
“Gr-gr-gr-gr!” Gaoer memamerkan giginya ke arah rombongan Su Mo yang telah sampai di depan kamar Zhao Jian.
Walaupun Gaoer hanya Beast Anjing berbulu hitam Ranah Spirit, ia tetap terlihat garang dan tak membiarkan rombongan Ranah Tianzun di hadapannya memasuki kamar tuannya yang mengeluarkan suara desahann sepanjang malam.
Su Mo sangat jengkel dengan ulah Gaoer, tetapi mereka tidak bisa membunuhnya karena Penatua Beast Master sangat menginginkan Beast Anjing berbulu hitam itu.
“Menyingkirlah dan jadilah anjing yang baik maka aku akan menyerahkanmu pada Penatua Beast Master dengan tubuh yang utuh!” ancam Su Mo sembari mengeluarkan Niat Membunuh yang membuat Gaoer tertekan dan kesulitan bernapas.
“Aku tidak bisa membiarkan kalian masuk karena aku telah berjanji pada tuan Jian untuk tak membiarkan siapapun mengusik waktu istirahatnya!” sahut Gaoer memaksakan diri melawan tekanan Niat Membunuh dari Su Mo. Namun, hal itu tak semudah keinginannya karena akibatnya ia memuntahkan darah dan tersungkur ke lantai, dia tidak memiliki kekuatan untuk berdiri lagi.
Pintu kamar terbuka dan sosok tampan yang mengenakan jubah dengan lambang Kekaisaran Jiang tersenyum ke arah Gaoer.
“Maafkan aku tuan Jian... aku tak dapat menghadang mereka!” Gaoer berkata dengan suara yang sangat lemah dan hampir tak terdengar.
“Gadis bodoh! Tidurlah, biarkan tuanmu ini yang akan menghukum para perusuh ini!” sahut Zhao Jian menjentikkan jari tangannya; energi spritual angin kemudian membalut tubuh Gaoer dan membawanya ke dalam kamar. “Berikan Gaoer Pil Penyembuhan Rou‘er!” seru Zhao Jian pada Jiang Rou yang langsung membaringkan tubuh Gaoer di atas tempat tidur.
Sebelum jatuh pingsan, Gaoer sempat mendengar ucapan Zhao Jian yang memanggilnya sebagai gadis padahal seharusnya ia dipanggil Beast betina—sehingga ia sangat senang sekali karena merasa tidak diperlakukan seperti budak rendahan yang hanya dimanfaatkan kekuatannya saja.
“Untung saja dia hanya terkena tekanan Niat membunuh saja dan tidak mengalami luka-luka,” sahut Jiang Rou yang langsung mengeluarkan Pil Penyembuhan.
Zhao Jian menghela napas lega karena Gaoer tidak menderita luka dalam atau mengalami kerusakan meridian maupun Dantian.
“Kalian pasti antek-antek yang sama dengan Fang Huang, kan?” kata Zhao Jian sembari mengeluarkan Aura Ranah Saint yang baru saja ia capai.
Kalau rombongan Su Mo datang setengah batang dupa yang lalu maka pertarungan ini akan menguntungkan mereka karena mereka menang jumlah, itupun bila Zhao Jian tidak mengeluarkan Violet atau Beast Kupu-Kupunya.
Su Mo terkejut merasakan tekanan dari Aura Ranah Saint milik Zhao Jian. “Bukankah saat di restoran tadi pagi ia masih Ranah Tianzun, bagaimana mungkin ia tiba-tiba mencapai Ranah Saint?” gumamnya ketakutan.
Su Mo mundur beberapa langkah dan menghunus pedangnya, rekan-rekannya terlihat juga ketakutan dan tidak memiliki niat bertarung lagi.
“Jangan takut, kita memiliki jumlah yang lebih banyak! Kalau kita menyerangnya bersama-sama maka dia pasti akan kalah!” seru Su Mo membangkitkan moral bertarung rekan-rekannya.
“Benar juga!”
“Dia mungkin baru saja mencapai Ranah Saint, maka energi spritual-nya pasti masih lemah dan ini adalah kesempatan kita mengalahkannya!”
“Iya, ayo maju!”
Sudut bibir Su Mo memancarkan seringai tipis dan berkata dalam benaknya, “Aku akan selalu mengingat pengorbanan kalian teman-teman, terimakasih telah berjuang bersamaku!”
