
Satu bulan kemudian Zhao Jian telah memahami sepenuhnya Jurus Pedang Es Abadi dan Jurus Pedang Api Iblis.
Zhao Jian menyeka keringat yang membasahi wajahnya. “Sudah lama aku tidak turun dari Puncak Penjinak Beast dan tidak ada murid-murid yang mendatangiku yang berarti mereka tidak mengalami masalah dalam latihan mereka,” gumamnya.
Beberapa Penatua telah berhasil mencapai Ranah Paramita, yang berarti bukan hanya tiga Patriark Sekte besar saja yang telah mencapai Ranah beladiri itu.
“Ayam Jago... ayo kita turun gunung!” seru Zhao Jian membangunkan Beast Ayam Surgawi yang sedang tertidur dibawah Pohon Persik tersebut.
“Aku juga ikut tuan Jian... apakah kita akan mengunjungi nona Ruo?” Gaoer mendekat sembari menggoyang-goyangkan ekornya.
Gaoer sangat merindukan Putri Mahkota Kekaisaran Jiang tersebut, apalagi Jiang Ruo juga tidak pernah datang ke Puncak Penjinak Beast dan Zhao Jian juga tidak pernah pergi ke Puncak Awan Putih.
“Tidak! Aku hanya ingin membeli sumberdaya untuk kalian berdua, sumberdaya yang aku dapatkan dari Kerajaan Kura-Kura awan sudah habis,” sahut Zhao Jian sehingga Gaoer menghela napas panjang karena tidak bisa bertemu dengan Jiang Ruo. “Kita tidak boleh mengganggunya berkultivasi, akhir tahun nanti aku berencana pulang kampung ke Klan Zhao dan aku akan mengajak kedua istriku juga,” katanya lagi untuk menghibur Gaoer agar tidak sedih.
“Benarkah?” Akhirnya Gaoer tersenyum dan berjalan lebih dulu di depan Ayam Jago yang ditunggangi oleh Zhao Jian.
Zhao Jian tidak mengambil misi dari Sekte karena saat ini uang hadiah dari Kaisar masih sangat banyak dan itu cukup untuk membiayai dirinya serta sumberdaya untuk Beast-Beastnya.
...***...
“Hei, tuan muda sampah! Sudah berapa kali aku katakan jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku!”
Pemuda tampan itu tidak menjawab, tatapannya tajam penuh dengan Niat Membunuh dan tangan terkepal erat. Namun, ia tidak melakukan perlawanan karena basis Kultivasi-nya sangat rendah dan belum melakukan kontrak jiwa dengan Beast yang menandakan ia hanya murid Pelataran Luar saja di Puncak Penjinak Beast.
Sebagai penanggungjawab atas Puncak Penjinak Beast yang ditunjuk oleh Penatua Xiao Shi, Zhao Jian jelas penasaran dengan keributan itu dan ia mendekati keramaian yang menonton mereka.
“Kenapa dia menendang Pemuda itu?” bisik Zhao Jian pada murid di sebelahnya.
“Apakah senior tidak tahu kalau Pemuda itu adalah tuan muda sampah dari Klan Xuan, Xuan Ji. Dia selalu dibully oleh senior Xuan Yan yang merupakan sepupunya sendiri!” sahut murid tersebut.
Zhao Jian merasa plot cerita ini sangat familiar, plot ini seperti tokoh Protagonis yang belum membangkitkan kekuatannya dan saat kekuatannya bangkit——mungkin Pemuda itu akan melakukan kontrak jiwa dengan Beast Phoenix atau Naga dan melakukan balas dendam pada orang-orang yang pernah mem-bully dulu.
“Kenapa Xuan Yan mem-bully Xuan Ji kalau mereka itu saudara sepupu?” selidik Zhao Jian penasaran.
Biasanya dalam cerita dongeng yang ia baca ini pasti masalah perebutan posisi penerus Patriark Klan Xuan atau masalah wanita.
“Xuan Yan itu adalah jenius beladiri Klan Xuan, dulunya ia, Xuan Ji dan seorang murid cantik di Puncak Awan Putih adalah teman bermain masa kecil. Namun, sebelum mereka menjadi murid Sekte Pedang Abadi, Klan Xuan menjodohkan Xuan Ji dan wanita itu sehingga Xuan Yan cemburu dan sakit hati, karena seharusnya ia yang dipilih menjadi tunangan wanita itu sebab dirinya adalah jenius beladiri di Klan Xuan mereka!” sahut murid itu menjelaskan dengan detail.
“Permasalahan yang menarik dan klasik, tetapi sebagai murid senior serta Penegak Hukum Sekte maka aku tidak bisa membiarkan pembullyan terjadi di Puncak Penjinak Beast!” sahut Zhao Jian sembari melirik Beast Ayam Surgawi. “Ayam Jago, hentikan keributan itu!”
“Asiapppp tuan Jian!” Ayam Jago mengepakkan sayapnya sembari melompat ke hadapan Xuan Yan yang hendak menendang Xuan Ji yang menyilangkan tangannya agar dadanya tidak terkena tendangan saudara sepupunya itu.