Beasts Master

Beasts Master
Pemenang Kompetisi Perburuan Hutan Tengah



Satu batang dupa kemudian perhitungan hasil buruan kompetisi Perburuan Hutan Tengah akhirnya selesai.


Hakim Agung menerima secarik kertas dan sudut bibirnya memancarkan senyuman tipis saat memperhatikan kertas itu.


“Baiklah aku akan mengumumkan siap pemenang kompetisi Perburuan Hutan Tengah yang berhak menerima hadiah Kristal Beast Ranah Saint dan 1000 Keping Emas,” kata Hakim Agung yang membuat semua orang berspekulasi siap yang akan menang.


Zhao Jian tersenyum lebar karena sudah pasti dirinya yang akan menang, selain mengambil Kristal Beast milik murid-murid Sekte Gunung Hua, Gaoer juga memandunya menemukan herbal Spritual langka.


“Peringkat Pertama adalah Zhao Jian dari Sekte Pedang Abadi!”


Murid-murid berbagai Sekte langsung bertepuk tangan dan murid-murid Sekte Pedang Abadi langsung mengerumuni Zhao Jian untuk mengucapkan selamat padanya.


“Peringkat Kedua adalah Jiang Zhaoge dan peringkat Ketiga adalah Jiang Ruo!” kata Hakim Agung lagi.


Semua orang terkejut tak ada nama Hua Yin maupun Bai Lie dalam daftar tiga teratas, padahal Hua Yin dan Bai Lie selalu berada di peringkat tiga besar dalam beberapa kali Kompetisi Perburuan Hutan Tengah.


Yang lebih mengejutkan adalah peringkat secara keseluruhan, Sekte Gunung Hua terdepak dari Tiga Sekte Besar.


Sekte Gunung Hua hanya berada di peringkat Ketujuh saja sedangkan Sekte Pedang Abadi menjadi nomor satu walaupun mereka kehilangan Puluhan murid yang tidak keluar dari Hutan Tengah padahal kompetisi telah berakhir. Kebanyakan diantara mereka sebenarnya dibunuh oleh murid-murid Sekte Tianxin sebelum Zhao Jian akhirnya melenyapkan mereka juga.


Dengan bangga Zhao Jian menerima hadiah kompetisi Perburuan Hutan Tengah itu. Hakim Agung berbisik padanya untuk segera menuju Istana Kekaisaran karena Kaisar ingin bertemu dengannya, dia juga mengatakan kalau Zhao Jian dapat membawa Kedua Istrinya juga.


Masalah ijin libur, Hakim Agung mengatakan telah memberitahu Patriark Xiao Yan tentang hal itu.


Zhao Jian langsung mengangguk setuju dan penasaran kenapa Kaisar memanggilnya, dia berspekulasi mungkin telah ditemukan Gui Dao yang berenang dekat dengan Gui Dao Kekaisaran Jiang dan Kaisar ingin mengutusnya lagi sebagai Duta Perdamaian.


Tak ada perayaan setelah pengumuman hasil kompetisi Perburuan Hutan Tengah, para Patriark dan Penatua Sekte langsung mengawal murid-murid masing-masing kembali ke Sekte mereka.


Hua Yin mendekati kakeknya yang memilih diam saja selama perjalanan menuju Sekte Gunung Hua.


“Kakek... maafkan aku tidak dapat menyelesaikan misi itu!” ucapnya sembari menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat.


Patriark Sekte Gunung Hua menghela napas panjang. “Wajar saja kalian tidak sanggup melawannya karena ia telah mencapai Ranah Paramita. Ini bukan salah kalian, aku akan mencari sumberdaya agar kamu juga dapat mencapai Ranah Paramita sepertinya!”


“Terimakasih Kakek!” sahut Hua Yin senang kakeknya ternyata tidak marah padanya. “Tapi aku mulai sadar setelah melawan Zhao Jian, aku... merasa kita tidak perlu lagi berkonfrontasi dengannya. Kurasa dia adalah orang yang baik, seharusnya kami sudah mati saat itu tetapi dia mengampuni kami!” katanya lagi dan dia sudah bersiap menghadapi amarah dari kakeknya karena ingin berdamai dengan sosok yang paling dibenci oleh kakeknya itu.


Namun, cercaan atau amarah dari kakeknya tak kunjung datang padahal ia sudah memejamkan matanya, malah terdengar helaan napas panjang dari sosok terkuat Sekte Gunung Hua tersebut.


“Kau pergilah dan berlatihlah dengan giat!” Patriark Sekte Gunung Hua melambaikan tangan menyuruh cucunya itu keluar dari ruangannya.


