Beasts Master

Beasts Master
Nan Jing



Zhao Jian menghunus Pedang Keadilan, kemudian ia mengalirkan energi spritual Es ke bilah Pedang tersebut.


Aura dingin memancar dari bilah Pedang Keadilan, ia kemudian menebas ke arah depan dan Pohon besar di depannya tiba-tiba diselimuti Es yang sangat tebal.


“Hebat sekali, aku akhirnya memahami Gerakan Pertama Jurus Pedang Es Abadi!” gumam Zhao Jian tersenyum bahagia.


Dia kemudian mengeluarkan gulungan seni beladiri Jurus Pedang Es Abadi dari Tas Sihir dan mencoba memahami Gerakan Keduanya.


“Ini menitikberatkan beratkan pada tusukan cepat!” gumam Zhao Jian sembari mencoba menusuk ke arah depan, tetapi ia tidak bisa melakukan seperti yang dijelaskan di gulungan seni beladiri tersebut.


Zhao Jian mengerutkan keningnya karena gagal memahami Gerakan Kedua Jurus Pedang Es Abadi itu. Dia berpikir keras untuk memahami penjelasan dari Gerakan Kedua itu.


“Mungkinkah seperti ini?” gumamnya mengalirkan energi spritual Es sembari menusukkan Pedang ke arah depan.


Tiba-tiba dari ujung bilah Pedang Keadilan muncul Niat Pedang Es yang melesat sejauh Sepuluh langkah ke depan.


“Jadi ini adalah maksud dari Tusukan cepat itu! Aku dapat menusuk musuh tanpa harus mendekatinya. Ini luar biasa sekali,” gumamnya tersenyum lebar.


Zhao Jian memutuskan untuk istirahat dan akan melanjutkan latihannya besok karena matahari sudah tenggelam dibalik Puncak Gunung lain dari Sekte Pedang Abadi.


Zhao Jian segera mandi dengan menceburkan diri di telaga kecil di Puncak Penjinak Beast tersebut. Dia ingin terlihat segar saat berjumpa dengan Liu Ruxu malam ini.


Dia tidak kembali ke gubuknya karena tidak ingin mengganggu meditasi Beast-nya. Dia turun dari Puncak Penjinak Beast menggunakan tangga yang biasa dilalui oleh murid-murid Pelataran Luar.


“Senior Jian!”


“Malam senior Jian!”


“Anda mau ke mana senior Jian, apakah aku perlu menemanimu?” sapa murid wanita berparas cantik.


“Hei, berani sekali kamu menggoda senior Jian, apakah kamu tidak takut pada Putri Mahkota Jiang Ruo atau didengar oleh murid-murid dari Kelompok Teratai Emas?” sahut rekan murid wanita cantik tersebut.


"Ah, maaf senior Jian... aku hanya bercanda saja!” Murid wanita itu ketakutan.


Zhao Jian tersenyum mendengar ucapan mereka. "Tidak apa-apa... kalian jangan hanya bermain-main saja, berlatih lah lebih giat lagi agar menjadi murid Pelataran Dalam!” sahutnya.


Kedua tersenyum dan menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat, mereka juga sangat senang ternyata murid terkuat di Puncak Penjinak Beast tersebut sangat ramah dan tidak sombong seperti murid-murid Pelataran Dalam di Puncak Gunung lainnya.


Tak lama berselang, Zhao Jian telah sampai di gerbang luar Sekte Pedang Abadi. Detaknya jantungnya berdegup kencang saat melihat punggung gadis berambut panjang yang mengenakan Hanfu putih yang sangat mirip dengan Liu Ruxu berdiri tak jauh dari pintu gerbang tersebut.


Namun, Zhao Jian mengerutkan keningnya karena tiba-tiba Pemuda tampan yang tidak ia kenali mendekati wanita yang mirip dengan Liu Ruxu dari belakang tersebut.


“Aku tidak menyangka kamu akan datang nona Ruxu... berarti kamu menerima pernyataan cinta dariku, kan?” Pria tampan Ranah Tianzun itu tersenyum bahagia.


“Selamat tuan muda Jing... kalian berdua sangat cocok sekali!”


“Benar sekali, kami akan pergi agar tidak menjadi nyamuk pengganggu kencan kalian!”


Dua bawahan Nan Jing mengucapkan selamat padanya karena akhirnya Liu Ruxu menerima pernyataan cintanya setelah berulang kali mengunjungi gadis itu ke Puncak Awan Putih. Namun, saat itu dengan dingin Liu Ruxu selalu mengelak bertemu dengannya dan beberapa seniornya di Kelompok Teratai Emas membantunya mengusir Nan Jing menjauh darinya.


Para senior Liu Ruxu tidak dapat mencelakai Nan Jing karena dia berasal dari Puncak Gunung Pedang yang juga anggota kelompok Serigala Hitam yang terdiri dari murid-murid terkuat di Sekte Pedang Abadi tersebut. Nan Jing juga datang melalui prosedur resmi sehingga dia tidak dapat dihukum oleh Puncak Awan Putih.


“Sudah berapa kali kukatakan senior Jing... aku itu sudah bersuami, jadi tolong jangan mengusikku lagi!” sahut Liu Ruxu sembari mengibaskan tangan Nan Jing yang hendak memegang tangannya.


