
Kelompok-kelompok itu biasanya diketuai oleh tuan muda Klan besar, mereka yang bergabung dengan kelompok mereka akan mendapatkan banyak manfaat—seperti mendapatkan perlindungan dan bila melakukan misi akan mudah mendapatkan rekan serta bila bertemu musuh, maka kelompoknya itu akan ikut membantu.
Murid-murid senior itu langsung tertarik dengan Zhao Jian, karena basis Kultivasi-nya sangat tinggi padahal dia baru berusia Dua Puluh Tahun. Dia sudah termasuk jenius dalam beladiri dan itu akan menguntungkan kelompok mereka bila mereka berhasil merekrutnya.
Zhao Jian juga seorang Hakim, maka dia juga akan menjadi orang dalam mereka di Pengadilan Kekaisaran—sehingga bila mereka berbuat salah maka Zhao Jian dapat membantu mereka meringankan hukuman atau membebaskan mereka.
“Sepertinya mereka mulai lagi!” Jiang Xue menatap tajam ke arah para murid-murid Pelataran Dalam itu.
“Apakah kita akan mengadukan hal ini pada Saudari Ruo bahwa calon suaminya akan bermasalah dengan mereka?” sahut Mu Lan.
“Tidak! Kita biarkan saja, karena saudari Ruo juga sepertinya tidak tertarik menikahi dia walaupun dia terlihat sangat tampan juga. Namun, apakah salah satu dari mereka adalah istrinya?” Jiang Xue menunjuk ke arah Liu Ruxu, Yan Yue dan Luo Bing.
“Mereka cantik-cantik sekali, kenapa mereka lebih berlemak dari kita?” Mu Lan malah memperhatikan dadanya dan dada Jiang Xue yang berukuran kecil.
“Apa yang kau pikirkan bodoh!” gerutu Jiang Xue kesal, karena dada tiga gadis cantik dari Klan Zhao itu sangat membuat mata laki-laki bersinar-bersinar.
Tujuh Penatua dari ketujuh Puncak Sekte Pedang Abadi mendarat di halaman Paviliun, dan murid-murid Pelataran Luar segera membawakan kursi untuk mereka.
Semua yang datang adalah pemimpin puncak Gunung, kecuali Puncak Gunung Pedang yang diwakilkan oleh Penatua nomor dua karena Patriark Sekte Pedang Abadi tidak pernah hadir dalam kegiatan seperti ini.
“Tahun ini bakat-bakat muda Sekte Pedang Abadi kita lumayan bagus!” kata Mo Yunfeng dari Puncak Abadi sembari mengelus janggut putihnya.
“Benar sekali!” sahut Penatua dari Puncak Gunung Pedang.
“Hei, kenapa gadis Phoenix tiba-tiba muncul di sini, seharusnya kamu menggembala Beast saja ha-ha-ha ....” Hua Que dari Puncak Gunung Emas mengejek Xiao Shi dari Puncak Penjinak Beast.
Xiao Shi mengerutkan keningnya dan bersiul sehingga suara kicauan Phoenix terdengar dari Puncak Penjinak Beast. Para murid-murid baru itu langsung panik, hanya murid-murid dari Klan Zhao saja yang kebingungan karena tidak tahu alasan mereka menjadi panik.
Bola Api yang sangat besar tiba-tiba melesat dari Puncak Penjinak Beast, barulah murid-murid dari Klan Zhao panik dan mereka bersembunyi di belakang Zhao Jian.
“Eh, aku bukan tameng! Aku bersembunyi di mana kalau begini?” Zhao Jian ikutan panik. Namun, ia melihat para Penatua tetap tenang, sehingga ia juga berpura-pura tenang sembari meminta Beast Kupu-Kupunya untuk bersiap-siap menolongnya bila tak ada yang menghentikan bola api itu.
“Kenapa kalian selalu bertengkar? Dan apakah kamu ingin membunuh murid-murid kita?” Su Bimbing dari Puncak Awan Putih melompat Sepuluh tombak dari permukaan tanah dan mengayunkan Perangnya.
Energi Spritual Es berbentuk Siluet Naga Putih melesat dari bilah Pedangnya.
