
Beast Phoenix mengabaikan seruan Zhao Jian, ribuan bola-bola api melesat sesaat setelah ia mengepakkan sayapnya.
“Senior bangsattttttttttttttttttt!” umpat Zhao Jian sembari berhenti berlari, dia kemudian memasang kuda-kuda beladiri dan menancapkan Pedangnya ke permukaan tanah, “Dinding Es Abadi!”
Para murid-murid Puncak Penjinak Beast terkejut melihat pertarungan senior mereka dengan Beast Phoenix, mereka sampai berhenti bernapas untuk sesaat karena pertarungan itu bukan lagi latih tanding, melainkan itu adalah pelenyapan terhadap murid nomor satu di Puncak Penjinak Beast tersebut.
Sesaat sebelum ribuan bola-bola api menghantam Zhao Jian, dari bilah Pedang Keadilan muncul aura dingin yang membuat tubuh Zhao Jian berubah menjadi Patung Es.
Permukaan tanah bergetar hebat, pepohonan yang dihantam oleh ribuan bola-bola api langsung hangus terbakar dan terdengar teriakan histeris dari Zhao Jian.
“Sudah cukup latihannya!” Suara Penatua Xiao Shi menggema di Puncak Penjinak Beast dan sosok wanita berambut merah melayang di udara. “He-he-he... murid kesayanganku benar-benar hebat sekali, dia masih bertahan hidup saat menerima serangan dari Phoenix yang melepaskan 75% kekuatannya, padahal aku sempat khawatir bocah itu akan mati makanya aku langsung keluar untuk melakukan perawatan darurat. Namun, nyatanya ia hanya menderita luka bakar tanpa merusak organ tubuhnya.” Penatua Xiao Shi tertawa terkekeh-kekeh.
Dia menghampiri Zhao Jian yang tergeletak di permukaan tanah yang telah jatuh pingsan.
“Energi spritual es Beast milik bocah ini hebat sekali, jangan-jangan Rubah kembar itu adalah Beast Legendaris atau mungkin diatasnya yaitu Beast tingkat Surgawi,” gumam Penatua Xiao Shi berspekulasi sembari membawa tubuh Zhao Jian ke Pondoknya.
Xuan Ji yang menyaksikan pertarungan singkat itu langsung mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka seniornya itu sangat kuat sekali bahkan Leluhurnya ikut memuji kehebatan Zhao Jian yang dapat bertahan hidup diserang oleh Beast dengan basis Kultivasi Ranah Paramita.
Xuan Ji mengepal tangannya. “Untung saja aku mengikuti saran dari Leluhur yang menyuruhku untuk memilih Puncak Penjinak Beast saat memasuki Sekte Pedang Abadi,” gumamnya——padahal awalnya ia ingin memasuki Puncak Gunung Pedang dan menjadi Pendekar Pedang terhebat di Dunia. Namun, setelah melihat pertarungan Zhao Jian itu, dia kini merasa Beast Master lah yang terhebat di Dunia Beladiri.
“Sekarang kau fokus saja meningkatkan basis Kultivasimu dan usahakan di masa depan untuk tidak berkonflik dengan Pemuda itu dan juga selalu menjaga jarak dengannya karena sosok sepertinya biasanya memiliki musuh yang banyak, bahkan yang tidak memiliki konflik dengannya pun akan berusaha melenyapkannya karena mereka khawatir dia akan menjadi ancaman di masa depan.” Suara Leluhur Pertama Klan Xuan menggema di benak Xuan Ji.
Xuan Ji menganggukkan kepala dan segera menjauh dari gubuk Penatua Xiao Shi.
“Hmmm, aku merasakan Aura misterius muncul dari bocah itu?” gumam Penatua Xiao Shi menatap punggung Xuan Ji. “Dia berhasil menjalin kontrak jiwa dengan Beast Ular Tujuh Warna... ha-ha-ha ternyata masa emas Puncak Penjinak Beast telah tiba!” Dia tidak menyangka ada jenius Beast Master lainnya telah muncul karena Beast Ular Tujuh Warna meliuk-liuk di belakang Xuan Ji.
...***...
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” Zhao Jian berteriak histeris.
“Hei, ribut sekali kau bocah!” gerutu Beast Phoenix yang kini berubah wujud sebesar ayam kampung dan bertengger di jendela.
