
Zhao Jian mengurutkan keningnya karena tidak menyangka gerakan Nan Feng sangat cepat dan dengan mudah menghindari serangannya.
“Sekarang giliranku... hati-hati kau bocah!” Sudut bibir Nan Feng memancarkan seringai tipis.
Tubuh Nan Feng melebur menjadi asap hitam dan menghilang dari pandangan Zhao Jian, sesaat kemudian dia muncul tepat dihadapan Zhao Jian.
Telapak tangan Nan Feng diselimuti kobaran api hitam, kuku-kukunya memanjang menjadi belati yang sangat tajam.
Zhao Jian segera mengayunkan Pedang Keadilan secara vertikal di hadapannya, raut wajahnya masam menatap Nan Feng. “Pantas saja kau sangat percaya diri sekali, ternyata seni beladirimu sangat hebat!”
Cakaran kuku Nan Feng membuat tubuh Zhao Jian terdorong mundur beberapa langkah dan Zhao Jian mengakui kalau perbedaan kekuatan Ranah Saint awal dengan Ranah Saint puncak sangat besar sekali, apalagi Nan Feng adalah bos bandit——sudah pasti pengalaman bertarungnya lebih banyak dari Zhao Jian.
“Oh, kau akhirnya menyadarinya juga, bocah!” ejek Nan Feng. “Sekarang matilah menyusul para gadis-gadis bodoh itu!” Cakaran kukunya kembali melesat ke arah wajah Zhao Jian.
“Api tidak bisa membakarmu, maka bagaimana dengan yang ini?” sahut Zhao Jian mengayunkan pedangnya.
Dari bilah Pedang Keadilan muncul energi spiritual Es, Seringai tipis di sudut bibir Nan Feng menghilang dan digantikan dengan kerutan masam. Dia merasa ada yang salah dari seni beladiri milik Zhao Jian itu, tetapi ia tetap melangkah maju karena tidak mungkin mundur lagi——sebab itu akan menguntungkan bagi Zhao Jian dengan melakukan serangan balik.
Cakar Nan Feng yang berbentuk belati tersebut berbenturan dengan bilah Pedang Keadilan yang tidak mengeluarkan kobaran api seperti sebelumnya.
“Gerakan Pertama Jurus Pedang Es Abadi!” teriak Zhao Jian dan Nan Feng terkejut tiba-tiba lengannya membeku.
“Gawat!” Nan Feng mundur beberapa langkah. “Bocah ini memiliki dua jenis energi spiritual!” gerutunya sembari menggertak kan giginya karena energi spiritual api lebih lemah dari energi spiritual es kecuali energi spiritual dalam Dantian-nya lebih besar.
Nan Feng menotok titik Meridian di bahunya agar bagian tubuhnya yang lain tidak membeku.
“Sebenarnya kedua energi spiritual itu bukan milikku ha-ha-ha... Aku sebenarnya memiliki energi spiritual Angin yang tingkatannya lebih rendah!” sahut Zhao Jian, karena yang ia gunakan tadi adalah energi spiritual pinjaman dari Beast Rubah kembar.
“Kau ternyata Beast Master?” gerutu Nan Feng yang kini merasa situasi tidak menguntungkan dirinya karena sama saja dirinya melawan dua musuh kalau Beast milik Zhao Jian menampakkan dirinya.
Nan Feng berpikir dia harus mencari cara untuk melarikan diri. Di kemudian hari dirinya masih bisa menculik gadis-gadis untuk menjadi tumbal tehnik beladirinya agar dapat menerobos ke Ranah Paramita dan saat itu ia akan membalaskan dendamnya pada Zhao Jian.
“Sial! Jangan kabur kau bandit sialan!” bentak Zhao Jian mengayunkan Pedang Keadilan ke arah depan.
Dia mengalirkan energi spiritual Angin ke bilah Pedang Keadilan, kemudian menggunakan Gerakan Kedua Jurus Pedang Dewa Mata Angin. Ratusan energi spiritual Angin berbentuk bulat sabit menghancurkan bebatuan yang runtuh dari langit-langit gua sehingga Zhao Jian dapat mengejar Nan Feng yang telah melarikan diri lebih dulu.
Zhao Jian menggunakan tehnik meringankan tubuh Langkah Angin, sehingga dia memperpendek jarak dengan Nan Feng dengan cepat.
“Sial! Bocah itu telah menyusulku,” gerutu Nan Feng saat merasakan Aura Zhao Jian. “Aku tidak boleh mati di sini, padahal aku hampir mencapai Ranah Paramita!” keluhnya sembari menghancurkan dinding gua agar Zhao Jian tidak dapat menyusulnya.
Namun, Zhao Jian tetap dapat menyusul Nan Feng, karena longsoran batu yang bertujuan menghambat gerak Zhao Jian dihancurkan dengan mudah melalui Jurus Pedang Dewa Mata Angin.
Nan Feng akhirnya mencapai sisi lain gunung dan lengannya juga tidak membeku lagi. Namun, ekspresi wajahnya sangat masam karena dirinya masih merasakan Aura Zhao Jian menyusul dirinya.
“Kakak tolong selamatkan aku!” gumam Nan Feng sembari melepaskan kembang api ke langit, kemudian ia kembali menghancurkan lereng gunung agar lubang cacing itu tertutup sehingga memperlambat gerakan Zhao Jian.
...***...
Patriark Klan Nan mengerutkan keningnya saat mendengar laporan dari bawahannya bahwa kembang api dengan kode rahasia Klan Nan muncul di langit, dan kode itu menandakan anggota penting Klan Nan dalam bahaya.
Patriark Klan Nan langsung berspekulasi kalau murid Ranah Saint Sekte Pedang Abadi telah mengalahkan adiknya, Nan Feng.
Dia menggertak kan giginya dan sangat marah sekali. Namun, dia segera menenangkan hatinya dan berpikir tidak mungkin membunuh murid tersebut untuk saat ini karena dia dan para Penatua baru saja memulai Kultivasi tertutup.
Kalau ia dan para Penatua berhenti berkultivasi sekarang maka Klan lain akan melampaui kekuatan Klan Nan, karena batasan Kultivasi di Gui Dao Kekaisaran Jiang kini sudah melonggar dan Ranah Paramita bukan lagi basis Kultivasi yang sulit dicapai.
“Hubungi Hakim Kota Nandong dan minta dia menolong Nan Feng, katakan juga kita akan membayar biaya besar atas jasanya nanti!” seru Patriark Klan Nan pada bawahannya.
“Baik Patriark!” sahut bawahannya itu segera menjauh dari tempat Patriark Klan Nan melakukan Kultivasi tertutup tersebut.