Beasts Master

Beasts Master
Beast Ular Tujuh Warna



Beast Ular Tujuh Warna melakukan perlawanan yang sangat sengit sehingga Xuan Ji kesulitan menaklukkannya.


Seteguk darah menyembur dari mulut Xuan Ji karena terlalu lama menghirup energi spiritual Racun yang dikeluarkan oleh Beast Ular Tujuh Warna.


“Sebaiknya kau menunda menaklukkan Beast Ular Tujuh Warna ini, kalau kau terus menghirup energi spiritual Racunnya maka aku takut kau akan kehilangan nyawa!” Suara Leluhur Pertama Klan Xuan yang berasal dari Kalung giok menggema dipikiran Xuan Ji.


Xuan Ji menyeka darah dari sudut bibirnya dan mundur beberapa langkah menjauh dari Beast Ular Tujuh Warna. Pandangannya mulai kabur, tetapi tekatnya terlihat kokoh ingin menaklukkan Beast tersebut.


“Aku harus membuat kontrak jiwa dengannya, Leluhur!” sahut Xuan Ji. “Sebentar lagi akan dimulai kompetisi perburuan hutan tengah dan aku yakin Xuan Yan akan melakukan balas dendam padaku di sana setelah ia dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah oleh senior Jian. Lagi pula aku ingin membuktikan pada tunanganku bahwa aku jauh lebih baik dari pada Xuan Yan, aku tidak mau lagi terus dihina dan dianggap sampah!”


Zhao Jian yang bersembunyi di semak-semak keheranan melihat Xuan Ji berbicara sendiri, seolah-olah dia berbicara dengan seseorang. Namun, saat ia mengedarkan energi spiritual-nya, tidak ada seorangpun yang berada di sekitar Xuan Ji.


“Mungkinkah Kalung giok itu ada Jiwa Kultivator cantik yang bersembunyi?” gumam Zhao Jian berspekulasi.


Saat kecil, Zhao Jian sering membaca dongeng legenda tentang sosok yang dulunya lemah tetapi tiba-tiba menjadi kuat setelah mendapatkan harta Karun tak terduga. Biasanya itu berupa senjata mistik atau artefak yang memiliki Jiwa Kultivator di dalamnya.


Xuan Ji tampak akan ambruk sehingga Zhao Jian memutuskan akan membantunya untuk menghilangkan energi spiritual Racun yang menggerogoti tubuhnya. Namun, tiba-tiba Kalung Giok milik Xuan Ji bersinar terang, kemudian tubuhnya terlihat dipenuhi energi spiritual yang sangat kuat.


Zhao Jian terkejut melihatnya dan semakin percaya ada Jiwa Kultivator cantik yang mendiami Kalung Giok itu.


“Tunduk lah kau dasar Ular kecil! Beraninya kau melumpuhkan keturunanku!” Sosok Xuan Ji terlihat seperti orang berbeda di mata Zhao Jian.


Beast Ular Tujuh Warna yang awalnya merasa kemenangan sudah di depan matanya tiba-tiba merasa Xuan Ji seperti sosok yang sangat mengerikan; sorotan mata Xuan Ji itu terlihat seperti Ranah World Master saja.


Beast Ular Tujuh Warna melingkarkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya tanda bersedia tunduk pada Pemuda tampan di hadapannya. Dia yakin bila melakukan kontrak jiwa dengannya maka ia akan menjadi Beast hebat di masa depan karena Pemuda ini memancarkan Aura kuat walaupun saat ini basis Kultivasinya masih rendah.


“Aku serahkan proses kontrak jiwanya padamu Ji‘er,” kata Leluhur Pertama Klan Xuan.


Energi spiritual racun yang menggerogoti tubuh Xuan Ji telah menghilang berkat kekuatan Leluhur Pertama Klan Xuan itu.


“Namun, berhati-hati lah ada sosok yang diam-diam memperhatikan kita, aku takut dia telah menyadari keberadaanku. Sebenarnya aku ingin melenyapkannya tetapi energi spiritualmu sangat rendah sekali sementara sosok itu adalah Ranah Saint yang tidak mungkin dapat kita kalahkan, untuk saat ini cobalah untuk berpura-pura tidak menyadari keberadaannya.” Leluhur Pertama Klan Xuan berharap sosok itu tidak akan melukai Xuan Ji bila mereka berpura-pura tidak menyadari keberadaannya.


Xuan Ji mengerutkan keningnya mendengar ucapan Leluhurnya, detak jantungnya berdetak kencang karena takut sosok itu adalah pembunuh bayaran yang dikirim oleh kelompok serigala, mengingat saat ini keamanan di Sekte Pedang Abadi sangat longgar karena semua Penatua memasuki Kultivasi tertutup.


