Beasts Master

Beasts Master
Pria Tua Baik Hati



Pria tua itu tersenyum tipis sembari mengangguk pelan. “Bagaimana keadaanmu, apakah kamu terluka?” sapanya——padahal sebenarnya ia telah mengedarkan energi spiritual-nya melihat kondisi tubuh Zhao Jian dan ia terkejut Zhao Jian baik-baik saja walaupun telah berhadapan dengan Puluhan Ranah Paramita.


Kini ia berpikir Zhao Jian tidak hanya berasal dari Klan besar, kemungkinan besar ia merupakan murid Sekte Naga Surgawi tempat para jenius beladiri berkumpul. Hanya para jenius beladiri inilah yang dapat membuat realita menjadi seperti fatamorgana saja, karena secara hukum alam tidak mungkin seseorang yang setara dapat mengalahkan Puluhan orang.


Zhao Jian segera menjawab pertanyaan Pria tua itu walaupun ia tahu Pria itu itu telah menggunakan energi spiritual-nya memeriksa tubuhnya. “Aku baik-baik saja, Kakek!” sahutnya tersenyum lebar.


“Syukurlah kau baik-baik saja!” sahut Pria tua itu menepuk pundak Zhao Jian. “Lain kali bawalah beberapa bawahan saat melakukan perjalanan!” Dia menasihati Zhao Jian tanpa bertanya dari mana asalnya dan mengapa para Assassin itu mencoba membunuhnya, karena peraturan utama Penginapan adalah melayani semua tamu apapun identitasnya selama mereka membayar biaya menginap.


Di langit muncul Tujuh Pria tua Ranah Immortal lainnya. Mereka mengenakan Jubah Sekte Bangau Surgawi.


“Kau istirahat saja, aku akan meladeni mereka!” bisik Pria tua itu pada Zhao Jian dan segera terbang ke langit sembari menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat pada para Penatua Sekte Bangau Surgawi tersebut.


Zhao Jian tidak menyangka Pria tua itu sangat baik sekali, dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun, ekspresi wajah para Penatua itu tampak masam setelah mendengar penjelasan dari Pria tua itu.


Zhao Jian menarik napas dalam-dalam dan berjalan ke dalam Penginapan. Dia berpikir besok mereka harus meninggalkan Kota Dhisan ini, karena ia takut ada entitas lain yang juga mengincar Kristal Beast Hiu miliknya.


Huli Jing membuka matanya karena merasakan kehadiran Zhao Jian disebelahnya. Dia tersenyum hangat menatap Zhao Jian yang malah langsung tidur di ranjang setelah selesai mengalahkan para pencuri tadi.


“Aku harus menyerap esensi Bulan lebih banyak lagi agar dapat membantu tuan Jian,” gumamnya sembari mengepal tangannya karena di Dinasti Gu Agung ini sangat banyak ahli beladiri kuat yang sewaktu-waktu dapat mencelakai tuannya.


Baru saja memejamkan mata, Zhao Jian tiba-tiba merasakan energi spiritual dalam Dantian-nya berfluktuasi. “Hmm, seperti beberapa Beruang itu berhasil meningkatkan basis Kultivasi mereka, tidak rugi aku berinvestasi besar pada mereka,” gumamnya tersenyum lebar.


Kini ia memikirkan sebuah ide gila, bagaimana kalau ia menggelontorkan sebagian besar sumberdayanya pada mereka, karena sebagian dari mereka masih Ranah Spirit, Jie Zhu dan Tianzun, maka mereka akan lebih mudah meningkatkan basis Kultivasi daripada Ayam Jago yang sudah mencapai Ranah Saint yang membutuhkan sumberdaya besar agar dapat menerobos ke Ranah Paramita.


Namun, setelah berpikir hingga kepalanya terasa pusing, ia merasa hal itu terlalu boros mengingat dirinya hanya memiliki sedikit dana di Tas Sihirnya.


“Ah, aku tidur saja lah!” pikirnya lagi.


...***...


Kota Dishan menjadi gempar akibat serbuan assassin ke Penginapan yang terbesar dan termegah di Kota tersebut.


Murid-murid senior Sekte Bangau didampingi oleh beberapa Penatua melakukan inspeksi mendadak dan menggeledah semua rumah penduduk untuk mencari keberadaan anggota Kelompok Bayangan yang mengakibatkan kekacauan tadi malam tersebut.


Zhao Jian yang hendak meninggalkan Kota Dishan terpaksa bermain petak umpet dengan murid-murid Sekte Bangau Surgawi karena tidak memiliki Plakat identitas bahwa dirinya adalah penduduk Dinasti Gu Agung.


Dia tidak menggunakan Ayam Jago yang dapat melompat jauh itu karena para Penatua Sekte Bangau Surgawi akan semakin curiga padanya dan mengira dirinya adalah bagian dari Assassin tersebut.


“Hei, Paman! Kenapa kau bersembunyi di situ?” bisik anak kecil berusia Sepuluh tahun yang sedang mengais-ngais tong sampah di gang kecil.


Zhao Jian yang sedang memperhatikan murid-murid Sekte Bangau Surgawi menoleh ke belakang. Dia langsung kasihan pada anak itu, di negeri manapun penduduk miskin selalu ada——termasuk Dinasti Gu Agung yang seharusnya sangat mudah mengentaskan kemiskinan karena memiliki kekayaan yang berlimpah. Namun, para penguasa tidak peduli dengan mereka karena tidak mendatangkan keuntungan kecuali Penguasa itu sedang menaikkan citranya di mata masyarakat, maka sesekali Penguasa itu akan menyumbangkan sedikit kekayaannya.


“Hmm, biasanya anak kecil hebat dalam permainan petak umpet,” gumam Zhao Jian tiba-tiba memikirkan sebuah ide. “Hei, bro... kau mau ini?” Dia mengeluarkan satu Keping Emas sehingga mata bocah itu berbinar-binar dan menganggukkan kepala.


“Apa yang harus kulakukan, Paman?” Bocah itu tidak sabar ingin mendapatkan Kepingan emas yang dapat membeli sekarung beras tersebut sehingga ia tidak perlu lagi mengais-ngais tong sampah agar dapat memberi makan adik dan ibunya yang terbaring lumpuh di ranjang sehingga membuat ibunya tidak dapat berkerja menafkahinya.


“Bawa aku keluar dari Kota melalui jalan cacing tanpa ada yang melihat kita, apa kamu dapat melakukan permainan ini?” sahut Zhao Jian tersenyum lebar, seolah-olah hal ini adalah permainan petak umpet saja.


Bocah itu benar-benar dapat menghindari patroli murid-murid Sekte Bangau Surgawi dan tak lama kemudian ia berhenti di sungai kecil yang mengalir menuju luar Kota Dishan.


“Kenapa aku tidak kepikiran keluar dari Kota melalui aliran sungai ini?” gumam Zhao Jian tersenyum.


Bocah itu membuka bajunya dan kemudian berjalan ke pinggir sungai. Namun, Zhao Jian menghentikannya sehingga Bocah itu kebingungan padahal Zhao Jian ingin keluar Kota tanpa bertemu murid-murid Sekte Bangau Surgawi.


“Sampai di sini saja dan ....” Zhao Jian mengeluarkan Tas Sihir yang sudah lusuh dan memiliki ruang penyimpanan seluas Dua Tombak. “Ambil ini, cara membukanya adalah dengan membayangkan isi di dalamnya!” katanya lagi.


Bocah itu sangat senang mendengarnya, dengan Tas Sihir ini maka ia dapat mengumpulkan kayu bakar di hutan dan tidak kesulitan membawanya melewati tembok Kota.


