
Ibukota Kerajaan Kura-Kura Awan ternyata sangat megah, tak kalah megah dari Kota Yunzun, ibukota Kekaisaran Jiang. Namun, tak lama lagi Kota yang megah ini akan menghilang seperti Kota Tianwu—yang dilahap oleh Gui Dao Kekaisaran Jiang.
Fang Han mengatakan kalau penduduk Kerajaan Kura-kura Awan itu berkisar 100 Juta orang, sehingga bila mereka dijadikan satu Klan nanti di Kekaisaran Jiang maka mereka pasti akan menjelma menjadi Klan terkuat selain Klan Jiang karena Fang Zihao memiliki basis Kultivasi Ranah Paramita.
Di Kekaisaran Jiang sendiri hanya ada Tiga Ranah Paramita dan ketiganya adalah Patriark Sekte besar.
Untuk menggembosi kekuatan mereka, Zhao Jian berpikir lebih baik membagi mereka menjadi beberapa Klan saja, bekas-bekas Kerajaan yang Gui Dao-nya ditaklukkan oleh Kerajaan Kura-kura Awan dijadikan sebagai Klan kecil—sehingga itu akan mengurangi potensi pemberontakan saat Gui Dao Kekaisaran Jiang tidak memiliki pengekangan pada Kultivasi, di mana akan mudah ditemukan Ranah World Master nantinya. Namun, hal itu akan terwujud setelah Gui Dao Kekaisaran Jiang menyerap Gui Dao besar yang memiliki Ranah World Master di dalamnya.
Ribuan Prajurit militer Kerajaan Kura-kura Awan bertekuk lutut begitu rombongan Pangeran Fang Han dan Rombongan utusan Kekaisaran Jiang mendarat di halaman istana Kerajaan Kura-kura Awan.
Zhao Jian merasa keamanan di Istana sangat longgar sekali, apalagi para Prajurit yang menyambut kedatangan mereka hanya Prajurit muda dengan basis Kultivasi Ranah Spirit.
Sebagai Gui Dao yang cukup besar, Zhao Jian merasa ada yang ditutup-tutupi oleh Pangeran Fang Han.
“Apa sudah ada utusan Gui Dao lain yang menyusup kemari dan menghasut Klan besar untuk melakukan pemberontakan?” pikir Zhao Jian. “Untuk saat ini aku akan diam saja, mungkin mereka masih enggan memberitahu apa yang terjadi di sini. Yang harus aku perhatian adalah Pasukan Naga, jangan sampai mereka menghasut Klan lain sehingga terjadi kekacauan di sini dan akhirnya misi yang kulakukan berakhir dengan kegagalan!”
Zhao Jian mengirim pesan telepati pada Jiang Mo untuk mengawasi Pasukan Naga dan tidak membolehkan mereka meninggalkan istana tanpa persetujuan darinya, bila ada yang melakukan pembangkangan maka mereka akan dihukum mati.
Jiang Mo terkejut mendengarnya, tetapi dia adalah Hakim muda yang berani menantang entitas kuat seperti militer—sehingga menyingkirkan para pengkhianat dari Pasukan Naga hanya seperti membalikkan telapak tangan saja baginya.
“Hakim Jian dan Pasukan Naga pasti kelelahan dalam perjalanan panjang kalian!” kata Fang Zening sembari menuntun rombongan Zhao Jian memasuki istana. “Kami telah menyediakan kamar untuk kalian dan kamar khusus untuk Hakim Jian!”
Zhao Jian menangkupkan tinju dan berkata, “Terimakasih tuan Putri Zening. Kami sangat senang dengan sambutan hangat Kerajaan Kura-kura Awan!”
Namun, Zhao Jian bingung Pangeran Fang Han terus berbicara dengan Jiang Ruo dan mengabaikannya yang merupakan Ketua utusan Kekaisaran Jiang.
“Kasim Ma... antar kan Pasukan Naga menuju kamar tamu di Paviliun selatan!” seru Fang Zening pada Kasim istana. “Dan Hakim Jian... kamar spesial untuk Anda ada di Paviliun Bunga yang merupakan tempat khusus menginap para tamu penting Kerajaan Kura-kura Awan!”
Zhao Jian hanya menganggukkan kepala saja karena matanya fokus pada Fang Han yang bercerita dengan antusias pada Jiang Ruo yang tersenyum-senyum mendengarnya.
