Beasts Master

Beasts Master
Kompetisi Perburuan Hutan Tengah IV



“Hati-hati Pemimpin mereka adalah Ranah... eh, ternyata Zhao Jian sudah mencapai Ranah Saint.” Liu Hao terkejut. “Sepertinya aku terlalu lama bermeditasi di Puncak Abadi sehingga tidak tahu kalau dia sudah menjadi monster buas yang mengerikan.”


Liu Hao, Zhao Jian, Luo Bing, Zhao Fu, dan Yan Yue sama-sama memasuki Sekte Pedang Abadi, mereka menjadi perwakilan dari Klan Zhao yang dulunya adalah penduduk Kerajaan Zhao.


Setelah beberapa bulan menjadi murid Sekte Pedang Abadi, Liu Hao merasa dirinya adalah jenius beladiri karena kecepatan peningkatan basis Kultivasinya sangat cepat sekali apalagi Liu Ruxu yang merupakan murid jenius Akademi Kerajaan Zhao juga baru saja melangkah ke Ranah Tianzun.


Para Penatua di Puncak Abadi memuji-mujinya sebagai jenius beladiri walaupun dia bukan yang terkuat di sana, karena murid-murid yang lebih senior telah mencapai Ranah Saint.


Liu Hao dimasukkan ke dalam kelompok berjumlah Sepuluh orang yang semua adalah Ranah Tianzun, dan mereka diperintahkan hanya berburu di pinggiran hutan tengah saja. Namun, siapa sangka mereka malah bertemu kelompok murid-murid dari Sekte Tianxin yang tanpa berbasa-basi langsung menyerang mereka.


Liu Hao menyeka darah yang membasahi wajahnya, dia mengepal tangan dengan erat. “Hancurkan mereka Zhao Jiannnnnnn! Mereka telah membunuh murid-murid Sekte kita!” teriaknya dengan penuh amarah.


“Aku akan berurusan dengan Ranah Saint itu, kalian kalahkan Beast dan ketiga murid di belakangnya itu!” seru Shao Xinghe sembari memasang kuda-kuda beladiri.


Zhu Huo tidak menyangka lawan mereka memiliki jumlah yang jauh lebih banyak dari mereka. Dia sangat gugup sementara kedua Beast milik Zhao Jian malah terlihat bersemangat dan tak sabar ingin menghancurkan murid-murid Sekte Tianxin tersebut.


Belasan murid-murid Sekte Tianxin itu segera mengelilingi Zhu Li, Zhu Huo, Dongfang Wei, Ayam Jago, dan Gaoer. Mereka menyeringai jahat karena menang jumlah dan percaya diri dapat mengalahkan rekan-rekan Zhao Jian tersebut.


Zhu Li memunggungi Dongfang Wei. “Sepertinya aku harus melawan tiga musuh sekaligus, kau ambil dua saja!” Walaupun dalam kondisi terjepit begitu, dia masih tetap bersikap sombong pada Dongfang Wei.


“Kau hanya menggunakan tinju saja, kau cukup hadapi satu lawan saja dan sisanya biarkan bilah Pedangku yang melenyapkan mereka!” Dongfang Wei tak mau kalah walaupun tangannya tampak gemetar menggenggam gagang Pedangnya.


“Berhenti bertengkar! Fokuslah menghadapi musuh!” sela Zhu Huo kesal dengan ulah keduanya.


Namun, tiba-tiba bayangan hitam melesat di hadapan mereka, bayangan hitam itu bergerak secara zig-zag dan sesaat kemudian murid-murid Sekte Tianxin bertumbangan dengan bekas cakaran yang sangat dalam menghancurkan dada mereka.


Murid-murid itu mati dengan mata terbelalak karena tak sempat bereaksi serta menggunakan tehnik bertahan saat mereka menyadari bayangan hitam di hadapan mereka itu adalah Beast Anjing berbulu hitam.


“Kau curang, Gaoer! Padahal Paman ini belum berkokok lantang he-he-he ....” Ayam Jago mengibaskan sayapnya dan melompat tinggi hingga tubuhnya tak terlihat lagi di langit. Namun, tiba-tiba dari langit meluncur badai tornado dan dalam satu kedipan mata badai tornado itu telah menghancurkan permukaan tanah di depan Zhu Huo yang langsung membelalakkan mata saking terkejutnya.


“Hei, apakah kedua Beast itu benar-benar Ranah Tianzun? Kenapa kekuatan mereka sangat mengerikan sekali, apa Dua hari ini kita pamer pada ahli legendaris?” Dongfang Wei tersenyum masam.


