Beasts Master

Beasts Master
Keberuntungan Beast Babi



Zhao Jian yang larut dalam meditasinya tiba-tiba merasakan energi spiritual dalam Dantian-nya bertambah banyak, itu berarti sebagian Beast-nya telah berhasil meningkatkan Kultivasi mereka.


“Keberuntungan apa yang mereka dapatkan? Kenapa mereka menerobos Kultivasi dengan tiba-tiba padahal aku baru saja mengusir mereka?” Zhao Jian penasaran.


Dia berhenti berkultivasi dan mencari keberadaan Beast-Beastnya itu. Di sebelah Utara Kota, beberapa Beast Babi sedang memakan mayat Kultivator.


“Rakus sekali babi-babi ini!” Zhao Jian mengerutkan keningnya, tidak menyangka mereka akan memakan mayat para Kultivator tersebut.


Namun, tiba-tiba ia melihat energi spiritual mereka berfluktuasi setelah memakan mayat Kultivator itu dan beberapa diantara mereka Kultivasinya langsung naik.


“Aku mengerti, Dantian para Kultivator itu masih mengandung energi spiritual dan karena mereka memakannya maka energi spiritual dari Kultivator itu diserap oleh babi-babi ini!” Zhao Jian tersenyum tipis, dia menemukan ide untuk mempercepat peningkatan basis Kultivasi mereka.


Zhao Jian kemudian mengirim suara telepati pada semua Beast untuk memakan mayat-mayat Kultivator di reruntuhan kota ini.


Dia juga berpikir bila mayat-mayat itu dibiarkan saja maka itu dapat mengakibatkan Pandemi atau wabah penyakit menular terhadap penduduk biasa.


Violet langsung merasa jijik mendengar instruksi dari tuannya itu. Dia tidak mau memakan mayat-mayat yang sudah mulai membusuk tersebut, begitu juga dengan Ayam Jago dan Gaoer.


Zhao Jian membiarkan mereka berkultivasi secara normal dan menduga mereka menolak karena mereka telah memiliki kecerdasan seperti manusia serta sifat-sifat mereka juga cenderung ke sifat manusia dari pada ke binatang buas.


Pemimpin Serigala Iblis meraung keras, dia sangat bahagia karena menemukan Dua Mayat manusia yang memancarkan aura Ranah World Master.


Keduanya pasti pemimpin kedua kubu yang bertikai dan bertarung hingga tewas bersama karena kekuatan mereka seimbang.


“Sudah lama aku tidak memakan daging manusia, ini pasti enak sekali!” Air liurnya menetes saat mulutnya menganga lebar, kemudian menyantap mayat Ranah World Master itu.


Energi spiritual dalam Dantian-nya langsung berfluktuasi, awalnya basis Kultivasinya adalah Ranah Immortal Awal. Kini ia langsung melonjak ke Ranah Immortal tingkat menengah.


Dia tidak memakan mayat Ranah World Master yang satu lagi, dia justru memberikannya pada bawahannya yang Ranah Paramita agar bawahannya itu menerobos ke Ranah Immortal juga.


Dia berpikir, kedepannya tuannya pasti akan terlibat dalam Perang yang sangat mengerikan ini. Dia tidak ingin mati lebih awal, maka satu-satunya meningkatkan peluang hidup adalah dengan membantu meningkatkan basis Kultivasi semua Beast.


Walaupun ia tidak bisa berbahasa manusia dan kurang cerdas, dia tetap mengetahui kalau basis Kultivasinya lebih tinggi dari yang lain maka dirinya akan selalu dijadikan tameng hidup oleh tuannya seperti saat melawan Pria tua Ranah World Master yang dulu.


“Bos, kau saja yang memakannya agar basis Kultivasi Bos meningkat ke Ranah World Master!” Beast Serigala Iblis Ranah Paramita enggan menerima pemberian Pemimpin Serigala Iblis dalam bahasa binatang.


“Bodoh! Jangan banyak bicara makan saja!” gerutu Pemimpin Serigala Iblis menatap tajam Beast Serigala Iblis Ranah Paramita itu.


“Ba-baiklah!” Beast Serigala Iblis Ranah Paramita terpaksa memakan mayat World Master itu. “Hmm, enak sekali!” Dia terkejut dan tidak menyangka rasa mayat Ranah World Master itu jauh lebih enak dari manusia biasa.


