
Beberapa hari telah berlalu setelah hari yang sangat tak terduga dalam hidup Zhao Jian berlalu, bahkan saat ini ia masih seperti sedang bermimpi tidur satu ranjang dengan Liu Ruxu.
Zhao Jian keluar dari selimutnya dan hendak berjalan ke arah kamar mandi, tetapi tiba-tiba ia merasakan energi spritual di Dantian-nya berfluktuasi.
“Perasaan ini?” Sudut bibir Zhao Jian menunjukkan senyuman. “Akhirnya aku menerobos ke Ranah Jie Zhu!” Dia langsung duduk bersila untuk menstabilkan energi Spritual-nya.
Liu Ruxu hampir melompat dari tempat tidurnya saat melihat Zhao Jian duduk bersila tanpa mengenakan pakaian. Dia masih belum terbiasa dengan kehidupan barunya ini. “Sial! Aku hampir menyerang suamiku sendiri dan hampir menjadi janda muda!”
Liu Ruxu kemudian berjalan ke kamar mandi sembari memperhatikan Zhao Jian yang sedang duduk bersila sembari memejamkan matanya.
“Apa yang dilakukan Jian gege, ya?” gumamnya, akan tetapi ia tidak mengganggu kegiatan aneh suaminya itu.
Liu Ruxu kini menjabat sebagai anggota Petugas Pengadilan di bawah yuridiksi Hakim Zhao Jian, karena saat Zhao Jian bertugas ke Kota Canglan, Dua Petugas Senior bawahannya terbunuh saat melawan Ye Jing—makanya Dua anggota baru langsung mengisi posisi yang mereka tinggalkan dan anggota itu adalah Liu Ruxu dan Zhao Fu, tuan muda Klan Zhao yang juga sepupu Zhao Jian.
Setengah batang dupa kemudian, Liu Ruxu keluar dari kamar mandi—tetapi Zhao Jian masih saja duduk bersila, sehingga ia kebingungan kenapa suaminya itu masih berkultivasi? Karena tanpa Kristal dari Beast Gui Dao, mereka tidak akan bisa menerobos ke Ranah Spirit.
Liu Ruxu mengenakan Topi Caping, Jubah Petugas Pengadilan dengan tulisan “Keadilan Mutlak” terpampang besar di Jubah tersebut.
“Hmm, kalau dilihat dari sudut pandang manapun, Aku ternyata sangat cantik mengenakan seragam ini!” Liu Ruxu tersenyum cerah memuji dirinya sendiri, tetapi tiba-tiba Zhao Jian memancarkan energi spritual yang sangat kuat dari tubuhnya.
“Ini?”
“Ranah Jie Zhu!”
“Bagaimana bisa? Apakah Jian gege diam-diam memiliki tehnik Kultivasi ganda dan memanfaatkan kepolosan tubuhku?” Liu Ruxu menggigit bibirnya karena merasa dimanfaatkan oleh Zhao Jian.
“Sial! Ternyata semua laki-laki itu mesumm!” Liu Ruxu menghentakkan kakinya dan berjalan keluar dari Kediaman milik Zhao Jian. Dia pergi sendirian menuju gedung Pengadilan.
Zhao Jian membuka matanya dan tersenyum bahagia. “Akhirnya aku mencapai Ranah Jie Zhu walaupun Dua Beast Rubah-ku belum menunjukkan tanda-tanda selesai bermeditasi. Namun, Aku yakin mereka telah mencapai Ranah Jie Zhu makanya Aku ikut menerobos Ranah Kultivasi juga!” Zhao Jian berspekulasi.
Zhao Jian langsung teringat dengan Lu Xiaoran yang memiliki basis Kultivasi Ranah Jie Zhu dan secara khusus Raja Zhao Tian memintanya untuk mengawasi Pemuda itu. Namun, masalahnya sudah beberapa hari ia menghilang dan menurut Petugas Pengadilan, jejak Lu Xiaoran berakhir di Kediaman Klan Lin.
Karena Lu Xiaoran tidak memiliki kesalahan, Zhao Jian tidak bisa memintanya untuk meneteskan darah ke Kitab Keadilan, begitu dengan Klan Lin yang tiba-tiba memperketat penjagaan di Kediaman mereka—hal yang sama juga dilakukan oleh Klan Gu, sehingga Klan Liu dan Klan Zhao khawatir kedua Klan besar itu sedang menyusun rencana untuk memulai Perang besar.
