
Zhao Jian mengurung Jiang Mo dan Tujuh Ranah Jie Zhu dari Kekaisaran Jiang tersebut di penjara bawah tanah lereng gunung Kun Lun.
Zhao Jian juga memasang formasi susunan bintang untuk menekan basis Kultivasi mereka agar tidak bisa kabur dari sana. Dia menggunakan energi spritual milik Violet dalam membuat membuat formasi susunan bintang itu, sehingga dapat menekan basis Kultivasi Ranah Tianzun seperti Jiang Mo.
Menurut keterangan Jiang Mo, Ranah Kultivasi Kaisar Gui Dao mereka adalah Ranah Immortal, Dua tingkat di atas basis kultivasi milik Violet.
Zhao Jian merasa tidak ada harapan menang melawan Kaisar tersebut, apalagi masih ada Tiga Ranah Paramita yang merupakan Patriark Sekte besar di Kekaisaran Jiang, dan Tujuh Jenderal Ranah Saint serta Dua Puluh Ranah Saint lainnya yang merupakan para Penatua dan Patriark Sekte lainnya di Kekaisaran Jiang.
Ahli beladiri Kekaisaran Jiang ini terlalu menakutkan, apalagi ada Ratusan Ranah Tianzun yang setara dengan dirinya.
Lu Xiaoran sangat beruntung dijadikan sebagai calon menantu oleh Kaisar—karena ia memiliki cara khusus mendeteksi keberadaan Gui Dao kecil, sehingga membantu Kaisar menyerap Kristal Gui Dao untuk menaikkan basis Kultivasi-nya.
“Menurut Jiang Mo, dalam satu bulan paling cepat Gui Dao Kekaisaran Jiang akan mencapai Gui Dao Kerajaan Zhao. Mudah-mudahan saja mereka mau menukar Jiang Mo dengan membiarkan Gui Dao kami pergi!” gumam Zhao Jian.
Jiang Mo, Jiang Fu dan Jiang Nie adalah anggota keluarga Kekaisaran, sehingga mungkin keluarga dari ketiganya akan menekan Kaisar agar menyelematkan mereka dan Zhao Jian sangat bersyukur ia tidak langsung menghukum mati mereka saat penyerangan mereka kemarin.
“Jian gege sudah bangun?” Liu Ruxu bertanya sembari mengelus wajah Zhao Jian.
“Ya ...,” sahut Zhao Jian masih terhanyut dalam lamunannya.
Liu Ruxu tahu apa yang dipikirkan oleh suaminya itu, sehingga ia tersenyum dan memeluk Zhao Jian. “Yang Mulia Raja mengatakan kita libur selama tiga hari. Jadi, jangan berpikir tentang pekerjaan saat ada di rumah. Hmm, bagaimana kalau kita lanjut lagi he-he-he ....”
“Tunda dulu Ruxu‘er... soalnya mereka mau dikemanakan?” Zhao Jian tersenyum masam karena yakin istrinya pasti langsung cemberut.
Liu Ruxu menoleh ke sebelahnya, ternyata Violet, Huli Jing dan Daji sedang rebahan; ekor kedua Beast Rubah itu bergerak-gerak sehingga terlihat sangat lucu. Namun, ekspresi wajah Liu Ruxu malah memerah, “Sial! Kenapa kalian mendapatkan tubuh wanita juga!” teriaknya merasa tersaingi.
“Jangan berteriak-teriak Ruxu‘er... nanti ayah dan ibu mertua khawatir kalau terjadi sesuatu yang mengerikan di sini!” sahut Zhao Jian menutup mulut istrinya itu.
Namun, Liu Ruxu malah mengigit tangannya sehingga ibu mertua Zhao Jian memasuki kamar mereka. Dia tercengang untuk sesaat dan sudut bibirnya memancarkan seringai tipis.
“Ara... ara... aku datang diwaktu yang tidak tepat! Cepat berikan kami cucu yang imut-imut Jian‘er!” Ibu mertuanya langsung menutup pintu kamar sembari tertawa.
“Tidakkkkk! Ini salah paham!” Zhao Jian ingin menjelaskan apa yang telah terjadi. “Sial! Aku pasti dikira meniduri Beast-ku juga! Ini gara-gara kamu, istriku!” Zhao Jian terbaring pasrah menerima nasib akan menjadi bahan pembicaraan di Klan Liu.
Liu Ruxu cemberut dan berkata, “Ini jelas-jelas salah Jian gege karena tidak bisa mengatur Beastmu!”