“Apa Ruo‘er sengaja tersenyum hangat seperti itu agar aku kesal, ya?” gumam Zhao Jian karena selama ini Jiang Ruo sangat jarang tersenyum padanya.
“Nona Jiang Ruo sangat hebat sekali baru berusia 17 tahun sudah mencapai Ranah Tianzun, aku saja di usia itu baru mencapai Ranah Jie Zhu!” kata Fang Han tersenyum lebar. “bagaimana dengan Hakim Jian?” tanyanya.
Namun, Fang Zening dan Fang Han merasa Zhao Jian membual saja agar terlihat hebat seperti orang kaya yang memberikan motivasi bahwa mereka dulunya sangat miskin, tetapi dengan kerja keras mereka mengubah satu keping Perunggu menjadi Jutaan Keping Emas, kemudian diakhir acara para pendengar motivasinya wajib membayar uang penyelenggara atau membeli produk yang ia jual.
“Oh ternyata perjuangan Hakim Jian untuk menjadi kuat melewati jalan yang sangat berdarah-darah dan penuh perjuangan!” sahut Fang Han.
“Tidak juga, bisa dibilang keberuntungan tak disangka-sangka sih!” sela Zhao Jian sehingga Fang Han kebingungan karena tidak bisa memahami jalan berpikir Hakim muda itu.
Mereka kemudian berhenti di depan sebuah pintu kamar dan Pelayan wanita Istana segera membuka pintu. Kamar itu sangat mewah dan cukup luas—bahkan ada kolam renang kecil di sana.
“Silahkan masuk Hakim Jian... kalau Anda membutuhkan sesuatu maka suruh saja Pelayan yang berjaga di depan pintu mengambilkannya untukmu. Besok pagi aku atau Pangeran Han akan menjemput ke sini dan melanjutkan pembicaraan kita mengenai tujuan kalian ke Kerajaan Kura-kura Awan!” seru Fang Zening.
“Benar!” sahut Fang Han tersenyum cerah karena akhirnya bisa menyingkirkan Pemuda tampan yang menyebalkan itu. Dia kini bisa mengajak Jiang Ruo jalan-jalan keluar Istana dan untuk tempat tidurnya, dia telah mengirim pesan telepati pada Fang Zening untuk sekamar dengan Jiang Ruo.
“Karena nona Ruo hanya sendiri saja wanita dalam rombongan utusan Kekaisaran Jiang maka kamu akan menginap di kamarku saja!” kata Fang Zening dan Fang Han langsung tersenyum lebar karena adiknya itu langsung memahami maksudnya.
Jiang Ruo hendak menganggukkan kepala tanda setuju, tetapi tiba-tiba Zhao Jian merangkul pundaknya.
“Ha-ha-ha kami ini adalah suami istri, maaf tuan putri Zening aku lupa mengatakannya!” Zhao Jian tertawa bangga sembari melirik Fang Han yang tersenyum masam. “Sampai jumpa besok Pangeran Han dan tuan Putri Zening!” Zhao Jian melambaikan tangan sembari mendorong Jiang Ruo masuk ke dalam kamar.
Namun, Jiang Ruo terlihat tegang, mereka tidak terlihat seperti suami istri—sehingga Fang Han dan Fang Zening kebingungan.
Setelah Zhao Jian menutup pintu kamar, Fang Zening segera pergi tetapi Fang Han masih tetap berdiri di depan pintu.
“Kakak Han! Apa yang kau lakukan di sana?” Fang Zening menegurnya.
“Gadis itu sepertinya terpaksa menuruti seruan Hakim muda itu! Jangan-jangan mereka bukan suami istri karena gadis itu terlihat tegang dan ketakutan!” sahut Fang Han.
“Walaupun yang dikatakan oleh kakak benar, kita tidak bisa mencampuri urusan mereka. Ingat mereka berasal dari Gui Dao yang lebih besar dari Gui Dao Kerajaan Kura-kura Awan! Jangan sampai tindakan kakak akan menghancurkan kita. Ingat seruan Ayah agar tidak bertindak ceroboh!”
Fang Han menggertak kan giginya, ini pertama kalinya dirinya jatuh cinta. Namun, dirinya langsung patah hati dan tidak bisa melakukan apa-apa.
Wajah Jiang Ruo yang berubah masam saat di dorong Zhao Jian ke dalam kamar langsung terngiang-ngiang di dalam benak Fang Han.