
Ledakan Api besar menghancurkan Restoran, Jiang Xiaofan dan Zhu Fan melayang Dua Puluh tombak di atas permukaan tanah—menatap ke arah bawah, memastikan apakah Zhao Jian sudah mati atau terluka berat akibat serangan Jiang Xiaofan tersebut.
Namun, mereka tercengang saat melihat Zhao Jian tidak berada di sana.
“Dia ternyata berhasil menghindari seranganku?” kata Jiang Xiaofan sembari mengedarkan energi spritual-nya mencari keberadaan Zhao Jian.
“Kau mencariku?” Zhao Jian tersenyum sembari menyeka darah dari sudut bibirnya.
Zhao Jian berhasil menghindari serangan dari Jiang Xiaofan menggunakan Langkah Angin, akan tetapi ia tetap terkena dampak ledakan api tadi dan membuatnya terkena luka ringan.
“Ouh... ternyata Kamu memiliki sedikit kemampuan juga he-he-he... tetapi sayangnya, tehnik beladiri di Gui Dao kecil ini tetap lebih rendah dari Gui Dao kami!” Jiang Xiaofan memasang kuda-kuda beladiri dan memposisikan Pedangnya secara horizontal di depan wajahnya.
Zhao Jian juga menggabungkan tehnik beladiri Jurus Pedang Dewa Mata Angin dengan tehnik beladiri Divine Martial Arts atau gabungan seni beladiri Silat, Kungfu dan Karate.
“Gerakan itu?” Zhu Fan merasa sangat asing dengan Kuda-Kuda beladiri Zhao Jian, seperti bukan pengguna tehnik berpedang saja. “Apa dia ingin melawan kita dengan seni beladiri tingkat rendah? Kau menganggap remeh kami Hakim Jian!” Seringai tipis terpancar dari sudut bibirnya.
Zhu Fan melompat ke arah Zhao Jian sesuai dengan petunjuk dari Jiang Xiaofan yang berkomunikasi dengannya melalui telepati. Namun, ia bingung karena Zhao Jian tidak berpindah dari tempatnya, sehingga ia hanya menebas ruang kosong saja.
Jiang Xiaofan mengerutkan keningnya. “Bagaimana prediksiku bisa meleset? Padahal itu adalah tehnik beladiri yang dapat melihat masa depan selama dua tarikan napas,” gumamnya keheranan.
Zhao Jian sebenarnya sudah melangkah untuk mundur, tetapi ia mengurungkan niatnya karena menyadari kalau Zhu Fan tidak melompat ke arahnya. Itu berkat ia fokus memperhatikan gerak-gerik Zhu Fan dan meyakini Jiang Xiaofan tidak akan menyerang lebih dulu, karena Jiang Xiaofan adalah tipe ahli beladiri pendukung atau penyerang baris kedua.
Zhao Jian menekan kakinya, sehingga tanah pijakan kakinya hancur berkeping-keping, kemudian Zhao Jian melesat seperti angin dan muncul di depan Jiang Xiaofan.
Zhu Fan terkejut, Zhao Jian tidak memanfaatkan keadaannya yang sedang lengah dan pertahanan pada punggungnya yang terbuka lebar—serta jarak diantara mereka cuma Dua langkah saja, kemungkinan Zhao Jian menebas punggungnya sangat memungkinkan, akan tetapi Zhao Jian malah memilih menyerang Jiang Xiaofan yang jaraknya lebih jauh.
“Mungkinkah ia sudah menyadari kemampuan saudara Jiang?” gumam Zhu Fan panik dan segera mengejar Zhao Jian.
Jiang Xiaofan mengerutkan keningnya dan memposisikan Pedangnya secara horizontal untuk menahan tebasan Pedang Keadilan milik Zhao Jian.
Kalau bukan karena basis Kultivasi Jiang Xiaofan sama dengan basis Kultivasi Zhao Jian, maka tubuhnya akan hancur berkeping-keping oleh sabetan ratusan sabit angin tersebut.
“Aku harus memperlebar jarak dengannya,” gumamnya memprediksi gerakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh Zhao Jian.
Namun, tiba-tiba Zhao Jian kembali melakukan gerakan diluar prediksinya. