
Zhao Jian sangat jengkel dengan tawa Jiang Xiaofan dan Zhu Fan yang tampak sedang merendahkan dirinya. Namun, ia berusaha agar tidak terprovokasi—karena bila ia bertarung dengan mereka di restoran ini maka akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar, bukan hanya restoran yang akan hancur—Kota Tianwu juga akan terkena dampaknya juga.
“Gadis tadi yang bersamamu tadi itu sangat cantik dan ia adalah bawahanmu, kan?” Jiang Xiaofan bertanya dengan seringai tipis terpancar dari sudut bibirnya.
“Ya, dia memang cantik, ada apa tuan-tuan menanyakan tentang dia?” sahut Zhao Jian sembari mengerutkan keningnya.
“He-he-he... kami ingin kamu mengirimnya ke rumah bordil menemani kami bersenang-senang!” Jiang Xiaofan berkata dengan santai, kemudian menenggak arak langsung dari kendinya.
Namun, tiba-tiba bilah Pedang Keadilan melesat ke arah wajahnya, sehingga Jiang Xiaofan terkejut dan mendorong meja dengan kakinya—sehingga tempat duduknya bergeser ke belakang.
Darah mengalir dari atas hidungnya yang terkena ujung bilah Pedang Keadilan.
“Kau... beraninya kau merusak wajah tampanku brengsekkkkkkkk!” Jiang Xiaofan marah sembari menyeka darah yang menetes di wajahnya.
Zhu Fan mengeluarkan Kapak besar dari Kantung Penyimpanannya dan langsung mengayunkannya ke arah wajah Zhao Jian. Namun, Zhao Jian menendang sisi meja ke arah atas, sehingga meja terangkat menjadi Perisai yang menghadang bilah Kapak milik Zhu Fan.
“Sialan! Mereka bertarung di dalam restoranku!” Pemilik restoran mengutuk Zhao Jian dan musuhnya.
Pemilik restoran dan para Pelayan segera kabur dari pintu belakang dan berteriak meminta tolong agar ada Pendekar yang mau menghentikan pertarungan ahli beladiri di dalam restorannya itu.
Meja yang menjadi Perisai Zhao Jian hancur berkeping-keping oleh tebasan Kapak Zhu Fan dan Jiang Xiaofan segera mengeluarkan Pedangnya.
“Gerakan Kedua Jurus Pedang Dewa Mata Angin!” Ratusan Energi Spritual Angin berbentuk Sabit kecil mengelilingi Pedang Keadilan.
Zhao Jian mengayunkan Pedang Keadilan ke arah depan, sehingga Jiang Xiaofan terpaksa mengayunkan Pedangnya secara horizontal tepat di depan dadanya—karena ratusan sabit energi spritual angin melesat ke sana.
Namun, Zhu Fan merasa paling jengkel karena Zhao Jian seperti menganggap remeh kekuatannya. “Kau pikir aku Pohon kelapa yang tak berguna? Mati Kau bangsattttttt!”
Zhu Fan melompat sejauh Lima langkah dan berhenti tepat Dua langkah dari Zhao Jian yang telah berusaha menjauh dari mereka.
Kapak Zhu Fan mengeluarkan Aura Kegelapan, seperti Iblis yang ingin menyerap esensi kehidupan lawannya saja, sehingga Zhao Jian kembali mundur dan menggunakan tehnik Langkah Angin, yang membuatnya dapat bergerak Sepuluh kali lebih cepat dari Pendekar lain.
Lantai restoran hancur berkeping-keping oleh tebasan Kapak Zhu Fan, akan tetapi Zhao Jian berhasil lolos dari tebasan Kapak yang sangat mengerikan tersebut. “Sial! Jangan berlarian seperti Tikus penakut!” bentak Zhu Fan jengkel.
Namun, Zhao Jian hanya tersenyum saja, siapa juga yang mau menuruti ucapan musuh yang justru dapat membuatnya menuju jalan reinkarnasi ke kehidupan berikutnya.
Jiang Xiaofan belum mengayunkan Pedangnya, ia hanya memperhatikan pola pergerakan Zhao Jian dan memperhitungkan langkahnya saat menghindari serangan Zhu Fan.
“Serang sekali lagi, tetapi cobalah targetkan Dua langkah di belakangnya!” Jiang Xiaofan berkata melalui suara telepati pada Zhu Fan.
“Baik, saudara Jiang!” sahut Zhu Fan melompat jauh ke belakang Zhao Jian yang langsung mundur sesuai dengan prediksi Jiang Xiaofan.
“Eh, sial!” Zhao Jian terkejut Zhu Fan muncul di atas kepalanya sembari mengayunkan Kapak besar. “Gawat! Bisa pecah kepalaku!” gerutunya menahan Kapak Zhu Fan dengan Pedang Keadilan.
Lantai mengeluarkan suara retakan dan sesaat kemudian, lantai pijakan Zhao Jian pun hancur berkeping-keping.
Jiang Xiaofan menyeringai jahat dan dalam satu kedipan mata, ia telah muncul di depan Zhao Jian yang terperosok ke dalam tanah. Dari bilah Pedang Jiang Xiaofan muncul Api hitam berbentuk Siluet tengkorak.
“Ternyata kau sangat lemah, Zhao Jian... padahal tuan kami mewaspadaimu dan dia mengatakan kekuatanmu mungkin sangat besar, serta memiliki pelindung Ranah Emperor. Namun, nyatanya kamu hanyalah Pangeran bodoh yang berusaha menarik perhatian penduduk dengan Keadilan Mutlakmu itu agar kamu bisa menjadi Raja selanjutnya!” ejek Jiang Xiaofan, karena di mana-mana para Pangeran selalu berusaha melakukan pencitraan agar para bangsawan atau Jenderal memberikan dukungan pada mereka serta membantu mereka meraih tahta.