“Tentu saja enak bodoh! Kalau kita tidak menjadi peliharaan tuan Jian maka hanya aku yang boleh memakan mayat itu!” gumam Pemimpin Serigala Iblis menelan air ludahnya karena merasa masih belum kenyang setelah memakan satu mayat Ranah World Master.


Dia sangat senang, dia kemudian duduk bersila untuk menstabilkan fluktuasi energi spiritual dalam Dantian-nya itu.


...***...


Sepuluh mil dari reruntuhan Kota, sekelompok orang sedang mengejar Dua murid Sekte Bangau Surgawi.


Salah satu dari murid Sekte Bangau Surgawi itu terluka parah karena terus menahan serangan sekelompok orang yang mengejarnya itu. Dia melindungi juniornya agar tidak terkena serangan musuh itu, tetapi ia tidak sanggup lagi melarikan diri.


“Pergilah lebih dulu, bila kau menuju Kota itu dan terus lurus maka tidak jauh dari sana adalah garis tengah pertahanan Dinasti Gu Agung, mereka yang berjaga di sana pasti akan menolongmu!” seru Pria muda yang terlihat berusia 27 tahun tersebut.


“Aku akan memapahmu, senior Lin! Jangan banyak bicara, ayo pergi!” sahut Pria muda berusia 22 tahun dan basis Kultivasinya telah mencapai Ranah Paramita, dengan basis Kultivasinya itu maka ia adalah murid Pelataran Dalam Sekte Bangau Surgawi.


Seniornya itu menjentik keningnya, senyuman tipis terpancar dari wajahnya walaupun wajahnya itu berlumuran darah. “Kumohon, pergilah! Jangan sampai Klan kita kehilangan Kultivator berbakat lagi. Tenang saja... Lin Hao, aku pasti akan menyusulmu!”


Pedangnya kemudian terhunus, tatapannya tajam ke arah musuh yang sudah terlihat jelas akan mendekati mereka.


Lin Hao menitikkan air mata, dia tahu seniornya berbohong padanya karena tidak mungkin seniornya itu dapat mengalahkan lawan yang semuanya adalah Ranah Immortal bawahan Ye Mo.


Lin Hao menyeka air matanya dan segera berlari ke arah reruntuhan Kota, tetapi tiba-tiba Niat Pedang melesat ke arahnya.


Seniornya menangkis Niat Pedang itu dan berteriak, “Cepat lariiiiiiiiii!”


“Dasar bidak-bidak Dinasti Gu Agung bodoh! Untuk apa kalian lari, lebih baik menyerah saja dan kami akan memberikan kalian kematian yang cepat dari pada terus berjuang yang justru membuat kalian semakin menderita!” cibir salah satu gerombolan itu dengan sudut bibir menyeringai jahat.


“Ara-ara... padahal aku ingin menjilati darahnya, mungkin saja darahnya manis sekali he-he-he,” sela Kultivator wanita tertawa jahat menggoda Lin Hao yang langsung gemetaran mendengarnya.


“Eh, kenapa ada Beast Babi di sini? Ah, kebetulan sekali aku sedang lapar, aku akan memanggangnya!” Kultivator Pria gemuk mengayunkan Palu besar miliknya.


Kultivator wanita disebelahnya hendak mencegah tindakannya itu, tetapi Palu yang mengandung energi spiritual Petir itu langsung menewaskan Tiga Beast Babi yang sedang asyik memakan mayat Kultivator yang tergeletak dipermukaan tanah.


Lin Hao memanfaatkan kelengahan mereka untuk melarikan diri, dia tidak menoleh ke belakang walaupun terdengar gelak tawa dari gerombolan musuh itu. Sesaat jerit kesakitan seniornya menggema dan membuat hati Lin Hao terasa sakit, ia hanya bisa mengutuk mereka saja karena ia tidak memiliki kekuatan melawan mereka.


Saat Lin Hao hendak memasuki reruntuhan Kota, tiba-tiba energi spiritual Angin berbentuk bulan sabit yang jumlahnya ratusan melesat diatasnya dan tujuan sabit angin itu adalah ke arah gerombolan musuh.


“Bangsattttt! Berani sekali kalian membunuh babiku!” Teriakan marah menggema dari dalam reruntuhan Kota dan Pemuda tampan pun muncul di langit.


“Mungkinkah senior itu adalah Kultivator Dinasti Gu Agung juga?” gumam Lin Hao karena Pemuda itu tidak menyerang dirinya walaupun Pemuda itu sempat menoleh kearahnya.