Beasts Master

Beasts Master
Terjun Ke Medan Perang VIII



“Aku tidak akan kalahhhhhhhh!” teriak Jin Buyi melompat ke langit, mendorong dan mengalirkan lebih besar energi spiritual pada Naga Api.


Namun, kobaran api pada Naga Api itu semakin menipis dipadamkan oleh Gunung Es Abadi.


“Tuan Meng Tianzheng!” seru Chen Long merasa Jin Buyi akan segera kalah.


Meng Tianzheng menggertak kan giginya, dia tidak menyangka Jin Buyi akan kalah melawan Zhao Jian.


Walaupun dia membenci Jin Buyi, bila Jin Buyi kalah maka selanjutnya giliran dirinya yang akan dibunuh oleh Zhao Jian.


“Serang bersama-sama!” teriak Meng Tianzheng menghunus pedangnya.


Para pengikut Ye Mo terkejut mendengarnya, para Ranah World Master segera menghentikan aliran energi spiritual pada formasi cangkang kura-kura sehingga Perisai raksasa itu menghilang.


Kultivator muda merasa ini seperti mimpi buruk, mereka akan dikirim seperti rekan-rekan mereka ke alam kematian.


Para Kultivator itu terbang ke langit seperti kawanan lebah yang tak terhitung jumlahnya.


“Tidak, jangan kemari!” teriak Jin Buyi merasa tidak sanggup lagi menahan dorongan dari Gunung Es Abadi, ukuran Naga Apinya semakin mengecil dengan cepat walaupun ia mengalirkan energi spiritual-nya.


Chen Furong, Yu Zheng dan yang lainnya yang berada dalam formasi cangkang kura-kura tidak melakukan pergerakan karena Zhao Jian tidak memberikan perintah.


“Apakah kita tidak membantu Hakim Surgawi?” tanya Zhui Wei keheranan kenapa pengikut Zhao Jian masih bertahan dalam formasi cangkang kura-kura sementara pihak lawan telah menyerbu ke langit.


“Huh... kawanan semut itu tidak akan sanggup menggigit tuanku!” sahut Ayam Jago dengan bangga sembari mengepakkan sayapnya, seolah-olah dirinya saja yang bertarung itu.


Dia teringat saat semua Beast kecuali dirinya dan Gaoer menyerang Zhao Jian bersama-sama, mereka dihempaskan dengan mudah padahal Tiga Beast tingkat Surgawi ikut mengeroyok Zhao Jian yang hanya menggunakan Jurus Pedang Dewa Mata Angin dan Divine Martial Arts saja.


Zhui Wei dan semua Ranah World Master merasa fluktuasi energi spiritual yang aneh di langit, entah mengapa intuisi mereka mengatakan sangat berbahaya terbang ke langit.


Namun, para pengikut Ye Mo tetap terbang ke langit karena perintah Meng Tianzheng itu mutlak dan mereka yakin bila Zhao Jian dikeroyok maka dia akan kalah.


“Cepat turun!” teriak Jin Buyi dengan ekspresi wajah panik. “Dia menggunakan sabit Angin!” katanya lagi setelah merasakan energi spiritual Angin melesat melewatinya.


Para Kultivator pendukung Ye Mo segera menggenggam erat senjata masing-masing, bersiap menghadapi Sabit Angin yang dikatakan oleh Jin Buyi.


Sabit Angin yang tak terhitung jumlahnya, melesat seperti hujan dari langit.


Setelah mencapai Ranah World Master, Zhao Jian telah berhasil mencapai pencerahan terhadap Jurus Pedang Dewa Mata Angin. Dia berhasil menciptakan Gerakan Ketiganya, sabit-sabit Angin yang terbentuk dari energi spiritual Angin akan muncul yang jumlahnya tak terhingga——selama energi spiritual Angin tersebut dialirkan secara terus-menerus pada bilah Pedangnya.


Para Kultivator pengikut Ye Mo terkejut saat Sabit Angin menghantam mereka.


Dengan sekuat tenaga mereka menangkis Sabit-Sabit Angin itu. Dalam beberapa tarikan napas, satu persatu Kultivator yang lemah terhadap energi spiritual Angin berjatuhan dari langit.


Sementara yang lain walaupun sanggup menahan Sabit Angin itu, mereka tidak bisa terbang lebih tinggi lagi karena Sabit-sabit Angin yang lain terus menghambat pergerakan mereka.


Zhao Jian menghela napas panjang, ternyata dia tetap tidak dapat membuat agar para Kultivator itu tidak terluka.


Mereka mungkin malu mengakui kekalahan dari Gui Dao yang lebih kecil, sehingga memilih mati secara terhormat atau takut menolak perintah pemimpinnya yang kadang-kadang justru malah jadi penjilat yang lebih kuat darinya.


Asap berwarna ungu tiba-tiba menghiasi langit, Jin Buyi dan yang lainnya mengerutkan kening karena mereka merasakan energi spiritual Racun dari asap ungu itu.


Yu Zheng dan Chen Furong tidak menyangka Zhao Jian masih memiliki energi spiritual lain, sewaktu melawan mereka——Zhao Jian tidak menggunakan energi spiritual Racun ini.