Xiao Shi segera mengeluarkan Payung setelah terjadi ledakan akibat benturan dua energi spritual yang berlawanan tersebut.
“Sepertinya kehadiranku tidak diterima di sini? Lebih baik aku pergi saja!” Xiao Shi menghela napas panjang.
“Baguslah! Hus! Hus! Jauh-jauh sana!” Hua Que melambaikan tangannya sembari tersenyum lebar. Namun, senyumannya langsung memudar saat Xiao Shi malah merangkul tangan Zhao Jian. “Hei, dia belum menunjukkan bakat bela dirinya, kenapa kamu malah mengambilnya lebih dulu? Tak ada murid yang mau ke Puncakmu!” gerutunya, karena murid-murid yang tidak diterima di Puncak lain akan memasuki puncaknya.
Kini Hua Que akhirnya menyadari kenapa Xiao Shi muncul di sini, ternyata ia sudah mengincar murid yang ia sukai. Apalagi murid Pria yang diambilnya ini memiliki basis Kultivasi Ranah Tianzun dalam usia yang sangat muda, seharusnya ia menjadi murid Puncak Gunung Pedang.
“Benar! Ikuti prosedur resmi Xiao Shi, biarkan murid itu yang menentukan ke Puncak mana ia ingin masuk!” sahut Mo Yunfeng juga tertarik dengan Zhao Jian—apalagi Pedang di punggung Zhao Jian adalah artefak tingkat tinggi yang menunjukkan tehnik berpedangnya pasti sangat bagus.
Xiao Shi tersenyum lebar dan langsung membawa Zhao Jian terbang. “Dia adalah Beast Master, Puncak Penjinak Beast tak akan menyerahkannya pada kalian! Kalau kalian tak terima adukan saja pada Patriark!”
“Sial! Padahal dia lebih cocok di Puncak Gunung Pedang dan Patriark sudah mengatakan itu padaku agar merekrutnya, kalau begini aku pasti dimarahi oleh Pak tua itu!” Penatua dari Puncak Gunung Pedang menggerutu.
“Dia tak akan marah, kok! Xiao Shi kan Putrinya, sama seperti dulu dia akan meminta kita untuk memaafkan kesalahannya!” sahut Su Bimbing, kemudian ia menatap murid-murid baru lainnya. “Suntikkan energi spritual kalian pada batu itu!” serunya.
“Aku duluan!” seru Luo Bing mengangkat tangannya sembari berlari ke depan Batu yang di tengahnya ada bekas telapak tangan.
Sinar Hijau dan Merah memancar dari batu itu dan batu itu bergeser satu langkah.
Penatua dari Puncak Tungku Surgawi tersenyum lebar. “Lumayan-lumayan... energi spritual Roh Kayu dan Energi Spritual Api. Namun, bakat bela dirimu sangat rendah, karena kekuatanmu hanya mampu mendorong batu itu satu langkah saja!”
Lu Bing langsung gelisah, karena ia mungkin tidak akan diterima di Puncak Tungku Surgawi karena bakat bela dirinya sangat rendah.
“Kamu diterima di Puncak Tungku Surgawi! Ambil ini!” Penatua dari Puncak Tungku Surgawi melempar Plakat murid Pelataran dalam pada Luo Bing.
“Ha-ha-ha... aku diterima!” Luo Bing sangat senang.
“Selanjutnya aku!” Liu Hao berlari ke depan, sehingga murid-murid lama Sekte Pedang Abadi tampak sangat kesal, karena murid-murid Klan Zhao malah menyerobot antrian padahal mereka yang lebih dulu sampai ke halaman Paviliun tersebut.
Sinar menyilaukan muncul dari Batu itu dan Batu tersebut bergeser sejauh Lima Puluh langkah, sehingga Penatua dari Puncak Abadi dan Penatua dari Puncak Gunung Emas tersenyum.
“Datanglah ke Puncakku!” Mo Yunfeng dan Hua Que berkata bersama-sama.
Mo Yunfeng mengerutkan keningnya. “Dia itu pengguna Tombak! Lebih cocok dengan Puncak Abadi kami, lagi pula kalian itu nomor enam sedangkan kami kelima terkuat di Sekte Pedang Abadi!”