“Seperti kata pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu benar, berarti aku terlahir dari Pohon besar tetapi mudah rapuh, ya?” kata Zhu Li sembari menghela napas panjang.


“Sama, padahal ayahku selalu pamer padaku kalau tehnik berpedang yang ia wariskan itu dapat membuat diriku menjadi tokoh Protagonis Dunia ini, eh... ternyata itu cuma tokoh untuk sampingan saja!” Semangat bertarung Dongfang Wei langsung mengendur.


“Hei, apa yang satu itu kami juga yang mengalahkannya?” Ayam Jago berkata sombong sembari menunjuk gadis berambut merah, murid Sekte Tianxin satu-satunya yang berhasil menjauh dari serangan Gaoer dan Ayam Jago.


Dia berbalik arah dan memutuskan melarikan diri untuk menyelamatkan dirinya. Dia tidak peduli lagi dengan nasib Shao Xinghe karena sudah pasti Shao Xinghe akan kalah, tak mungkin dia dapat mengalahkan lawan yang merupakan Beast Master.


“Kenapa kau melarikan diri sialan! Dasar pengecut!” Shao Xinghe membentak murid wanita itu, tetapi murid tersebut mengabaikan seruannya——murid tersebut terus melesat dengan cepat. “Sial! Aku sebenarnya ingin menggunakannya sebagai tameng agar aku bisa melarikan diri. Namun, dia ternyata lebih licik dariku,” gumamnya menggerutu.


Dari bilah Pedang Keadilan muncul energi spiritual Angin berbentuk bulan sabit, Shao Xinghe terpaksa menangkis serangan itu.


Boooommmmmm!


Shao Xinghe terpental lima langkah ke belakang, ekspresi wajahnya sangat masam karena tidak menyangka energi spiritual Angin milik Zhao Jian sangat kuat sekali padahal mereka sama-sama Ranah Saint.


“Jangan-jangan dia sudah mencapai Ranah Saint Puncak?” gumam Shao Xinghe berspekulasi. “Namun, itu sulit dipercaya... bukankah belenggu Kultivasi di Kekaisaran Jiang baru beberapa bulan melonggar kekangannya?” Dia semakin bingung.


Shao Xinghe tiba-tiba teringat Jimat yang diberikan oleh Patriark Sekte Tianxin sebelum kompetisi Perburuan Hutan Tengah dimulai.


Patriarknya mengatakan untuk mengalirkan energi spiritual pada Jimat itu bila bertemu murid bernama Zhao Jian dari Sekte Pedang Abadi.


Dia tidak tahu apa kegunaan dari Jimat itu, tetapi ia yakin Jimat itu pasti dapat membuatnya melarikan diri atau bala bantuan akan datang sehingga ia hanya perlu menahan serangan Zhao Jian sementara waktu saja——sebelum bala bantuan itu muncul.


“Apa itu Jimat Teleportasi?” gumam Zhao Jian memperhatikan kertas Jimat di tangan Shao Xinghe dan ia teringat dengan Lu Xiaoran yang tiba-tiba menghilang saat bertarung melawannya.


Karena Shao Xinghe dan kelompoknya telah membunuh murid-murid Sekte Pedang Abadi, Zhao Jian tidak akan membiarkan Shao Xinghe menggunakan Jimat itu untuk melarikan diri.


Zhao Jian mengayunkan Pedang Keadilan ke arah depan. “Gerakan Kedua Jurus Pedang Dewa Mata Angin!”


Dari bilah Pedang Keadilan muncul energi spiritual Angin berbentuk bulan sabit berukuran kecil dengan jumlah mencapai seratus yang melesat dengan pola acak, sehingga sangat sulit menghindari serangan itu kecuali melawan balik atau menggunakan artefak pertahanan menangkisnya.


Shao Xinghe mengerutkan keningnya dan segera mengalirkan energi spiritual-nya pada Jimat kertas pemberian Patriark Sekte Tianxin tersebut.


Jimat itu tiba-tiba berubah menjadi asap hitam berbentuk burung kecil. Shao Xinghe kebingungan, kenapa Jimat itu bukan menjadi Jimat Teleportasi. Dia berspekulasi Jimat itu mungkin akan membawakan bala bantuan padanya sehingga ia segera mengayunkan pedangnya untuk menghancurkan sabit angin yang mengarah padanya.


Boooooommmmmm!


Sabit-sabit Angin itu menumbangkan pepohonan disekitar Shao Xinghe, tubuhnya dipenuhi luka sabetan walaupun ia berhasil menghadang serangan yang mengarah ke dadanya dan wajahnya.