Zhao Jian tersenyum sinis dan menggunakan tehnik meringankan tubuh yang digabungkan dengan energi spritual angin sehingga gerakannya sangat cepat, bahkan rekan-rekan Su Mo tak menyadari saat telapak tangan Zhao Jian menekan dada mereka.
“Tehnik Divine Martial Arts!” seru Zhao Jian. “Ah, ternyata kata-kataku lebih lambat dari gerakanku. “Ternyata kekuatan Ranah Saint itu sangat mengagumkan apalagi mungkin Ranah World Master seperti mertuaku?” gumamnya.
Zhao Jian teringat ada satu orang yang kabur dan ia segera menggunakan tehnik meringankan tubuh lagi mengejar Su Mo. Dia meninggalkan begitu saja seluruh perusuh Ranah Tianzun yang tergelak di lantai dengan dada yang retak. Namun, mereka belum mati, mereka hanya tidak sanggup bergerak lagi saja.
“Ke mana kau tuan muda?”
Su Mo terkejut mendengar suara Zhao Jian terdengar di telinganya dan ia pun menoleh ke sampai. “Kau? Bagaimana mungkin kau bisa menyusulku?” gerutunya.
Padahal ia telah menggunakan tehnik langkah citah yang merupakan tehnik melarikan diri tercepat di Kerajaan Kura-Kura Awan dan hanya Klan Su yang memilikinya.
Su Mo langsung melupakan keterkejutannya karena melihat ada celah untuk melakukan serangan lebih dulu karena Zhao Jian tidak menyerangnya dan Zhao Jian hanya menyelaraskan gerakan mereka saja.
“Dasar utusan asing bodoh!” ejek Su Mo mengayunkan pedangnya ke arah leher Zhao Jian. “Ingatlah saat kau berada di Dunia Bawah, katakan pada Dewa Yama bahwa yang mengirimmu ke sana adalah Su Mo, ahli beladiri yang di masa depan akan menjadi Pendekar Pedang nomor satu di Dunia ha-ha-ha ....”
“Hah? Bagaimana kalau kamu saja yang mengatakan pada Dewa Yama bahwa Hakim Jian mengirimmu ke sana agar teman-temanmu tidak kesepian di sana ha-ha-ha!” Zhao Jian tiba-tiba muncul di depan Su Mo dan menggunakan tehnik Divine Martial Arts yang merupakan gabungan beladiri Kung-Fu, Karate dan Silat.
Su Mo diterbangkan sejauh sepuluh langkah dan dari mulutnya menyembur seteguk darah.
“Ah, apakah aku terlalu brutal?” gumam Zhao Jian mendekati Su Mo yang tergeletak di lantai.
Zhao Jian memeriksa denyut nadinya dan ternyata masih berdenyut walaupun sangat pelan sekali sehingga ia bernapas lega, karena yang harus menghukum mereka adalah Pengadilan Kerajaan Kura-Kura Awan, dirinya saat ini masihlah tamu yang sebenarnya tidak berhak mencampuri urusan dalam negeri mereka. Namun, kali ini ia bisa berdalih sebagai pertahanan diri karena para penyerbu ini yang lebih dulu menyerangnya.
“Sepertinya pertarungan juga terjadi di luar Paviliun Bunga,” gumam Zhao Jian ragu-ragu apakah akan melihat pertarungan itu atau tidak karena ia meninggalkan Jiang Rou bersama Gaoer di kamar. “Ah, tengok sajalah! Toh, Rou‘er juga Ranah Saint. Dia pasti dapat mengalahkan para perusuh yang hanya Ranah Tianzun ini!” gumamnya lagi.
Zhao Jian hendak menggunakan tehnik meringankan tubuh yang digabungkan dengan energi spritual angin, tetapi tiba-tiba Fang Jening muncul dengan ekspresi wajah terkejut.
Fang Jening telah melihat tinjuan Zhao Jian ke dada Su Mo dan Su Mo langsung terkapar hanya dengan satu serangan itu saja. Dia juga menyadari kalau Zhao Jian juga telah mencapai Ranah Saint.
“Mereka datang kemari untuk menculik nona Jiang Rou dan di luar Paviliun Bunga saat ini saudaraku serta Kasim Ma sedang menghadang rombongan Penatua Beast Master yang kita temui di Pelelangan tadi!” seru Fang Jening.
Zhao Jian terkejut tujuan para perusuh ini ternyata ingin menculik istrinya. “Apakah mereka sudah menyadari kalau Rou‘er adalah Putri Mahkota Kekaisaran Jiang?” gumamnya berspekulasi.