Meng Tianzheng menggerutu, dia ingin mengeluarkan Pil Penawar Racun dari Tas Sihirnya. Namun, ia tidak dapat melakukannya karena Sabit-Sabit Angin terus melesat ke arahnya yang membuatnya terpaksa menangkis Sabit-Sabit Angin itu.


Jin Buyi yang pertama jatuh dari langit, tubuhnya membentur permukaan tanah dengan keras.


Sesaat kemudian, para Kultivator bawahan Ye Mo berjatuhan dari langit seperti rintik-rintik hujan.


Zui Wei menelan air ludahnya yang terasa pahit, dia bersyukur menyerah pada Zhao Jian. Kalau dirinya melawan maka dia akan bernasib sama dengan mereka.


Chen Furong sangat sedih melihat rekan-rekan serta murid dari Sektenya berjatuhan dari langit seperti dedaunan di musim gugur.


Dia menghela napas panjang, setidaknya dia masih dapat menyelamatkan Dua murid. Sedangkan mereka; itu adalah jalan yang mereka pilih dan jalan itu ternyata membawa mereka ke alam kematian.


“Kenapa kalian sedih?” Ayam Jago keheranan melihat manusia-manusia disekitarnya malah bersedih. “Mereka tidak aka mati selama tuan Jian menekan dosis racun dari energi spiritual Racun itu, palingan mereka hanya pingsan saja!” katanya lagi.


Chen Furong, Yu Zheng, Zui Wei, dan yang lainnya terkejut mendengarnya. Mereka tidak menyangka Zhao Jian akan tetap menunjukkan belas kasih walaupun pihak lawan ingin membunuhnya.


Mereka semakin terkesan dengan Zhao Jian, sosok Pahlawan lebih pantas dijuluki padanya.


Mereka kini semakin yakin kalau Zhao Jian benar-benar Hakim Surgawi yang diutus oleh Surga.


Asap Ungu menghilang, Zhao Jian mendarat di permukaan tanah. Dia keheranan melihat Yu Zheng dan yang lainnya menatapnya dengan tatapan berbinar-binar.


“Apa yang terjadi pada mereka? Apakah ada musuh yang menggunakan tehnik Pesona sehingga mereka menatapku seperti menatap gadis cantik yang mandi di Sungai?” gumamnya berspekulasi.


Setelah berpikir sejenak, Zhao Jian memilih mengabaikan mereka. Dia menarik kembali energi spiritual Racun yang telah terserap ke dalam tubuh pengikut Ye Mo.


“Berapa lama mereka akan pulih kembali, Hakim Surgawi?” Chen Furong bertanya sembari menghampiri Zhao Jian.


“Mungkin dalam satu batang dupa lagi, Paman Furong,” sahut Zhao Jian sembari mengambil Tombak milik Jin Buyi. “Tombak yang bagus, kalau saja aku punya juga maka itu sangat cocok digabungkan dengan energi spiritual Apiku. Oh, ya... para Ranah World Master akan bangun lebih cepat!” Dia meletakkan Tombak itu di sebelah tubuh Jin Buyi.


Sebagai Hakim Penegak Keadilan, dirinya tidak mungkin melakukan perbuatan tercela dengan merampas Tombak itu, kecuali Jin Buyi tewas maka dirinya akan mengamankannya agar tidak jatuh pada orang jahat dan mengembalikannya suatu hari nanti pada keturunan pemilik aslinya.


Zui Wei mendekati Zhao Jian, dia segera menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat. “Zui Wei, Patriark Klan Wei menyapa Hakim Surgawi!” sapanya.


Dia ingin menunjukkan pada Zhao Jian bahwa bersungguh-sungguh menyerahkan diri dan bersedia menjadi pengikutnya.


Dia bersedia bersikap rendah hati agar tidak bernasib sama dengan pengikut Ye Mo. Toh, tak ada ruginya mengikuti sosok kuat seperti Zhao Jian, kalau pun nanti Zhao Jian tidak sanggup melawan Dinasti Gu Agung maka ia dan pengikutnya akan menyerah lagi, kemudian mengatakan terpaksa menjadi pengikut Zhao Jian demi keselamatan mereka.


“Paman Wei beristirahat lah dan obati anggota Paman yang terluka!” sahut Zhao Jian dengan santai, dia kemudian duduk di atas batu.


Zui Wei kebingungan, apakah dia benar-benar Hakim Surgawi? Kenapa tidak berwibawa lagi, sikap Zhao Jian itu malah terkesan seperti perbincangan antara Kakek dan cucunya saja.


“He-he-he... jangan terlalu kaku saudara Wei,” kata Yu Zheng membuyarkan lamunan Zui Wei. “Hakim Surgawi itu sangat baik, dia tidak membeda-bedakan kasta ataupun basis Kultivasi seseorang. Dia akan bersikap sopan pada yang tua dan bersikap lembut pada yang muda. Kalau saja sifat para tuan muda atau murid-murid jenius sepertinya maka Dunia ini akan damai,” katanya lagi sembari tersenyum lebar.