
Liu Mubai tidak menyangka Beasts Ulat Ungu akan menggagalkan serangan diam-diamnya pada Zhao Jian.
“Kepung mereka dan jangan panik, mereka hanya berdua saja. Kita pasti bisa membunuh mereka, kemudian melenyapkan yang lainnya!” Liu Mubai memotivasi semangat juang bawahannya yang terlihat takut pada Beasts Ulat Ungu.
Dua Belas bawahan Liu Mubai segera mengelilingi Zhao Jian, tapi Zhao Jian malah tersenyum yang membuat nyali mereka sedikit menciut—karena curiga kalau Zhao Jian telah merencanakan sesuatu yang membuat mereka akan terluka atau terbunuh.
Untuk mengangkat semangat bertarung bawahannya, Liu Mubai lebih dulu menyerang Zhao Jian. Pedangnya dipenuhi kobaran api yang sangat panas, sehingga Zhao Jian melepaskan energi spritual Angin yang berputar-putar mengelilingi tubuhnya untuk menghilangkan efek panas tersebut.
“Tuan Jian... serahkan Pak tua ini pada Violet!”
“Tidak, biarkan Aku saja yang melawan musuh kuatnya dan kamu atasi saja sisanya!” sela Zhao Jian—memutuskan akan melawan Liu Mubai.
“Lemah apanya, mereka semua Ranah Spirit, tuan Jian!” gerutu Violet menggembungkan pipinya.
Namun, Zhao Jian tidak menyahut ucapannya dan mengayunkan Pedang Zhengyi ke arah Liu Mubai.
“Matilah kau!”
Siluet Phoenix muncul dari bilah Pedang Liu Mubai yang langsung mengepakkan sayapnya, sehingga bola-bola api meluncur lebih dulu ke arah Zhao Jian.
Namun, sosok Zhao Jian menghilang seperti angin, melewati bola-bola api tersebut dan sesaat kemudian telah muncul di hadapan Liu Mubai.
Pedang mereka pun beradu yang mengakibatkan fluktuasi energi spritual disekitar mereka, halaman gedung Pengadilan hancur berkeping-keping, batu, kerikil dan gumpalan tanah melayang di udara.
Zhao Jian menggunakan tehnik beladiri Divine Martial Arts yang merupakan gabungan beladiri Kung-Fu, Karate dan Silat.
Dia menendang batu yang melayang di udara dan mengalirkan energi spritual ke titik meridian di telapak kakinya, kemudian mengalirkan energi spritual ke batu tersebut.
Ekspresi wajah Liu Mubai menjadi pucat dan ia segera mengayunkan Pedangnya secara horizontal menangkis batu yang melesat dengan kecepatan tinggi ke arahnya tersebut.
Liu Mubai terdorong mundur dua langkah, untung saja Pedangnya berhasil menangkisnya—kalau tidak maka dadanya mungkin akan hancur terkena batu yang mengandung energi spritual tersebut.
“Langkah Angin!”
Zhao Jian berpindah dengan cepat dan muncul di sebelah kanan Liu Mubai—yang kembali terkejut dan segera mengayunkan Pedangnya secara Vertikal menangkis tebasan Pedang Zhao Jian.
Namun, Zhao Jian menggunakan tehnik beladiri gerakan pertama jurus Pedang Dewa Mata Angin yang melepaskan angin lembut berbentuk bulat sabit.
“Sial! Dia terlalu kuat,” gerutu Liu Mubai. “Bantu Aku melawannya, kita tidak bisa melawannya satu lawan satu!” Namun, tidak ada yang menyahut seruannya.
Liu Mubai menoleh ke arah pertarungan Beasts Ulat Ungu melawan Dua Belas bawahannya dan ia langsung tercengang; bagaimana mungkin semua bawahannya telah dilenyapkan oleh Beasts Ulat Ungu tersebut, bahkan tubuh mereka terpotong-potong.
“Sial! Aku harus kabur!” gumam Liu Mubai.
Tiga bawahannya yang melawan Zhao Chen, Zhao Que dan Zhao Bao juga telah dikalahkan, hanya dirinya saja lagi yang tersisa.
Liu Mubai melompat ke atap gedung Pengadilan, tetapi Zhao Jian juga muncul di sana—sehingga ia harus bertarung lagi melawannya agar bisa melarikan diri.
“Gerakan Kedua Jurus Pedang Dewa Mata Angin!” Zhao Jian mengayunkan Pedangnya ke arah lengan kanan Liu Mubai yang terluka.
“Sial!” gerutu Liu Mubai sudah terlambat mengayunkan Pedangnya yang digenggam tangan kirinya.
Dari bilah Pedang Zhengyi muncul energi spritual Angin berbentuk bulan sabit yang jumlahnya ratusan dan berputar-putar mengelilingi Pedang Zhengyi.
Liu Mubai berteriak histeris, lengan kanannya terpotong begitu juga dengan tubuh bagian kanannya dipenuhi luka sayatan.
Liu Mubai pun tumbang, terbaring di tanah dan ia langsung meneteskan air mata—karena teringat dengan istri dan anak-anaknya. Entah apa yang akan terjadi pada mereka nanti setelah ia mati. “Maafkan Aku ....”
Zhao Jian mendekatinya, tetapi tiba-tiba darah yang keluar dari tubuh Liu Mubai membentuk Siluet Phoenix—sehingga Zhao Jian segera menjauh darinya.
Sesaat kemudian, kobaran api yang sangat besar menghancurkan tubuh Liu Mubai.
“Sial! Dia malah bunuh diri, sehingga kita tidak tahu siapa yang mengirimnya!” gerutu Zhao Jian dan curiga Walikota Canglan lah dalang dibalik kejadian ini.
Zhao Jian belum mengetahui kalau Huang Taiji sebenarnya telah tewas terbunuh—karena pihak keluarga Huang Taiji tidak mengumumkan kematiannya untuk mencegah terjadi gejolak dan kerusuhan di Kota Canglan.
Namun, Zhao Jian juga curiga dengan Hakim Zhao Qihan—karena ia tak ada di gedung Pengadilan cabang Kota Canglan, begitu juga dengan Petugas Pengadilan yang basis kultivasi-nya Ranah Spirit. “Hmm, Hakim Qihan... tunggu saja, kamu hanya bisa bernafas lega sebentar saja. Kalau cambukku sudah mengayun maka kamu akan berada di Dunia Bawah!”
“Hakim Jian apakah kamu baik-baik saja?” Zhao Chen, Zhao Que dan Zhao Bao menghampirinya. Namun, Zhao Que langsung memeluk Violet. “Yohoho... lembutnya, bolehkah aku tidur denganmu juga keponakanku!”
“Hei, jauh-jauh dariku... dasar wanita aneh berdada besar!” gerutu Violet meronta-ronta dari Zhao Que.
Zhao Jian tersenyum dan berkata, “Aku baik-baik saja ha-ha-ha... sepertinya rahasiaku telah terbongkar.” Karena hanya segelintir orang yang mengetahui keberadaan Beasts-nya, tapi kini ia tidak khawatir orang lain mengetahui keberadaan mereka—sebab ia telah mencapai Ranah Spirit dan juga sebagai tuan muda Klan Zhao, makanya tidak khawatir ada yang berniat mengambil Beasts-nya karena hanya orang yang mencari kematian saja yang berani mengusiknya.