
Hua Que tersenyum lebar dan berkata, “Sejak kapan menerima murid dilihat dari peringkat Puncak? Xiao Shi yang terlemah saja boleh menerima murid berbakat tinggi!”
“Kau!” Mo Yunfeng mengerutkan keningnya, karena biasanya murid-murid yang bukan Pengguna Pedang akan masuk ke Puncak Abadi-nya. Namun, Hua Que kini malah ikut-ikutan dengan sikap Xiao Shi—merasa dirinya hebat dan spesial.
Liu Hao menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat. “Aku akan memasuki Puncak Abadi, karena Penatua Mo Yunfeng adalah Pengguna Tombak maka belajar darinya pasti akan membuat tehnik Tombakku makin berkembang pesat!”
Mo Yunfeng tersenyum sembari menatap Hua Que dengan tatapan mengejek.
“Terserah kaulah! Masih banyak murid yang mau ke Puncak Gunung Emas!” sahut Hua Que sangat kesal dengan pilihan Liu Hao.
Pemuda yang bersitegang dengan Zhao Jian kemudian maju setelah Liu Hao menjauh dari Batu itu. Dia hanya mampu mendorong Batu sejauh Lima Belas Langkah dan diterima di Puncak Gunung Emas.
Yan Yue diterima di Puncak Abadi, karena ia memiliki senjata Guqin. Zhao Fu diterima di Puncak Gunung Emas. Ada tiga murid yang diterima di Puncak Gunung Pedang dan ketiganya berasal dari Klan besar.
Semua murid telah mengikuti tes, kecuali Liu Ruxu yang dengan gugup melangkah mendekati Batu.
“Dia cantik sekali! Kamu diterima di Puncak Gunung Emas tanpa perlu melakukan tes!” canda Hua Que sehingga Su Bimbing menatap tajam padanya, karena Su Bimbing baru menerima satu murid saja dan murid wanita lainnya tidak masuk dalam kriterianya.
Detak jantung Liu Ruxu berdebar-debar saat meletakkan telapak tangannya pada Batu, kemudian Batu itu tiba-tiba menjadi Putih dan terdorong sejauh Lima Ratus Langkah.
Para Penatua tercengang dan tersenyum lebar karena bakat menentang langit lainnya telah muncul, walaupun usia Liu Ruxu termasuk tua untuk kategori jenius—karena basis kultivasi-nya hanya Ranah Spirit saja. Namun, itu masih bisa ditingkatkan lagi karena bakat bela dirinya sangat tinggi.
“Puncak Gunung... eh? Apa-apaan kau ini, kenapa para wanita kini makin tak tahu tata krama?” Penatua dari Puncak Gunung Pedang sangat marah, karena tiba-tiba Su Bimbing terbang membawa Liu Ruxu ke Puncak Awan Putih.
Para Penatua lainnya tertawa, karena Dua murid berbakat yang seharusnya memasuki Puncak Gunung Pedang malah dilarikan oleh Dua Penatua cantik.
Liu Ruxu linglung, “Apakah aku sangat hebat seperti Jian gege?” gumamnya tersenyum. “Aku tidak akan menjadi beban lagi untuk Jian gege dan akan berada di sisinya saat bertarung melawan musuh!” pikirnya lagi.
...***...
Jiang Xue dan Mu Lan menceritakan kejadian unik yang terjadi pada perekrutan murid Pelataran Dalam tahun ini. Mereka juga mengatakan padanya bahwa calon suaminya sebenarnya lumayan tampan juga dan Penatua Su Bimbing malah melarikan murid dari Klan Zhao yang memiliki bakat beladiri tinggi.
Namun, Jiang Ruo tidak tertarik dengan topik pembicaraan tentang Zhao Jian calon suaminya, dia justru tertarik dengan murid yang dibawa oleh Penatua Su Bimbing itu.
“Kalian coba rayu dia agar mau bergabung dengan kelompok kita, jangan sampai murid hebat sepertinya akan menjadi bawahan kelompok mawar!” sahut Jiang Ruo.
Kelompok Mawar yang dimaksudnya itu adalah kelompok yang berseberangan dengan mereka dan kerap terjadi konflik dengan kelompok Teratai Emas bentukannya, karena hanya dalam Dua tahu saja setelah Jiang Ruo memasuki Puncak Awan Putih, ia telah menarik banyak murid ke dalam kelompok bentukannya itu—sehingga membuat kelompok Mawar cemburu dan tidak senang.
“Tenang saja, dia pasti akan bergabung dengan Kelompok Teratai Emas karena dia kan dari Klan Zhao, tentu ia akan bergabung dengan kelompok yang diketuai oleh calon istri tuan mudanya!” canda Mu Lan—sehingga Jiang Ruo langsung mengerutkan keningnya.
...***...
Liu Ruxu mendapatkan beberapa informasi dari Penatua Su Bimbing, kemudian ia berjalan bersama Zi Yun yang juga murid yang baru diterima di Puncak Awan Putih sepertinya.
