Beasts Master

Beasts Master
Zhao Qihan Meledakkan Dirinya



“Ah, tidak!” Huang Xue ketakutan.


Namun, Zhao Jian muncul di depan Zhao Qihan dengan Pedang Zhengyi-nya.


Bilah Pedang mereka saling berbenturan, sehingga keduanya terdorong mundur dua langkah.


“Bagaimana kamu bisa memiliki energi spritual?” Zhao Qihan terkejut—karena formasi susunan Bintang masih aktif dan akan nonaktif bila Kristal Batu-nya habis atau dilepaskan dari titik formasi susunan Bintang.


“Karena kamu akan mati, maka aku akan memberitahu kamu saja agar tidak mati penasaran ha-ha-ha ....” Zhao Jian tertawa mengejek Zhao Qihan. “Rasakan energi spritual apa yang kugunakan!” katanya lagi.


“Ternyata energi spritual dari Beast-mu!” sahut Zhao Qihan mengerutkan keningnya.


Para Petugas Pengadilan bawahan Zhao Jian terkejut mendengarnya, karena Beast Master bisa menggunakan energi spritual Beast-nya. Bukankah itu curang, karena ia bisa menggunakan berbagai energi spritual saat bertarung—sedangkan pihak lain hanya menggunakan satu jenis energi spritual saja, kecuali mereka memiliki artefak tingkat tinggi seperti Guqin milik Zhao Kai yang bisa menghasilkan beberapa jenis energi spritual.


“Mundur ke sini nona muda Xue!” seru Zhao Que pada Huang Xue agar Zhao Jian fokus melawan Zhao Qihan tanpa memikirkan keselamatan Huang Xue lagi.


“Ibu... Kakak Bai ayo ke sana!” seru Huang Xue pada keduanya yang berdiri dengan ekspresi wajah ketakutan di dekatnya.


Keduanya segera berlari mengikuti Huang Xue, sedangkan Zhao Qihan menggertak kan giginya karena gagal membunuh Huang Xue.


Dia kemudian menusukkan Pedang-nya ke dadanya, kemudian energi spritual dalam tubuhnya berfluktuasi—sehingga Zhao Jian mengerutkan keningnya karena Zhao Qihan akan meledak dirinya.


“Ha-ha-ha... Zhao Jian! Matilah bersamaku!” teriak Zhao Qihan—kemudian tubuhnya meledak.


“Hakim Jiannnnnnnnnnn!”


Huang Xue, Zhao Chen dan yang lainnya berteriak panik—karena sudah terlambat bagi Zhao Jian menjauh dari ledakan tersebut.


“Tidakkkkk!” Huang Xue menangis tersedu-sedu. “Ini semua gara-gara diriku sehingga Hakim Jian terkena ledakan itu!” Dia menyalahkan dirinya sendiri.


Para Petugas Pengadilan menundukkan wajah mereka, sangat sedih karena kehilangan Hakim Muda yang awalnya memang sangat menyebalkan dan membuat mereka khawatir nasib mereka akan berakhir tragis—karena ia tidak takut pada siapapun dan berani mengusik Klan besar demi slogannya yang ingin menerapkan Keadilan Mutlak.


Namun, seiring berjalannya waktu, mereka telah terbiasa dan nyaman bekerja dengan dirinya, tapi tiba-tiba saja kecelakaan yang terduga menewaskannya.


Zhao Chen menarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Orang-orang baik memang sangat sulit mendapatkan tempat di Dunia yang penuh tipu daya ini. Semoga di kehidupan selanjutnya Anda menjadi ahli beladiri yang tetap menegakkan keadilan mutlak seperti sekarang!”


“Keponakanku... seharusnya bibi saja yang menggantikan tempatmu. Kasihan sekali, kamu masih perjakaa dan belum menikmati masa mudamu!” Zhao Que menangis tersedu-sedu.


