
Zhao Jian memutuskan mengunjungi Desa Pakis Hitam lebih dulu karena tidak ada petunjuk tentang bandit tersebut di Pengadilan dan ia tidak bertanya pada Klan Nan karena merasa itu membuang-buang waktu saja serta yakin Klan Nan juga tidak akan memberikan petunjuk seperti pihak Pengadilan.
Patriark Klan Nan sangat marah mendengar utusan Sekte Pedang Abadi tidak mendatangi kediamannya padahal Klan Nan lah yang memiliki otoritas tinggi di Kota Nandong dan sekitarnya.
“Bocah itu kurang ajar sekali, padahal Putraku Nan Jing juga murid Puncak Gunung Pedang serta bergaul dengan para tuan muda Klan besar. Jangan-jangan bocah itu berasal dari faksi yang berlawanan dengan kelompok serigala hitam makanya dia tidak menaruh hormat pada Klan Nan!” gerutu Patriark Klan Nan.
“Bagaimana kalau kita mengirim beberapa anggota mengawasinya di Desa Pakis Hitam?” sahut salah satu Penatua.
“Tidak, biarkan saja dia menuju Desa Pakis Hitam karena Nan Feng jauh dari sana. Lagi pula ia juga Ranah Saint dan bila mereka bertemu aku yakin dia sanggup mengalahkan bocah itu,” jawab Patriark Klan Nan menolak usulan Penatua tersebut. “Kalian tetap melakukan Kultivasi tertutup agar Klan Nan kita memiliki banyak Ranah Paramita kedepannya,” katanya lagi.
Langkah diambil Patriark Klan Nan itu cukup cerdik karena bila Zhao Jian berhasil kabur saat kalah melawan Nan Feng maka Klan Nan hanya berdalih bahwa Nan Feng bukan lagi anggota Sekte mereka. Namun, bila Nan Feng berhasil mencapai Ranah Paramita maka Nan Feng akan tetap menjadi anggota Klan Nan.
...***...
Para penduduk Desa Pakis Hitam sangat senang melihat Nan Yue akhirnya datang membawa Ranah Saint. Mereka berkerumun mengadu pada Zhao Jian bahwa putri mereka diculik kawanan bandit padahal Zhao Jian datang ke sana karena untuk menemukan kawanan bandit tersebut.
“Apakah ada barang atau benda-benda yang sering digunakan oleh Putrimu bibi Yue?” tanya Zhao Jian pada Nan Yue.
Nan Yue berpikir sejenak tetapi ia merasa tidak ada barang spesial milik Putrinya.
Zhao Jian tahu Nan Yue kesulitan memahami maksudnya. “Tidak perlu barang yang istimewa, baju kotor pun tak apa-apa karena Beast Anjingku ini akan mengendus bau Putrimu dan mengikuti jejak bau tubuhnya itu sehingga kita akan menemukan di mana dia berada.”
“Kalau itu aku masih menyimpan hanfu milik putriku!” sahut tetangga Nan Yue bergegas masuk ke rumahnya, tak lama kemudian ia datang membawa Hanfu merah. “Aku tidak mencucinya karena ....”
“Istriku selalu mencium aroma pakaian putriku itu setiap malam!” sela suami tetangga Nan Yue itu.
Zhao Jian tersenyum mendengarnya dan menyuruh Gaoer mengendus pakaian itu.
“Bibi Yue dan para penduduk Desa Pakis Hitam tunggulah di sini, kalian tidak perlu ikut karena bos bandit itu sangat kuat maka aku takut itu akan berbahaya bagi keselamatan kalian!” seru Zhao Jian.
“Tapi ....” Nan Yue hendak memohon agar tetap ikut bersama Zhao Jian, tetapi tetangganya mengatakan agar dia tetap di Desa karena bila ia tetap ikut maka takutnya akan menjadi beban bagi Zhao Jian sehingga kesulitan menolong putri mereka.
Gaoer kemudian berlari menuju gunung yang tidak jauh dari Desa Pakis Hitam. Di lereng gunung itu berdiri gubuk-gubuk kecil yang dijaga oleh kawanan bandit.
“Tidak ada gadis-gadis di sana, mungkinkah Beast Hakim Jian salah melakukan indentifikasi?” bisik salah satu Petugas Pengadilan.
Zhao Jian mendengus dingin dan berkata, “Ada tidak ada gadis-gadis itu di sana... kita tetap akan melawan mereka!”