Karena Zi Yun tinggal di Ibukota Kekaisaran Jiang, maka ia sudah tahu beberapa informasi tentang Sekte Pedang Abadi dan ia menceritakan semua yang ia tahu pada Liu Ruxu—sehingga Liu Ruxu sangat senang langsung bertemu teman yang sangat baik di hari pertamanya di Puncak Awan Putih.
“Lihat itu adalah Putri Mahkota Kekaisaran Jiang, Jiang Ruo... ah, dia sangat cantik sekali!” Zi Yun menatap Jiang Ruo dengan tatapan berbinar-binar.
Kini Liu Ruxu khawatir Zhao Jian akan melupakannya setelah Jiang Ruo resmi menjadi istrinya. “Gawat! Apa yang harus kulakukan? Apakah aku membunuhnya saja, tetapi basis kultivasi-nya Ranah Tianzun! Itu jauh di atasku!” gumamnya sembari menggigit bibir merahnya.
Zi Yun bingung melihat ekspresi cemas di wajah Liu Ruxu. “Apakah kamu baik-baik saja, saudari Ruxu?” tanya Zi Yun khawatir.
Liu Ruxu langsung tersenyum masam dan berkata, “Aku baik-baik saja! Ayo kita menuju kamar asrama kita!”
Jiang Ruo merasa ada tatapan aneh yang tertuju padanya, dan itu seperti tatapan permusuhan sehingga ia menoleh ke arah Liu Ruxu dan Zi Yun yang telah memunggunginya.
“Aneh, sepertinya wanita itu tidak menyukaiku!” gumamnya sembari menghela napas panjang dan berjalan bersama Mu Lan dan Jiang Xue menuju tempat latihan Puncak Awan Putih.
...***...
Zhao Jian tak menyangka di Puncak Penjinak Beast hanya ada bangunan gubuk saja, ini tak sesuai dengan reputasi Sekte Pedang Abadi sebagai salah satu Sekte Besar di Kekaisaran Jiang.
Penatua Xiao Shi langsung menyuruhnya memberikan makan Beast-Beast yang berkeliaran di Puncak Penjinak Beast.
“Hadehhh! Kalau begini aku bukan murid sekte namanya, tapi pegawai peternakan!” gerutu Zhao Jian sembari melempar potongan-potongan daging kerbau pada Beast-Beast yang berkeliaran di depannya.
Beast-Beast itu adalah Binatang buas yang baru berevolusi menjadi Binatang Spritual atau Beast. Mereka setara dengan Ranah Spirit akan tetapi tidak berawakening ke bentuk Manusia seperti Beast miliknya.
Beast Phoenix milik Xiao Shi yang setara dengan Ranah Saint juga tidak dapat berawakening, sehingga Zhao Jian curiga kalau Beast miliknya ini adalah makhluk dari Dunia lain atau Binatang Spritual dari Surga yang dibawa kabur oleh Dewa yang telah dibuang dari sana.
“Itu adalah Beast Kucing Kilat, larinya itu sangat cepat!”
“Oh, ada Beast Ayam Surgawi. Kalau di makan mungkin bisa meningkatkan basis Kultivasi-ku he-he-he ....” Air liur Zhao Jian menetes menatap Beast Ayam Surgawi itu.
Beast Ayam Surgawi itu langsung berkokok dan berkata, “Sialan kau Manusia! Jangan pikir dapat memakanku! Sebelum kau dapat melakukan itu aku akan mencakar wajahmu hingga hancur berkeping-keping!” gerutunya.
Zhao Jian menyeka alir liurnya dan berkata, “Kau bisa terbang, tidak? Bagaimana kalau kamu menjalin kontrak jiwa denganku?” Karena ia belum memiliki Beast dengan tipe yang bisa terbang.
Beast Ayam Surgawi yang besarnya sebesar gubuk yang diberikan Xiao Shi untuk Zhao Jian itu langsung membusungkan dada dan mengepakkan sayapnya.
“Kuk... kukukkukkkkkkk! Tentu aku bisa terbang, jangan anggap remeh aku walaupun aku adalah Ayam.”
“Sudah cepatlah teteskan darahmu pada telapak tanganku, jangan mengoceh terus! Aku harus membuat kontrak jiwa dengan salah satu dari kalian, kalau tidak Penatua Xiao Shi tidak akan membolehkanku turun gunung!” sela Zhao Jian.
Dia tidak terlalu berharap dengan kekuatan yang dimiliki oleh Beast Ayam, karena yang ia butuhkan adalah Beast Ayam Surgawi bisa terbang dan akan menjadi alat transportasinya.
Segel Jiwa pun terbentuk saat keduanya selesai melakukan kontrak Jiwa. Dengan begitu, maka Zhao Jian dapat memerintah Beast Ayam Surgawi tanpa bisa membantah ucapannya.
“Pertama ayo kita melapor pada Penatua Xiao Shi!” seru Zhao Jian melompat ke atas Beast Ayam Surgawi berjenis kelamin jantan tersebut. “Hmm, mulai sekarang kamu kuberikan nama Ayam Jago!”
Beast Ayam Surgawi langsung berkokok karena senang mendengar nama yang diberikan Zhao Jian padanya. Dia merasa nama itu terdengar sangat hebat dan cocok untuknya.