“Ingat, gunakan seperlunya saja dan jangan beritahu orang lain karena itu dapat membuatmu celaka sehingga tidak ada yang merawat adik dan ibumu!” seru Zhao Jian membuat Bocah itu mengerutkan keningnya.


“Kalau begitu aku tidak perlu menerima Tas Sihir ini!” sahut Bocah itu tersenyum hangat. “Ayahku dibunuh oleh tuan muda Hu setelah membawa mayat Beast dari hutan, kemudian ibukota terbaring di ranjang selamanya karena berusaha menyelamatkan Ayah!”


Zhao Jian terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka masa lalu bocah ini sangat kelam sekali.


Awalnya ia menyangka bocah itu miskin secara turun-temurun karena dari tadi ia bercerita tentang adik dan ibunya saja tanpa memberitahu apa penyakit yang diderita ibunya.


“Ambil saja! Yang perlu kamu ingat adalah jangan menunjukkannya pada orang lain. Setelah ibumu sembuh, bantulah dia bekerja!” Zhao Jian melambaikan tangan, kemudian melompat ke dalam sungai.


Bocah itu memperhatikan sekelilingnya, dia segera bergegas kembali ke rumahnya yang merupakan rumah sederhana tak jauh dari sana dan rumah itu adalah satu-satunya warisan peninggalan ayahnya.


“Kakak... apa kamu membawakan makanan? Aku lapar!” Gadis kecil berusia Lima tahun langsung berlari menghampiri Bocah itu.


Ibunya yang terbaring di ranjang menitikkan air mata karena iba melihat putri kecilnya kelaparan, sementara anak sulungnya tidak membawa apa-apa.


Bocah itu tersenyum dan mengelus kepala adiknya. “Nanti, ya... sebentar lagi akan kakak belikan makanan untuk kita!” sahutnya, karena ia yakin di dalam Tas Sihir itu ada satu Keping Emas. Namun, ia takut bila membawa Kepingan emas itu maka pemilik rumah makan akan mengira dirinya mencuri uang orang lain.


Adiknya sangat senang mendengar ucapan kakaknya karena sudah lama mereka tidak memakan makanan enak. Matanya berbinar-binar, tangan mungilnya mencengkram erat pergelangan tangan kakaknya.


“Kamu mencuri, Nak?” Ibunya terkejut melihat bocah itu mengeluarkan Tas Sihir lusuh dari kantung celananya.


Bocah itu menggelengkan kepala dan berkata, “Tadi aku membantu Kultivator muda, dia memberikan aku ini setelah mengetahui kalau kita itu miskin. Dia juga mengatakan agar merahasiakan Tas Sihir ini dan jangan sampai dilihat oleh orang lain!”


Ibunya menangis haru karena masih ada orang baik yang peduli dengan mereka, sudut bibirnya memancarkan senyuman hangat dan bersyukur anak-anaknya akan makan makanan enak untuk hari ini.


Bocah itu tercengang, matanya terbelalak sehingga ibunya kembali khawatir.


“Ada apa, Nak?” tanyanya.


“Tuan muda itu memberikan kita banyak Kepingan Perak dan satu, dua, tiga ... Dua Puluh Lima Keping Emas ha-ha-ha ....” Dia sangat senang. “Bu, ada Pil dalam botol seperti yang ada di toko, ada berbagai makanan enak juga serta satu karung beras!”


Bocah itu segera mengeluarkan Pil dalam botol kaca dan menyuruh ibunya menelannya, kemudian ibunya merasakan tubuhnya berangsur-angsur pulih dengan cepat. Kulitnya yang mengeriput mulai terlihat segar dan wajahnya terlihat muda seperti para wanita berusia Tiga Puluhan tahun.


“Akhinya aku dapat merawat kalian lagi!” Ibu bocah itu menangis tersedu-sedu memeluk putranya, sedangkan Putri kecilnya juga ikut-ikutan menangis walaupun tidak tahu apa yang terjadi.