
Patriark Klan Liu tersenyum masam mendengar ucapan Liu Ruxu. Dia menjadi khawatir, menantu seperti apa yang akan dipilih oleh Liu Ruxu nanti.
“Jangan terlalu diambil hati, Ruxu‘er kita pasti akan memilih tuan muda dari salah satu Tiga Klan besar nanti!” Ibu Liu Ruxu menghibur Patriark Klan Liu yang tampak khawatir Liu Ruxu malah memilih Pria dari Klan kecil nanti—sehingga tidak mendatangkan manfaat pada Klan Liu-nya.
Liu Ruxu merebahkan diri di atas ranjang kamar tamu karena ia telah merusak kamarnya akibat terlalu bahagia—menerobos ke Ranah Spirit dan menyangka generasi muda seangkatan dengannya, dirinya lah yang pertama yang mencapai Ranah Spirit. Namun, tak ada yang menyangka Pemuda lemah seperti Zhao Jian tiba-tiba menunjukkan taringnya dan menaikkan basis Kultivasi-nya dengan drastis hanya dalam beberapa bulan saja.
“Kalau dipikir-pikir punggung Pemuda yang menyelamatkan aku di Gunung Kun Lun itu mirip dengan Zhao Jian. Apakah dia yang menyelamatkan aku?” Liu Ruxu menduga-duga. “Ah, itu tidak mungkin karena ia masih di Penjara saat kejadian itu dan tidak mungkin ia melarikan diri dari penjara bawah tanah yang memiliki penjagaan yang sangat ketat, tapi siapa Pemuda itu?”
“Eh, kenapa Aku memikirkannya? Apa aku jatuh cinta padanya?”
Wajah Liu Ruxu memerah dan membenamkan wajahnya ke bantal empuknya, entah kenapa ia selalu memikirkan Pemuda misterius itu dan berharap bertemu lagi dengannya. Bahkan ia berpikiran untuk kabur bersama dengannya untuk menghindari pernikahan politiknya.
...***...
“Kita sudah sampai ke Kota Lingxi, Hakim Jian!” seru Yan Mo membuyarkan lamunan Zhao Jian yang tiba-tiba teringat saat ia menjalankan misi bersama Liu Ruxu dan secara tidak sengaja ia melihat gadis tercantik di Akademi Kerajaan Zhao itu sedang mandi di telaga kecil.
Zhao Jian terkejut dan hendak kabur, tetapi karena penasaran dengan penampilan Liu Ruxu tanpa mengenakan sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya, Zhao Jian memutuskan mengintipnya. Namun, gara-gara itulah Kitab Keadilan membuatnya dicambuk hingga pingsan beberapa hari.
“Kenapa aku mengingat hal memalukan itu?” gumam Zhao Jian menoleh ke arah Yan Mo.
“Ha-hakim Jian... Anda mimisan!” Yan Mo panik dan mengeluarkan sapu tangan bermotif bunga mawar. “Aduh, kenapa aku malah mengeluarkan yang ini?” gumamnya karena sapu tangan tersebut adalah pemberian tunangannya dan ia memperlakuannya layaknya harta karun, bahkan ia belum pernah menggunakannya.
Zhao Jian segera menyeka darah yang keluar dari hidungnya dengan sapu tangan milik Yan Mo. “Hmm, sepertinya ini sapu tangan yang baru, maaf tuan muda Mo... aku akan membelikanmu yang baru nanti!”
“Ah, itu tidak perlu Hakim Jian,” sahut Yan Mo tersenyum masam dan hendak menerima sapu tangan itu lagi, tetapi Zhao Jian malah membuangnya ke pinggir jalan—sehingga Yan Mo membelalakkan matanya.
Bagaimana bisa Zhao Jian memperlakukan harta karun nasionalnya itu seperti layaknya barang sekali pakai saja.
“Maaf Hakim Jian, perutku sedang mulas dan bawahanku yang akan membawa rombonganmu menuju Kediaman Klan Yan kami!” Yan Mo berkilah, padahal ia hendak mengambil kembali sapu tangan pemberian tunangannya tersebut.
“Oh, ternyata begitu... kami tidak perlu dikawal lagi, karena kedatangan kami ke sini tidak resmi. Lebih baik mereka mengatur tempat tinggal para pengungsi saja,” sahut Zhao Jian dan Yan Mo langsung mengiyakan karena takut ada yang mengambil sapu tangan tersebut.
Rombongan Zhao Jian kemudian berpisah dengan rombongan pengungsi yang dikawal ahli beladiri Klan Yan, sedangkan Yan Mo kembali ke belakang mencari sapu tangan pemberian tunangannya. Namun, sapu tangan tersebut malah diambil Kera yang kebetulan menyeberang jalan.
Yan Mo sangat marah dan mengejar Kera tersebut, tetapi Kera tersebut bergerak bersama kawanannya yang jumlahnya ratusan, sehingga pertarungan sengit pun tak terhindarkan.
“Apakah ada orang bodoh yang bertarung dengan kawanan Kera liar di hutan dekat gerbang masuk Kota?” Yan Yuan, bawahan Yan Mo mencibir saat mendengar suara teriakan Kera dan ledakan dari hutan.
“Mungkin bocah-bocah yang sedang latihan fisik dan ingin merasakan pertaruhan hidup mati yang sesungguhnya. Dasar bocah jaman sekarang, nyali mereka terlalu gila dan tidak takut mati!” Yan Kai ikut mencibir.
Rombongan Zhao Jian memilih menginap di Penginapan terbesar di Kota Lingxi, karena Penginapan murah telah diisi para Pengungsi dari Desa-Desa wilayah Klan Yan.
Namun, saat mereka memasuki Kediaman, mereka terkejut melihat banyak petinggi militer yang sedang makan di ruang bawah Penginapan yang sekaligus merangkap sebagai Restoran mewah tersebut.
“Itu adalah Jenderal Zhao Yi!” bisik Zhao Que. “Kenapa Pangeran Pertama di sini, ya? Apakah gara-gara Pemuda yang mempraktikkan tehnik terlarang tersebut telah membuat kacau seluruh wilayah ekor Gui Dao kita?” Zhao Que berspekulasi.
“Mungkin saja,” sahut Zhao Jian. “Lebih baik kita tidak berurusan dengan Pangeran Pertama. Cepat pesan beberapa kamar untuk kita Bibi Que!”
Zhao Jian langsung mengalihkan pandangannya saat mata Jenderal Zhao Yi atau Pangeran Pertama Kerajaan Zhao itu tertuju padanya.
Zhao Yi sedang makan siang bersama dengan Patriark Klan Yan dan Yan Yan serta Komandan Zhao Fan selaku petinggi militer yang bertanggung jawab atas keamanan Kota Lingxi.