
Wanita berusia empat puluhan tahun itu bernama Nan Yue, putrinya telah diculik oleh kawanan bandit yang dipimpin oleh Ranah Saint Sepuluh hari yang lalu.
Nan Yue telah melaporkan kejadian itu pada Klan Nan selaku Klan yang mengendalikan Desa Pakis Hitam, tetapi Klan Nan hanya mengirim beberapa Pendekar Ranah Spirit saja dan mereka hanya berpatroli disekitar Desa tanpa berusaha mencari keberadaan gadis-gadis Desa yang telah diculik oleh kawanan bandit tersebut.
Karena merasa tidak ada harapan Klan Nan akan membawa putrinya kembali, Nan Yue dan suaminya memutuskan menjual semua ternak mereka, kemudian menuju Kota besar terdekat untuk melapor pada Pengadilan. Namun, Petugas Pengadilan yang menerima laporan mereka meminta biaya yang besar untuk memproses laporan itu dan hasilnya juga sama seperti sebelumnya, Petugas Pengadilan yang dikirim ke Desa Pakis hanya melakukan penyelidikan sederhana saja, kemudian memutuskan Putrinya kemungkinan sudah dibunuh atau dijual ke rumah bordil oleh kawanan bandit dan mereka langsung menutup kasus itu.
Suami Nan Yue sangat marah mendengarnya, Pendekar Klan Nan yang mendampingi Petugas Pengadilan langsung menghunus Pedangnya dan membunuh suaminya itu di depannya matanya.
Nan Yue sangat putus asa dan sempat memikirkan akan melakukan bunuh diri saja karena semua orang yang ia cintai telah menghilang darinya. Namun, tiba-tiba tetangganya yang juga kehilangan Putri menyuruh Nan Yue melapor pada salah satu Sekte besar dengan memberikan beberapa Keping Emas hasil penjualan gandumnya. Tetangganya itu masih berharap putrinya ditemukan apapun kondisinya karena sudah berlalu beberapa hari setelah putrinya diculik oleh kawanan bandit.
Nan Yue menerima tawaran tetangganya itu, kemudian bergegas ke beberapa Sekte kecil tetapi Sekte-Sekte itu menolak misi darinya karena semua Ranah Saint di Sekte mereka sedang melakukan kultivasi tertutup dan dia menuju Sekte Gunung Hua, jawabannya tetap saja.
Nan Yue bahkan ditipu oleh Pendekar yang berpura-pura mau menerima tawaran darinya dan saat Pendekar itu mendapatkan uangnya, Pendekar itu malah melarikan diri.
Nan Yue yang putus asa bertemu dengan seseorang yang menyarankan dirinya menuju Sekte Pedang Abadi saja karena kabarnya Sekte itu selalu menerima permintaan dari penduduk walaupun bayarannya sangat kecil.
Namun, Nan Yue kembali merasa putus asa saat petugas administrasi Paviliun Misi Sekte Pedang Abadi mengatakan mereka juga tidak bisa menerima tawaran darinya. Nan Yue tidak tahu harus ke mana untuk mencari bala bantuan dan memutuskan bertekuk lutut di halaman Paviliun Misi dengan harapan para Petinggi Sekte Pedang Abadi tergerak hatinya untuk menolongnya.
“Apakah tuan muda Jian yakin bisa mengalahkan para bandit seorang diri saja?” Nan Yue memberanikan diri untuk bertanya, karena ia takut Zhao Jian seperti pihak-pihak sebelumnya yang hanya memberikan harapan palsu saja.
Nan Yue curiga Zhao Jian nanti hanya berkeliling Desa Pakis Hitam dan mengatakan Putrinya tidak akan bisa diselamatkan karena para bandit telah kabur terlalu jauh.
Zhao Jian tersenyum hangat menatap Nan Yue. “Tenang saja bibi Yue... aku ini adalah murid terkuat di Puncak Penjinak Beast! Namun, aku merasa ada yang janggal, kenapa ada bandit dengan basis kultivasi setinggi itu di wilayah terpencil dan respon para Pemimpin Klan dan Pengadilan biasa-biasa saja?” sahutnya dengan ekspresi wajah keheranan.
Para Patriark Klan besar maupun Klan kecil hanya Ranah Saint saja, seharusnya Klan Nan yang wilayahnya didatangi oleh kawanan bandit itu akan panik dan meminta bantuan Klan besar maupun pihak militer untuk menumpas kawanan bandit itu. Namun, justru yang rela menghabiskan harta agar para bandit ditumpas adalah para penduduk korban dari kawanan bandit itu.