“Eh, aku masih hidup ternyata!” Zhao Jian bernapas lega sembari mengelus-elus wajahnya. “Ini semua gara-gara kau sialan!” Dia mengutuk Beast Phoenix yang langsung memalingkan wajahnya sembari berkicau seperti burung Pipit.
Zhao Jian mengerutkan keningnya karena diabaikan oleh Beast Phoenix. Di dalam hatinya ia sangat ingin menyembelih Beast Phoenix itu dan memakan dagingnya sebagai bentuk balas dendam.
“Jangan bertengkar lagi,” sela Penatua Xiao Shi. “Kekutanmu meningkatkan drastis, apakah kau sudah memahami dua tehnik berpedang yang kuberikan itu?” selidiknya penasaran.
“Kau kenakan dulu pakaianmu, apa kau tidak kasihan dengan belutmu yang loyo itu,” canda Penatua Xiao Shi sembari melirik ke arah belut Zhao Jian. “Cih, itu terlihat lemah, bagaimana caramu menyenangkan kedua istrimu. Kasihan sekali mereka karena mendapat suami lemah sepertimu!” ejeknya dengan ekspresi wajah datarnya.
Wajah Zhao Jian memerah, dia buru-buru mengeluarkan pakaian dari Tas Sihirnya. “Sial! Guru macam apa Penatua Shi ini... malah mengejek belut tampanku!” keluhnya.
“Lupakan tentang itu, sekarang aku akan memberimu satu tehnik beladiri lagi.” Penatua Xiao Shi melempar gulungan kertas yang langsung ditangkap oleh Zhao Jian. “Saat kompetisi perburuan nanti kau harus mendapatkan peringkat pertama. Jangan sampai kalah ya, aku telah berinvestasi tinggi padamu. Sekarang kau keluar dari sini!”
Penatua Xiao Shi menerbangkan Zhao Jian dari gubuknya.
Beberapa murid Pelataran Luar yang sedang menyapu halaman gubuk Penatua Xiao terkejut mendengar suara ledakan yang muncul dari gubuk tersebut.
“Senior Jian!” teriak mereka berusaha mendekatinya, tetapi Zhao Jian melambaikan tangannya. “Aku baik-baik saja!” sahutnya sembari menyeka darah dari sudut bibirnya.
Zhao Jian segera menggunakan tehnik meringankan tubuh, dia tidak ingin berlama-lama di dekat Penatua Xiao Shi karena tidak ingin babak belur.
Setelah sampai di gubuknya, Zhao Jian membuka gulungan kertas yang diberikan oleh Penatua Xiao Shi.
Gulungan ternik beladiri itu bukan lagi tehnik berpedang, itu adalah tehnik beladiri yang mengatur aliran energi spiritual dari Dantian dan mengubahnya menjadi kekuatan tinju yang menghancurkan.
“Jurus Tinju Kingkong Surgawi... nama tehnik beladiri ini seram juga. Aku harus segera mempraktekkannya,” gumam Zhao Jian.
Gerakan Pertama Jurus Kingkong Surgawi itu adalah seperti gerakan tinju biasa pada umumnya, yaitu meninju ke arah depan.
Zhao Jian memejamkan matanya, dia mengalirkan energi spiritual dari Dantian-nya. Karena energi spiritual asli miliknya adalah energi spiritual Angin maka ia mengalirkan energi spiritual Angin itu pada percobaan pertama tersebut.
Namun, saat ia meninju ke arah depan, tidak ada yang terjadi. “Sepertinya Jurus Tinju Kingkong Surgawi ini tidak cocok dengan energi spiritual Angin, aku coba energi spiritual Api saja,” pikirnya lagi.
Zhao Jian meminjam energi spiritual Daji, Beast Rubah yang memiliki simbol matahari di keningnya.
Kepalan tangan Zhao Jian tiba-tiba diselimuti kobaran Api. Dia kemudian meninju ke arah depan sembari berteriak, “Gerakan Pertama Jurus Tinju Kingkong Surgawi!”
Kobaran Api berbentuk kepalan tangan berdiameter Lima Tombak melesat ke arah depan yang langsung menumbangkan Pohon di depannya.
Zhao Jian tersenyum lebar. “Tehnik tinju yang sangat hebat sekali!”
Zhao Jian tidak langsung mempelajari gerakan selanjutnya, dia justru terus mengasah Gerakan Pertama Jurus Tinju Kingkong Surgawi hingga mahir.