Beasts Master

Beasts Master
Perpisahan



Jiang Ruo dan Liu Ruxu sangat terkejut mendengar ucapan Zhao Jian yang mengatakan dirinya akan pergi ke Gui Dao asing sebagai mata-mata dan kemungkinan akan kembali sangat lama.


Jiang Ruo menggertak kan giginya, dulu ia pernah mencintai Lu Xiaoran yang tiba-tiba menghilang dan kini saat ia mulai mencintai Zhao Jian tiba-tiba dia juga ikut menjauh darinya.


“Aku akan ikut bersamamu!” Jiang Ruo tiba-tiba memeluk Zhao Jian dan menangis tersedu-sedu.


“Eh?” Liu Ruxu terkejut Jiang Ruo akan memeluk Zhao Jian, padahal biasanya ia selalu bersikap dingin bahkan untuk urusan ranjang saja butuh waktu lama bagi Zhao Jian menggodanya agar ia mau ikut bersenang-senang bersama. "Aku akan tinggal di Sekte saja!” sahut Liu Ruxu sadar diri kemampuan tidak cukup dan mungkin akan menjadi beban saja di sana nantinya.


Zhao Jian mengelus kepala Jiang Ruo dan menyeka air matanya. “Kamu tidak bisa ikut karena di sana sangat berbahaya, tempat yang aku tuju adalah Gui Dao besar yang mungkin memiliki banyak Ranah World Master. Kalau kamu ikut aku takut mereka akan merebutmu dariku!”


Zhao Jian sudah berspekulasi di sana pasti ada karakter kuat seperti tokoh utama dalam cerita dongeng yang dapat membuat para gadis-gadis cantik menempel padanya. Tentu saja Zhao Jian tidak ingin Jiang Ruo maupun Liu Ruxu direbut oleh laki-laki lain.


“Tapi!” sela Jiang Ruo bersikeras untuk tetap ikut bersama Zhao Jian.


Zhao Jian menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan, kemudian ia berjalan ke arah jendela sembari menaruh tangannya ke belakang.


“Apa kamu tidak khawatir dengan keadilan di negeri kita ini, Ruo‘er?” Zhao Jian terdiam sejenak dan menarik napas panjang lagi. “Sebenarnya berat rasanya meninggalkan negeri ini karena tugasku untuk menegakkan keadilan belum terwujud, entah siapa yang akan melanjutkan tongkat estafet ini.”


Liu Ruxu sebenarnya ingin tertawa karena ia tahu apa maksud bualan suaminya itu, kemudian ia berkata, “Ruxu‘er akan mendaftar menjadi Petugas Pengadilan agar dapat meneruskan tugas Jian gege!”


“Eh?” Jiang Ruo merasa ada yang janggal, keduanya seperti sedang memperagakan sandiwara di teater saja. Dia pun cemberut dan menggembungkan pipinya, “Baiklah aku akan menjadi Hakim menggantikan kedudukan Jian gege untuk sementara!”


“Betulkah?” Zhao Jian tiba-tiba sudah berada di hadapan Jiang Ruo sembari menggenggam kedua tangannya. “Terimakasih Ruo‘er... dari awal aku yakin kamu dan Ruxu‘er pasti akan meneruskan pekerjaan mulia ini!” godanya sehingga Liu Ruxu akhirnya tertawa terkekeh-kekeh, padahal ia sudah berusaha agar tidak tertawa tetapi ia tak sanggup lagi menahannya karena kelakuan lucu suaminya itu.


“Sudah berhenti bertingkah aneh-aneh!” gerutu Jiang Ruo, “serahkan Kitab Keadilan padaku agar aku dapat membersihkan kotoran yang menggerogoti Kekaisaran ini!” katanya dengan tegas.


Zhao Jian tidak menyangka Jiang Ruo benar-benar mau menjadi Hakim menggantikan dirinya.


Dia kemudian mengeluarkan Kitab Keadilan dari Tas Sihirnya. Dia kemudian menyerahkannya pada Jiang Ruo dan menjelaskan cara kerja Kitab Keadilan itu.


Karena dirinya akan pergi lama dan tidak tahu kapan kembali, Zhao Jian langsung mendorong Jiang Ruo dan Liu Ruxu ke atas ranjang. Dia harus melakukan pergulatan panas hingga tongkat saktinya tak bisa tegak lagi.


...***...


Dua hari kemudian, Zhao Jian mengantar Jiang Ruo dan Liu Ruxu kembali ke Sekte Pedang Abadi karena Kasim Long mengatakan dirinya akan menjalankan misi ke Dinasti Gu Agung tengah malam nanti.