“Aku hanya penduduk desa biasa saja tuan muda Jian, sehingga aku tidak mengerti juga kenapa tiba-tiba Desa Pakis Hitam yang damai didatangi oleh kawanan bandit itu dan hanya menculik para gadis-gadis di sana!” jawab Nan Yue.
“Bibi Yue yakinlah... aku akan menghancurkan kawanan bandit itu dan bila ada pihak-pihak yang bekerja sama dengan kawanan bandit itu maka mereka akan terseret juga!” kata Zhao Jian dengan ekspresi wajah serius.
Nan Yue terkejut mendengarnya dan tubuhnya langsung gemetar, karena bila Zhao Jian mengusik Klan Nan atau pihak pemerintah maka dirinya juga akan terlibat mengingat dirinya lah yang membawa Zhao Jian ke Desa Pakis Hitam. Namun, sesaat kemudian hatinya kembali tenang dan berpikir keluarga sudah hancur, suaminya mati dan nasib putrinya entah bagaimana di tangan para bandit, kalau pun ia disalahkan karena membawa Zhao Jian ke Desa Pakis maka dirinya sudah menerima konsekuensinya bahkan walaupun itu hukuman mati.
“Chi‘er... jangan lakukan itu, apakah kamu tidak ingin bertemu dengan bibi Yue lagi? Aku yakin orangtua kita pasti meminta bala bantuan ke Klan Nan agar Klan Nan mencari keberadaan kita!” seru gadis berusia Dua Puluh tahun sembari menjauhkan tangan Nan Chi dari batu runcing yang ia tempelkan pada lehernya.
Nan Chi, Putri Nan Yue merasa tidak ada gunanya lagi bertahan hidup karena dirinya sudah dinodai para bandit setiap malam dan beberapa gadis-gadis yang bersama mereka tiba-tiba menghilang beberapa hari ini.
Dia secara tidak sengaja mendengar pembicaraan para bandit kalau gadis-gadis itu sebenarnya dijadikan tumbal oleh Pemimpin mereka yang ingin menerobos ke Ranah Paramita.
Dalam keadaan hidup-hidup, Jantung gadis-gadis itu diambil oleh Pemimpin bandit dan memakannya makanya Nan Chi memilih ingin bunuh diri saja daripada mati menderita seperti para gadis-gadis tersebut.
Namun, setelah mendengar seruan sahabatnya, Nan Chi urung melakukan bunuh diri dan menangis tersedu-sedu memeluk sahabatnya itu.
Tiba-tiba pintu gubuk yang mengurung Nan Chi terbuka, Pria kurus dengan gigi kuning dan napas bau arak tersenyum lebar menatap Nan Chi dan sahabatnya.
“Bos ingin salah satu dari kalian melayaninya!” seru Pria kurus itu sembari menenggak arak dari botol kecil di tangannya.
“Chi‘er... kau tetap di sini, biarkan aku saja yang melayani Bos bandit itu!” sahut sahabatnya itu sembari tersenyum hangat.
Nan Chi menggertak kan giginya karena takut sahabatnya itu akan dijadikan tumbal seperti gadis-gadis lain.
“Tidak! Aku saja Nan Ling, aku sudah baik-baik saja sekarang... kau istirahat saja di sini dan—” Belum selesai Nan Chi berbicara, Pria kurus itu mendorong tubuh Nan Chi hingga jatuh tergeletak di lantai.
“Kau keluarlah dan masuk ke dalam gua!” seru Pria kurus pada Nan Ling.
“To-tolong jangan sakiti Chi‘er—” Belum selesai Nan Ling berbicara, tiba-tiba tamparan keras mendarat di wajahnya. “Enyah lah bangsattt! Mengganggu kesenangan orang saja!” gerutu bandit kurus itu.
Nan Ling mengelus pipinya yang terasa sangat sakit dan menundukkan wajahnya, kemudian melangkah keluar dari gubuk.
“Tolong biarkan aku saja yang pergi!” seru Nan Chi menangis tersedu-sedu, sehingga Pria kurus itu menyeringai jahat. “Tolong... biarkan aku saja!” katanya lagi.
“Gadis secantik kamu mubazir bila tidak dinikmati hingga puas, biarkan saja gadis jelek itu yang melayani Bos kami he-he-he!” sahut Pria kurus itu sembari merobek pakaian yang dikenakan oleh Nan Chi.