Beasts Master

Beasts Master
Interogasi Fang Huang



“Yang Mulia... Pangeran Han mengirim pesan darurat dari ibukota!” Pengawal Pribadi Raja Fang Zihao memberikan gulungan yang baru sampai dibawa oleh Merpati.


Raja Fang Zihao yang sedang dirawat oleh tabib karena menderita luka-luka dalam Perang melawan Aliansi Aliran Hitam yang dipimpin oleh Ranah Immortal Xiao Lang dan hasil peperangan itu kedua belah pihak memilih mundur karena Xiao Lang juga terluka.


Walaupun Raja Fang Zihao cuma Ranah Paramita, ia bisa mengimbangi kekuatan Xiao Lang karena energi spritual dari Gui Dao Kerajaan Kura-Kura Awan membuat basis Kultivasi-nya meningkatkan satu tingkat untuk sementara.


Raja Fang Zihao membuka gulungan itu dan raut wajahnya langsung mengkerut. “Sial! Bocah-bocah sialan itu ingin penduduk Kerajaanku dihancurkan oleh Kekaisaran Jiang itu!” gerutunya—karena di dalam informasi dalam gulungan itu, Fang Han mengatakan kalau utusan Kekaisaran Jiang mengatakan kalau negosiasi itu ditunda-tunda maka militer Kekaisaran Jiang akan melakukan serangan skala penuh—yang berarti tak ada pengampunan lagi dan semua penduduk yang tak bersalah pun akan terkena dampaknya.


Raja Fang Zihao menghela napas panjang dan menengadah menatap bintang-bintang di langit. Dia terdiam sejenak memikirkan solusi terbaik mengatasi masalah tersebut.


“Kirim Pesan pada Pangeran Han untuk membawa utusan dari Kekaisaran Jiang itu kemari!” seru Raja Fang Zihao pada Pengawalnya.


Dia berencana untuk menunjukkan pada utusan itu bahwa Kerajaan Kura-Kura Awan saat ini sedang bergejolak dan berharap utusan itu memberikan solusi terbaik untuk mereka, terutama ia berharap seluruh Penduduk dapat diterima oleh Kekaisaran Jiang tanpa mencurigai mereka akan berpotensi akan memberontak di masa depan seperti yang dilakukan oleh Xiao Lang yang dulunya berasal dari Gui Dao kecil yang ditaklukkan oleh Kerajaan Kura-kura Awan.


...***...


Ratusan ahli beladiri yang mengenakan penutup wajah hitam melesat menggunakan tehnik meringankan tubuh di atas rumah-rumah penduduk Ibukota dan arah tujuan mereka adalah Istana Kerajaan Kura-Kura Awan.


“Malam ini kita akan mengusir penjajah itu dari negeri kita, jangan takut mati! Hidup Kerajaan Kura-kura Awan!” seru Penatua Sekte Matahari Abadi melalui telepati pada para tuan muda dari berbagai Klan tersebut.


“Hidup Kerajaan Kura-kura Awan!”


“Hancurkan Penjajah Asing itu!”


Para tuan muda berbagai Klan tersebut menyahut dengan semangat membara.


Fang Han tidak sabar menunggu hasil penyelidikan pihak Pengadilan yang hingga kini belum berhasil memaksa Fang Huang untuk mengatakan apa motifnya tiba-tiba menikam Zhao Jian.


“Kesabaranku ada batasnya saudara Huang!” Fang Han berkata pelan dengan tatapan dingin.


“Ha-ha-ha... Kan, sudah kukatakan berulangkali kalau aku ingin menikamnya karena aku jatuh cinta dengan wanita di sebelahnya! Bukankah Pangeran Han juga menyukai gadis itu?” Sudut bibir Fang Huang memancarkan seringai tipis mengejek Fang Han.


Fang Han mengerutkan keningnya, ia tidak menyangka Fang Huang tahu dirinya menyukai Jiang Ruo—padahal hanya segelintir orang saja yang tahu kejadian itu.


“Mungkinkah ada Pelayan lain yang diam-diam menyebarkan rumor itu?” pikir Fang Han. “Sekali lagi, apa motifmu menikam Hakim Jian! Kalau kau masih mengatakan lelucon tadi maka jangan salahkan aku bertindak kejam!” Niat membunuh Pangeran Fang Han membuat raut wajah Fang Huang menjadi masam. Namun, ia tetap memilih bungkam.


Kesabaran Fang Han benar-benar habis, dia menarik Belati dari pinggangnya dan menusuk telapak tangan Fang Huang.


Fang Huang menjerit histeris, air matanya membasahi wajahnya dan dia tetap menutup mulutnya rapat-rapat sehingga Pangeran Fang Han makin kesal padanya.


Fang Han menarik Belati yang menancap di telapak tangan Fang Huang dan mengayunkan Belati itu ke arah dada Fang Huang yang langsung menutup matanya. Dia tetap bungkam walaupun Belati itu akan menancap ke dadanya.


Kasim Ma mencengkram pergelangan tangan Pangeran Fang Han saat ujung belati itu hampir mengenai dada Fang Huang. “Pangeran Han... tolong jangan tergesa-gesa membunuhnya! Biarkan Pangadilan yang memutuskan hukuman padanya,” bisiknya.


Sudut bibir Fang Huang memancarkan seringai tipis mengejek Pangeran Fang Han karena tidak berani membunuhnya.


Sebuah tamparan keras tiba-tiba meninggalkan bekas lima jari di wajah Fang Huang.


“Sungguh memalukan sekali Klan Fang-ku memiliki orang sepertimu!” cibir Fang Zening dengan tatapan tajam dan menendang dada Fang Huang, sehingga Fang Han yang kini harus menenangkan amarah adik perempuannya itu.