Xuan Ji belum menyadari kalau Penatua Xiao Shi maupun Patriark Sekte Pedang Abadi telah berhasil meningkatkan basis Kultivasi mereka.


Kini Zhao Jian khawatir Xuan Ji akan menjadi musuhnya di masa depan, karena sosok seperti Xuan Ji biasanya akan menjadi Pendekar hebat di masa depan dan merebut istri-istrinya——mengingat semboyan hidup lelaki sejati adalah harta, tahta, dan wanita cantik.


Zhao Jian tidak menyerang Xuan Ji walaupun terlintas dibenaknya untuk menggagalkan proses kontrak jiwanya dengan Beast Ular Tujuh Warna, karena dia adalah Hakim yang menjunjung tinggi keadilan——sehingga tidak mungkin ia melukai atau membunuh seseorang tanpa ada sebabnya.


Tak lama kemudian ia sampai di halaman gubuk Penatua Xiao Shi. Aura Ranah Paramita memancar dari dalam gubuk, tetapi sayang sekali bukan dirinya yang pertama mengucapkan selamat pada Penatua Xiao Shi karena Puluhan murid Puncak Penjinak Beast telah lebih dulu berada di sana.


“Berikan jalan! Senior Jian telah datang!” seru murid Pria bertubuh gemuk dengan senyum lebar.


Dia kemudian buru-buru mendekati Zhao Jian dan bertindak seperti pengawal pribadi padahal Zhao Jian tidak mengenali murid tersebut.


“Ehemmmm... kalian tidak perlu memperlakukan aku seperti orang yang istimewa. Nanti Penatua Shi marah karena cemburu popularitasnya malah kalah dariku,” canda Zhao Jian tersenyum lebar.


Murid-murid lainnya tertawa terkekeh-kekeh mendengarnya, sementara murid gemuk itu hanya tersenyum masam karena malu. Namun, tiba-tiba Beast Phoenix hinggap di atas atap gubuk Penatua Xiao Shi, ia menatap tajam ke arah Zhao Jian.


“Cih, anak ayam ini selalu saja mencari masalah denganku, jangan-jangan dia mau mencoba kekuatan Ranah Paramitanya padaku?” gumam Zhao Jian merasa ada yang tidak beres dengan tatapan Beast Phoenix milik Penatua Xiao Shi itu.


Sepuluh langkah dari dari gubuk Penatua Xiao Shi, Zhao Jian berhenti melangkah. Kemudian ia menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat. “Selamat Pe—” Zhao Jian mengerutkan keningnya karena tiba-tiba bola api melesat ke arahnya. “Sial! Aku menyesal datang kemari!” gerutunya sembari mundur beberapa langkah dan para murid lainnya ikut berhamburan menjauh dari dekat Zhao Jian.


“Nak, kau sombong sekali, beraninya kau mengumpat di belakang masterku!” cibir Beast Phoenix dengan tatapan angkuh. “Aku akan mewakili Master Shi mendidikmu ke jalan yang benar!” Sudut bibirnya memancarkan seringai tipis yang membuat detak jantung Zhao Jian semakin berdetak kencang.


“Terimakasih atas nasehat senior Phoenix, tetapi maaf aku sudah bosan belajar dan aku akan kembali ke gubukku!” sahut Zhao Jian segera menggunakan tehnik meringankan tubuh untuk melarikan diri.


“Hei, jangan coba-coba melarikan diri dariku!” teriak Beast Phoenix mengepakkan sayapnya, tubuhnya kini dua kali lebih besar dari yang dulu.


Zhao Jian mengeluarkan Pedang Keadilan dari Tas Sihirnya.


“Gerakan Kedua Jurus Pedang Dewa Mata Angin!”


Ratusan energi spiritual Angin berbentuk bulan sabit sebesar celurit melesat ke arah Beast Phoenix yang langsung terkejut melihatnya, dia terpaksa mengibaskan sayapnya sehingga badai api mendorong kembali ratusan energi spiritual Angin berbentuk bulan sabit tersebut.


“Dasar bocah laknat! Kau berusaha melukaiku, ya? Aku akan membakarmu hingga hangus!” Beast Phoenix sangat marah diserang tiba-tiba oleh Zhao Jian.


“Ah, itu hanya untuk mengetes kekuatan baru senior Phoenix saja, tolong jangan marah dan menjauh dariku!” sahut Zhao Jian tetap melesat berusaha menjauh sejauh mungkin dari Beast Phoenix.