“Pakailah pakaian ini, kalian itu seperti gadis manusia dan bertingkah lah seperti manusia juga!” seru Liu Ruxu menyerahkan pakaiannya pada ketiga Beasts milik suaminya itu.
Violet yang pertama mengambil Hanfu yang diberikan oleh Liu Ruxu. Dia memilih Hanfu berwarna Ungu seperti warna kulitnya saat menjadi Beast Ulat Ungu, sedangkan Huli Jing memilih Hanfu berwarna Putih dan Daji memilih Hanfu berwarna Merah.
Liu Ruxu mengerutkan keningnya karena Zhao Jian melirik ke arah Beastnya itu saat mengenakan pakaian. “Jian gege pasti berharap mereka menghilangkan cahaya menyilaukan itu, kan?” selidiknya.
“Kamu terlalu berpikiran liar, Ruxu‘er!“ Zhao Jian berkilah.
“Coba teteskan darah Jian gege ke Kitab Keadilan, aku ingin melihat apakah Jian gege berdusta atau tidak!” sahut Liu Ruxu.
Namun, Zhao Jian langsung menutup wajahnya dengan selimut berpura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Liu Ruxu.
“Cih! Dasar laki-laki mata keranjang! Semua laki-laki sama saja, mata mereka akan berbinar-binar saat melihat yang bening-bening!” gerutu Liu Ruxu mendengus kesal. Dia kemudian menoleh ke arah Tiga Beast milik suaminya itu. “Ayo ikut aku... kita akan mandi air panas bersama. Klan Liu kami memiliki kolam air panas alami di dekat sini!”
Violet, Huli Jing langsung mengangguk setuju, sedangkan Daji hanya mengatakan “Hmm” saja, karena sifatnya dari awal memang lebih pendiam dan paling malas bergerak dari Beast Rubah dengan simbol bulan sabit di keningnya tersebut.
Melihat istrinya dan Beastnya telah pergi, Zhao Jian segera beranjak dari tidurnya. Dia keluar dari Klan Liu untuk menghabiskan waktu luangnya.
Tak ada pemberontakan dari Klan lain setelah peristiwa kudeta yang dilakukan oleh Klan Lin. Mungkin para kekuatan lain di Kerajaan Zhao takut setelah mendengar kabar kalau dirinya telah mencapai Ranah Tianzun pertama dalam sejarah Kerajaan Zhao, bahkan tingkat kejahatan juga menurun sangat drastis—padahal Kerajaan Zhao sedang dalam tahap pemulihan kekuatan akibat perang yang baru saja terjadi.
Hanya dengan menjadi yang terkuat lah membuat semua orang segan dan takut, sehingga Zhao Jian bertekad untuk berkultivasi lebih giat agar segera menjadi Ranah World Master. Namun, masalahnya adalah Violet tidak bisa lagi meningkatkan Kultivasi-nya dengan menelan herbal yang dijual di pasaran. Dia kini membutuhkan madu langka dari Beast Lebah atau herbal berusia ratusan tahun, dan keduanya sangat sulit ditemukan karena sangat dibutuhkan untuk meningkatkan basis kultivasi.
Zhao Jian menghela napas dalam-dalam, akan tetapi seseorang menabraknya. “Maaf-maaf... aku tidak sengaja!”
“Tidak! Aku sebenarnya yang salah karena ....” Gadis cantik yang ditabrak oleh Zhao Jian terkejut melihatnya. “Ha-hakim Jian!” Dia sangat senang sekali.
“Eh, ternyata saudari Huang Xue... apakah kamu telah menjadi murid Akademi Kerajaan Zhao? Bagaimana dengan kabar saudaramu, apakah dia menjadi Walikota yang jujur?” sahut Zhao Jian senang bertemu dengan gadis itu.
Huang Xue menggembungkan pipinya. “Pertanyaan Hakim terlalu banyak, aku bingung mau menjawab yang mana lebih dulu. Namun, aku justru lebih senang mendengar kisah heroik Hakim Jian dalam menghadapi orang-orang asing yang menyerang Kerajaan Zhao kita dan tentang Hakim Jian yang menikahi kecantikan nomor satu di Kota Tianwu!”
Zhao Jian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum. “Pertanyaanmu juga sangat banyak! Bagaimana kalau kita bercerita di kedai teh saja. Kamu sedang libur, kan?” Karena seluruh kegiatan pemerintahan sedang diliburkan akibat peristiwa kudeta kemarin.
Huang Xue menganggukkan kepala dan menarik tangan Zhao Jian ke kedai teh di dekat mereka. Dia sudah tak sabar mendengar kisah heroik dari Hakim termuda di Kerajaan Zhao tersebut.