Hua Yin kebingungan dan segera keluar dari sana. Namun, tiba-tiba ia merasakan niat membunuh merembes dari ruangan kakeknya, sehingga Hua Yin mengerutkan keningnya. “Sepertinya kebencian kakek terhadap Zhao Jian semakin besar saja. Kakek... aku akan berlatih keras sehingga aku dapat menghalangimu agar tidak membuat Sekte Gunung Hua binasa!” gumamnya menghela napas panjang.


Ucapan Zhao Jian masih terngiang-ngiang di benak Hua Yin, walaupun ia berasal dari Gui Dao asing tetapi Kaisar dan Sekte Pedang Abadi mendukungnya dibalik layar, apalagi usianya masih sangat muda tetapi Kultivasinya meningkat sangat cepat. Dia itu jenius beladiri seperti Lu Xiaoran yang pernah menjadi tunangan Putri Mahkota Kekaisaran Jiang tersebut.


...***...


“Kita ke mana Jiang gege?” tanya Liu Ruxu langsung merangkul tangan Zhao Jian yang menunggunya di gerbang luar Sekte Pedang Abadi. "Eh, senior Ruo juga datang, apakah senior Ruo juga akan pergi bersama kita?” sapanya pada Jiang Ruo yang hanya mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatah katapun.


“Kita akan ke Istana, Kaisar mengundangku ke sana dan juga menyuruh kalian untuk ikut, aku tidak tahu apa yang ingin beliau bicarakan!” sahut Zhao Jian tersenyum cerah karena ini pertama kalinya dia membawa kedua istrinya berjalan bersama.


Seperti biasa, Jiang Ruo tidak berbicara bila tidak ditanya lebih dulu. Dia bahkan berjalan dibelakang Liu Ruxu yang berjalan sejajar dengan Zhao Jian.


“Aku penasaran, seperti apa Istana itu? Apakah itu sangat megah senior Ruo?” Liu Ruxu terus berbicara sepanjang perjalanan menuju Istana dan Jiang Ruo hanya mengangguk lagi menanggapi pertanyaannya. “Eh, itu adalah Sate Beast Rusa, pasti enak sekali!”


“Bagaimana kalau kita mampir sebentar, toh Kaisar juga tidak mengatakan harus bergegas ke Istana!” sahut Zhao Jian sembari berjalan ke arah penjual Sate Beast Rusa tersebut.


“Eh, ta-tapi... nanti Kaisar marah loh Jian gege! Beliau itu adalah Ranah World Master, bisa saja ia menggunakan tehnik rahasia mengawasi kita!” sahut Liu Ruxu sembari menengadah menatap langit apakah ada sosok mata raksasa yang mengawasi mereka.


“Ayah tidak mungkin melakukan hal itu, ikuti saja kemauannya. Toh, dia memiliki uang banyak, tetapi jatah bulanan kita belum diberikan!” sela Jiang Ruo akhirnya berbicara.


Namun, Zhao Jian langsung terbatuk-batuk mendengarnya, padahal ia sudah berencana tidak akan mengungkit topik tentang kompetisi Perburuan Hutan Tengah agar uang hadiahnya tidak diminta oleh kedua istrinya.


“Oh, iya... aku mau Sepuluh tusuk Paman!” Liu Ruxu tersenyum lebar. “Tenang saja Jian gege, uang pemberian gege yang dulu masih banyak. Jadi, jatah bulan ini simpan saja!” katanya lagi yang membuat Zhao Jian tersenyum lebar.


“Bagaimana dengan—” Zhao Jian menatap Jiang Ruo yang berada di belakangnya.


“Aku minta sepertiganya!” sahut Jiang Ruo yang membuat Zhao Jian menundukkan wajahnya dan menghela napas panjang. “Tabungan itu penting, kamu memiliki musuh yang banyak! Aku tidak mau nanti menjadi Janda miskin kalau kamu terbunuh saat menjalankan tugas!” katanya lagi dengan ekspresi wajah datar, untung saja wajahnya cantik sehingga tidak membuat Zhao Jian marah.


“Kan, kau itu akan menjadi Ratu di masa depan, mana mungkin kau akan kelaparan!” Zhao Jian menggerutu dalam hati. “Ah, benar juga... aku akan memberikan kalian masing-masing 250 Keping Emas! Jangan ada yang protes lagi, aku juga harus menafkahi Ayam Jago yang semakin banyak saja makan biji-bijian Spritual mahal! Cih, kalau dia masih rakus mending kujadikan ayam panggang saja!”


Ayam Jago mengerutkan keningnya, kenapa selalu dirinya yang menjadi tumbal padahal ia berjalan dengan pelan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, bahkan ia menggunakan gerakan meringankan tubuh agar langkahnya tak berisik.


“Nasib-nasib... apakah Beast tampan selalu didiskriminasi?” gumamnya menghela napas panjang.