Dia kemudian mengeluarkan Tas Sihir. “Aku tahu tas Sihirmu dapat menampung Beast tetapi itu hanya untuk Beast betina saja, sedangkan yang jantan malah kau suruh berjalan.”


Zhao Jian tertawa mendengarnya. “Aku sebenarnya berencana akan meninggalkan Ayam Jago di Puncak Penjinak Beast, Penatua Shi!” Makanya ia datang ke sini.


“Bawalah dia dan kalau yang dikatakan oleh Kaisar itu benar, maka kamu harus melakukan kontrak jiwa dengan lebih banyak Beast agar di masa depan kamu dapat melindungi Kekaisaran Jiang dari serbuan Gui Dao asing!” kata Penatua Xiao Shi. “Kita tidak tahu berapa banyak Ranah World Master Gui Dao Asing, kalau kamu memiliki banyak Beast yang setara dengan Ranah World Master maka siapapun yang ingin menghancurkan Kekaisaran Jiang kita maka kamu akan menjadi tameng kami menghadang mereka ha-ha-ha!”


Zhao Jian menerima Tas Sihir itu dan mengalirkan energi spiritual-nya. Di dalamnya ternyata memiliki ruang dimensi yang luas dan itu mampu ribuan Beast Ikan Paus berukuran besar.


“Dari mana Penatua Shi mendapatkan Tas Sihir ini?” selidiknya penasaran karena ini pertama kalinya ia melihat tas sihir yang memiliki daya tampung besar.


“Aku membelinya dari pelelangan, orang yang menemukannya menjualnya karena tidak dapat membuka segenya. Saat aku menghancurkan segelnya ternyata di dalam ada belasan Beast dan salah satunya adalah Beast Ular Tujuh Warna yang melakukan kontrak jiwa dengan Xuan Ji. Kalau kamu mau ambil saja beberapa Beast liar yang belum di kontrak jiwa itu!” sahut Penatua Xiao Shi.


Zhao Jian merasa tidak ada Beast yang spesial di Puncak Penjinak Beast dan ia pun menolak tawaran itu. Lagi pula untuk merawat mereka butuh sumberdaya yang sangat besar, sementara dana besar yang dijanjikan oleh Kaisar ternyata hanya 1000 Keping Emas saja.


“Apa kau memang tidak bisa membawaku ke sana?” tanya Penatua Xiao Shi tergiur ikut ke Dinasti Gu Agung dan meningkatkan basis Kultivasinya di sana hingga ke Ranah World Master. “Kita bisa saling bahu-membahu, kalau kau mau aku juga bersedia menjadi selirmu!” godanya sembari mengedipkan mata.


Walaupun Xiao Shi memiliki wajah yang cantik tetapi sikapnya seperti laki-laki sehingga Zhao Jian mengerutkan keningnya, tidak menyangka Penatua berambut merah itu akan menggodanya.


Zhao Jian menyilangkan kedua tangannya dan berkata, “Jimat Teleportasi itu hanya bisa membawa satu orang saja.”


“Yah, sayang sekali!” Penatua Xiao Shi menghela napas panjang.


“Kalau Penatua Shi penasaran rasanya seperti apa, aku mau kok mengajari Penatua. Cukup berikan aku beberapa keping emas sebagai bekal perjalananku!” sahut Zhao Jian tersenyum lebar.


Xiao Shi mengerutkan keningnya dan langsung menendang dada Zhao Jian sehingga terlempar dari gubuk yang berdiri di dahan Pohon besar tersebut.


Xuan Ji yang hendak meminta jatah Pil Immortal bulanan terkejut melihatnya. Dia segera berbalik badan dan berpikir lebih baik mengambil misi saja daripada harus berurusan dengan Penatua Xiao Shi.


“Sial! Padahal aku hanya menawarkan jasa saja, kenapa Penatua Shi malah marah?” gumam Zhao Jian menggerutu. “Huh, aku yakin bila aku murid Puncak lain maka Penatua di sana akan memberikan bekal sumberdaya yang besar untukku!” keluhnya lagi.


“Kembalikan saja Tas Sihir yang kuberikan itu bila kamu merasa aku sangat miskin, asal kau tahu Tas Sihir itu seharga 1000 Keping Emas yang membuatku berutang pada semua Penatua di Puncak Penjinak Beast!” Suara Penatua Xiao Shi menggema di benak Zhao Jian.


“Aku tidak mengeluh kok, Penatua Shi... terimakasih atas hadiahnya dan sampai jumpa lagi di masa depan!” Zhao Jian menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat sebelum melesat meninggalkan Puncak Penjinak Beast.