“Umm, kenapa Ruxu‘er tidak menungguku? Apakah ia merajuk?” Zhao Jian berpikir sesaat apakah ia telah berbuat salah. “Aku merasa menuruti semua kemauannya, bahkan tadi malam Aku yang dibawah dan membiarkan dia yang mengendalikan permainan? Ah, lupakan saja, nanti aku akan mengajaknya makan di restoran mewah ha-ha-ha... mumpung baru saja gajian walaupun setengah gajiku harus dipotong hutang!”
Zhao Jian membutuhkan biaya mahal dalam merawat Ketiga Beast-nya, sementara gajinya sebagai Hakim muda hanya setara Lima kali UMK alias Upah Minimum Klan saja, yaitu Lima Keping Emas.
Hakim-Hakim lain hidup dengan mewah, karena mereka memiliki koneksi dengan para Pejabat dan Pengusaha yang rajin bersedekah—sementara pada dirinya mereka malah berkeringat dingin seperti melihat Dewa Yama dari Dunia Bawah saja.
“Oh, ya... Aku kan sekarang sudah resmi menjadi Pangeran Keempat, seharusnya aku mendapatkan dana tambahan karena saat aku kecil Pangeran Pertama diberikan satu Kantung berisi Kepingan Emas oleh Paman Tu.” Zhao Jian tersenyum lebar dan segera menuju kamar mandi.
Dia berencana langsung menuju ke bagian Keuangan Istana untuk meminta dana insentif untuk Pangeran. Dia tidak ingin terlihat lebih miskin dari bawahannya para Petugas Pengadilan yang bahkan memilih rumah yang lebih mewah darinya, padahal dirinya adalah Pangeran dan menantu Klan Lin. Namun, kehidupannya seperti karyawan dengan gaji UMK saja.
...***...
“Ada yang bisa Aku bantu Hakim Jian?” Pria Sepuh menyambut kedatangan Zhao Jian di bagian Keuangan Istana.
Pria Sepuh yang menyambut kedatangan Zhao Jian itu adalah Menteri Keuangan dan terkenal sangat teliti dalam mengelola keuangan negara, makanya hanya lembaga yang dia pegang saja satu-satunya yang tidak pernah berurusan dengan Pengadilan.
“Ehemmm ....” Zhao Jian berdehem. “Paman Li... Aku datang kemari bukan sebagai Hakim, tetapi sebagai Pangeran Keempat!”
“Oh, ada maksud apa Pangeran Keempat kemari?” Zhao Li bertanya dengan ekspresi wajah datar, dia berpura-pura tidak menyadari maksud kedatangan Zhao Jian.
“Cih, seharusnya aku datang sebagai Hakim saja dan memintanya meneteskan darah ke Kitab Keadilan. Namun, bila ia tidak terbukti salah, maka ia akan menuntutku dengan Pasal pencemaran nama baik,” gumam Zhao Jian tetap berpura-pura tenang dan tersenyum ramah. “Aku datang mengambil jatahku saat aku terlahir ke Dunia ini hingga sekarang!”
Namun, Zhao Li hanya melempar Satu Kantung Penyimpanan berisi Lima Puluh Keping Emas saja.
“Apakah Paman Li ingin menipu Hakim Penegak Keadilan di depan wajahnya?” Alis mata Zhao Jian terangkat dan sudut bibirnya memancarkan seringai masam.
“Biaya Perawatanmu saat sakit-sakitan, Kebutuhan hidupmu yang diambil melalui Zhao Tu, biaya sekolahmu, biaya nikahmu dan honor pengerahan Pengawal Naga Surgawi dan Pejabat lainnya saat proses lamaran pernikahanmu semua tercatat di sini!” Zhao Li melempar gulungan kertas pada Zhao Jian.
Wajah Zhao Jian memerah dan mencabik-cabik gulungan kertas itu. “Sial! Ternyata ayah dan saudara-saudaraku tidak memiliki tanggungjawab selama ini, bahkan memakan harta anak yatim, eh anak Piatu! Terkutuk kalian!” umpatnya.
“Haccimmmmm!” Raja Zhao Tian dan Ketiga Pangeran tiba-tiba bersin disaat bersamaan saat mereka sedang membahas rencana memperkuat pertahanan tembok besar di pinggiran Gui Dao. “Apakah rakyatku mulai sering mengutukku, ya? Sepertinya aku harus sering melakukan pencitraan agar popularitasku meningkat!” gumam Raja Zhao Tian.