Para Petugas Pengadilan mengerutkan kening mendengar jawaban Zhao Jian.
“Praduga tak bersalah matamu! Kalian saja menutup kasus ini dengan cepat, cih... bunuh mereka semua, aku yang akan bertanggungjawab!” bentak Zhao Jian kesal dengan jawaban mereka.
“Ba-baik Hakim Jian!” sahut mereka dan dengan terpaksa menyerang kawanan bandit.
Sepuluh Petugas Pengadilan itu memiliki basis Kultivasi Ranah Jie Zhu sehingga dengan mudah mengalahkan kawanan bandit yang rata-rata Ranah Spirit saja.
Gaoer mengendus bau badan dari hanfu wanita tetangga Nan Yue itu menghilang di dalam gua. Untuk memastikan apakah ada Perisai penghalang di sana, Zhao Jian memutuskan akan masuk ke dalam gua itu dan memerintahkan Ayam Jago membantu Petugas Pengadilan melawan kawanan bandit.
“Sial aku gagal lagi!” gerutu Nan Feng, Bos bandit tersebut. “Bawakan aku gadis lain, kalau stoknya habis kalian culik lagi gadis-gadis dari Desa terdekat!”
“Baik Bos Feng!” sahut bandit kurus segera keluar dari gua. “Ah, padahal aku masih ingin menikmati tubuh Nan Chi tetapi kami sudah kehabisan stok dan hanya tersisa dirinya saja!” gumamnya.
Namun, tiba-tiba ia mendengar keributan dari luar gua dan terkejut melihat Pemuda Ranah Saint berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam, ia merasa seperti menatap monster buas yang hendak melahapnya.
“Si-siapa kau? Menjauh dariku!” seru bandit kurus itu ketakutan.
“Cih, dasar hama sialan!” sahut Zhao Jian sembari mengayunkan Pedang Keadilan dan Kepala bandit kurus itu langsung menggelinding di lantai gua tersebut.
Nan Feng mengerutkan keningnya karena ia juga merasakan keberadaan Zhao Jian dan tiba-tiba Aura bandit kurus menghilang, yang berarti bawahannya itu telah dibunuh oleh Pemuda Ranah Saint tersebut.
Nan Feng tetap duduk bersila melakukan meditasi, dirinya bukan seperti orang lain yang akan tersulut emosi saat mengetahui bawahannya dibunuh di hadapannya.
“Apakah kau tetap duduk di sana atau aku akan menyerangmu lebih dulu?” Zhao Jian berkata pelan sembari menyeka darah yang mengotori bilah Pedang Keadilan.
Nan Feng tersenyum dan membuka matanya. “Ah, padahal tinggal sedikit lagi aku akan mencapai Ranah Paramita. Namun, orang bodoh dari mana yang menginginkan kematian ini?” sahutnya sembari berpikir sejenak. “Kalau aku memakan Jantung milik Ranah Saint, mungkinkah itu akan menjadi jawaban dari kebuntuan Kultivasiku? tetapi dalam gulungan ilmu beladiri itu dituliskan hanya Jantung wanita saja.” Dia menghela napas panjang.
Zhao Jian mengerutkan keningnya dan akhirnya mengerti kenapa tidak melihat keberadaan gadis-gadis Desa Pakis Hitam.
“Jadi begitu... maafkan aku bibi Yue karena gagal membawakan Putrimu,” gumam Zhao Jian menghela napas panjang.
Bilah Pedang Keadilan tiba-tiba diselimuti kobaran api sehingga gua itu menjadi terang benderang, sosok Nan Feng tetap duduk tenang tetapi kini Dua Pedang kembar tercengkeram erat dikedua tangannya.
“Gerakan Pertama Jurus Pedang Iblis Api!” Zhao Jian mengayunkan pedangnya ke arah Nan Feng dan Energi spiritual Api berbentuk bulan sabit melesat dari bilah Pedang Keadilan.
“Tehnik berpedang yang hebat!” Sudut bibir Nan Feng memancarkan seringai tipis. “Ah, tentu saja hebat karena kau itu murid Sekte Pedang Abadi. Namun, kau masih bocah bau kencur yang tidak mengerti betapa luasnya Dunia ini!” Nan Feng segera melompat tiga tombak dari permukaan lantai gua menghindari serangan Zhao Jian.