“Kenapa kalian menangis?” Zhao Jian yang dilapisi energi es keluar dari asap ledakan tubuh Zhao Qihan.


Sesaat sebelum ledakan terjadi, Zhao Jian segera mengganti energi spritual dari Beast Ulat Ungu ke Beast Rubah—sehingga ia langsung menggunakan energi spritual Es menahan ledakan tersebut.


“Keponakanku kau masih hidup!” Zhao Que memeluk Zhao Jian.


Namun, Ketiga Beast milik Zhao Jian tampak berwajah masam karena Zhao Jian tersenyum bahagia dipeluk Zhao Que.


“Bibi Que... bisakah kamu berhenti memelukku, sepertinya banyak yang ingin berganti posisi denganku ha-ha-ha!” Zhao Jian tertawa terkekeh-kekeh.


Para Petugas Pengadilan yang lebih muda langsung bergumam ingin merasakan pelukan Zhao Que juga. Namun, mereka hanya bisa bermimpi saja dan berimajinasi liar.


“Jangan lama-lama pelukannya dasar wanita berdada besar!” gerutu Beast Ulat Ungu—sehingga semua orang tertawa mendengarnya. “Tuan Jian peluk aku saja, tubuhku juga lembut sepertinya!” Dia menatap Zhao Que dengan tatapan permusuhan.


Namun, Zhao Que malah makin membenamkan pelukannya pada Zhao Jian yang langsung mimisan—sehingga para Petugas Pengadilan menatap iri padanya.


Huang Bai segera menangkupkan tinju dan berkata, “Semua telah berakhir... bolehkah diriku saja yang ditangkap Hakim Jian. Ibuku dan saudariku tolong bebaskan mereka!”


Zhao Jian menepuk pundak Huang Bai dan berkata, “Kota Canglan masih membutuhkan seorang Pemimpin. Kalau kamu aku penjarakan, siapa yang akan menjadi pemimpin mereka nanti?”


Huang Bai terkejut mendengarnya dan ia langsung meneteskan air mata—karena tidak menyangka Hakim Zhao Jian akan mengabaikan kesalahan Klan Huang-nya.


“Ya, kalian hanya perlu menjual beberapa aset Klan Huang untuk membayar tunggakan upeti pada Kerajaan Zhao dan sisanya lupakan saja, yang penting sejahterakan lah penduduk Kota Canglan. Kalau ada masalah di masa depan, kamu bisa menghubungiku. Namun, bila kamu mengikuti sikap serakah ayahmu, maka aku sendiri yang turun tangan menghukummu.” Zhao Jian akhirnya mengerti inilah pertimbangan Hakim Agung dan Raja Zhao Tian yang berhati-hati bila berhadapan dengan Klan besar.


Karena bila ia menghabisi Klan Huang, maka siapa yang memimpin Kota Canglan dan akan terjadi kerusuhan yang mengakibatkan rakyat kecil menderita.


“Terimakasih Hakim Jian telah mengampuni kakakku!” Huang Xue memeluk Zhao Jian sehingga Ketiga Beast-nya kembali mengerutkan kening. “Ah, maaf-maaf... aku terlalu terbawa suasana!” Huang Xue segera menjauh.


Zhao Jian hanya tersenyum dan segera menggendong Ketiga Beast-nya.


“Apakah kita akan bertemu lagi Hakim Jian?” Huang Xue berkata dengan wajah memerah dan menggigit bibir bawahnya dengan lembut.


“Tentu saja kamu akan bertemu dengan Hakim Jian lagi di Kota Tianwu. Kan, kamu akan memasuki Akademi Kerajaan!” sela Huang Bai sembari mengelus-elus kepala saudari perempuannya itu.


“Kalau kamu di Kota Tianwu nanti, Aku akan mengajakmu jalan-jalan berkeliling kota!” sahut Zhao Jian—sehingga Huang Xue sangat senang mendengarnya.