Nan Jing mengerutkan keningnya dan berusaha menahan amarahnya. Dia memancarkan senyuman palsu sembari berkata, “Suamimu telah menjadi suami Putri Mahkota Jiang Ruo... aku yakin kau akan disisihkan cepat atau lambat. Bukankah kamu sudah mendengar rumor kalau Jiang Ruo itu adalah wanita dingin dan angkuh, dia pasti akan menghasut suamimu untuk segera menyisihkan dirimu!”


“Kalau kamu mau menjadi kekasihku maka Klan Nan akan menyediakan sumberdaya yang sangat besar untuk membantu meningkatkan Kultivasi-mu dan aku juga berjanji tidak akan menduakanmu!” rayu Nan Jing lagi.


Liu Ruxu menggeleng pelan dan membuang pandangan ke arah lain sembari mendengus dingin. Namun, sudut bibirnya tiba-tiba memancarkan senyuman manis yang membuat detak jantung Nan Jing berdegup kencang dan ingin sekali menyambar bibir yang menggoda tersebut.


“Jian gege ....”


Liu Ruxu berlari ke arah Pemuda tampan dan tanpa ragu membenamkan pelukan erat ke Pemuda itu yang membuat dada Nan Jing terasa sesak dan terbakar amarah.


Niat Membunuh merembes dari tubuh Nan Jing, dia hendak melangkah maju untuk memukul Pemuda yang berani mengambil wanita pujaan hatinya itu. Namun, bawahannya segera meraih pundaknya, menahannya agar tidak melakukan tindakan bodoh tersebut.


“Bos... perhatikan baik-baik, Pemuda itu Ranah Saint!” bisik bawahan Nan Jing takut dia akan memprovokasi musuh kuat.


Nan Jing mengibaskan tangan bawahannya itu dari pundaknya, dia mendengus dingin dan tetap berjalan mendekati Jiang Ruo.


“Siapa kau?” Nan Jing bertanya sinis pada Pemuda tampan itu.


“Aku suaminya dan kau siapa?” cibir Zhao Jian dengan tatapan sinis juga karena ia sudah melihat Pemuda di hadapannya itu berusaha merayu istrinya, bahkan menebar fitnah yang tidak berdasar.


“Jadi kau adalah Zhao Jian suami dari Putri Mahkota Jiang Ruo!” sahut Nan Jing tersenyum sinis tanpa menunjukkan rasa hormat, padahal murid-murid lain akan segera menangkupkan tinju bila mengetahui identitas Zhao Jian.


“Ruxu‘er... ayo kita ke Kota Yunzun, maaf aku terlambat karena aku mengira kamu tidak akan datang sebab Pesan yang kukirim tidak ada balasan,” kata Zhao Jian mengabaikan Nan Jing yang langsung tersenyum masam.


“Eh, aku sudah membalasnya, mungkinkah merpati pesannya salah hinggap?” sahut Liu Ruxu keheranan tanpa melepaskan pelukannya pada Zhao Jian.


Murid-murid yang sedang lalu lalang di pintu gerbang Sekte Pedang Abadi menatap iri pada kemesraan yang mereka pamerkan. Para murid Pria berandai-andai menjadi Zhao Jian dan berhalusinasi melakukan hal-hal aneh dengan tubuh indah Liu Ruxu.


“Mungkin merpati itu hinggap di gubukku dan aku tidak mampir ke sana setelah selesai latihan. Hmm, lebih baik kita pergi dari sini!” Zhao Jian menyadari tatapan para murid-murid Sekte Pedang Abadi tertuju pada mereka.


“Tunggu! Kalian mau ke mana?” sela Nan Jing menghentikan langkah Zhao Jian dan Liu Ruxu.


“Itu urusan kami, kenapa Kamu penasaran dengan apa yang kami lakukan?” gerutu Liu Ruxu menatap sinis pada Nan Jing yang langsung mengerutkan keningnya.


“Aturan Sekte menjelaskan para murid-murid dilarang melakukan tindakan asusila atau kalian akan dihukum oleh Penegak Hukum Sekte dengan hukuman berat!” ancam Nan Jing menakut-nakuti mereka agar tidak meninggalkan Sekte Pedang Abadi.


Zhao Jian mengerutkan keningnya, dia sangat kesal dengan Pemuda tampan di hadapannya itu. “Aku berusaha dengan sabar agar tidak terprovokasi dengan sikapmu, tetapi kau semakin liar saja. Ini peringatan pertama dan terakhir dariku, jangan pernah dekati istriku atau kau akan menderita. Camkan itu baik-baik!” ancamnya.


“Aku hanya mengingatkan kalian, kalau kalian tidak mendengarkan nasehat dariku ya... itu terserah kalian!” sahut Nan Jing dengan sudut bibir menyeringai jahat.


Zhao Jian dan Liu Ruxu akhirnya pergi meninggalkan Nan Jing yang hanya mematung menatap kepergian mereka.


“Apakah tidak apa-apa mengancamnya Jian gege? Dia itu anggota Kelompok Serigala Hitam dan Penegak Hukum Sekte juga kebanyakan adalah simpatisan mereka,” bisik Liu Ruxu khawatir Zhao Jian akan mendapatkan masalah ke depannya.


“Jangan khawatir Ruxu‘er... aku juga anggota Penegak Hukum Sekte dari Puncak Penjinak Beast, jadi bila mereka berani berulah denganku maka itu adalah tindakan yang sangat bodoh!” sahut Zhao Jian tersenyum hangat.


Tak lama berselang, mereka berhenti di depan Penginapan dengan lambang Mawar Merah.