depan cermin.
“Hei, ayo kita segera pergi aku takut Nona Jiang Ruo telah diterkam oleh keparatt itu!” seru Fang Han.
“Hmm, suaramu sangat berat sekali!” sahut Fang Yuan. “Nanti kamu diam saja dan jangan pernah berkata apapun. Biarkan saja sepupumu ini yang beraksi!”
Fang Yuan langsung mendorong pintu kamar tanpa mengetuk pintu lebih dulu—sehingga Zhao Jian dan Jiang Ruo terkejut.
“Kyeaaaaaa! Tuan sangat mesummm sekali!” Fang Yuan menutup wajahnya dengan telapak tangannya, tetapi jari-jari tangannya terbuka. “Inikah Hakim kampret itu! Berani sekali dia ingin menodai gadis kesukaan sepupuku!” umpatnya dalam hati.
Zhao Jian saat ini sedang mencium pipi Jiang Ruo yang meletakkan kedua tangannya di dada Zhao Jian yang tidak mengenakan apapun, untung saja Jiang Ruo masih mengenakan pakaian lengkap.
“Bangsatttttt! Itu sih belut super, apa aku membunuh Hakim sialan ini!” Darah Fang Han langsung mendidih, untung saja Fang Yuan menepuk tangannya agar menghilangkan tatapan mata tajam itu.
“Kenapa kalian masuk tanpa ijin?” gerutu Zhao Jian yang hampir mengeksekusi Jiang Ruo setelah merayunya selama Empat Batang dupa dan akhirnya Putri Mahkota yang arogan dan dingin itu takluk, tetapi tiba-tiba dua rayap tak diundang malah membuyarkan semua usahanya kerasnya.
Zhao Jian menutup tubuhnya dengan selimut dan berjalan mendekati Fang Han dan Fang Yuan. “Kalian pasti suruhan Pangeran kampret itu, kan? Dasar Pangeran busuk, di mana-mana kalangan atas itu selalu bertingkah seperti itu, hanya karena istriku cantik dia pun ingin memilikinya. Apa aku potong saja belutnya dan menjadikannya Kasim di istana Kekaisaran nanti?” gerutunya kesal sekali.
Fang Han merasa sesuatu miliknya sangat ngilu begitu juga dengan Fang Yuan. Namun, Fang Yuan tetap berusaha tetap tenang dan menundukkan wajahnya.
“Maafkan kami tuan... Pangeran Fang Han itu sangat baik sekali, dia bukan orang seperti yang Anda pikirkan. Kami ke sini karena mengira mengira kalian sudah lapar, tetapi siapa sangka ternyata kalian telah membawa bekal di Kantung Penyimpanan kalian. Sekali lagi maafkan kami!” Fang Yuan menangkupkan tinju. “Nona muda sepertinya telah tidur, bagaimana kalau kami yang akan membuat lelahmu menghilang!” goda Fang Yuan sembari berpura-pura ingin menanggalkan pakaiannya.
Zhao Jian mengerutkan keningnya dan mendorong tubuh Fang Yuan keluar dari kamar. “Kalian jangan ganggu kami lagi! Kalau kalian datang lagi, maka aku akan mengadukan kalian pada tuan Putri Fang Zening!”
Zhao Jian menutup pintu dengan keras karena kesal sekali, sedangkan Jiang Ruo telah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut—sehingga Zhao Jian gagal melaksanakan malam pertama bersama Putri Mahkota Kekaisaran Jiang tersebut.
Fang Yuan mengacungkan jempol dan tersenyum lebar karena mendengar suara umpatan Zhao Jian yang menandakan Zhao Jian meniduri Jiang Ruo.
“Hmm, sepertinya mereka memang sepasang suami-istri sepupu Han!” seru Fang Yuan setelah melihat ekspresi wajah Jiang Ruo tadi.
Jiang Ruo tidak terlihat ketakutan seperti yang dikatakan oleh Fang Han, malah Jiang Ruo itu tersipu malu sehingga wajahnya memerah.
“Aku yakin mereka bukan suami istri!” sahut Fang Han. “Bagaimana kalau kita berpura-pura menjadi Pelayan dan mengantar arak pada Pasukan Naga yang datang bersama mereka. Kita akan tanya pada mereka saja!”
Namun, tiba-tiba Fang Zening melintas di depan mereka, sehingga mereka langsung panik. Untungnya Fang Zening mengabaikan mereka sehingga keduanya bernapas lega.
“Tunggu!” Fang Zening memegang pundak Fang Han. “Apa yang kau lakukan kakak Han? Jangan bilang ini ulah bodoh Fang Yuan?” selidiknya.
“Eike kabur ah!” Fang Yuan segera melesat dengan langkah seribu meninggalkan Fang Han. “Maaf sepupu Han, semoga malammu berjalan indah!” teriaknya sembari tertawa.
Ekspresi wajah Fang Zening menjadi masam. “Kakak Han, apakah kalian menggangu waktu istirahat Hakim Jian dan istrinya?” selidiknya dan Fang Han hanya tersenyum masam saja.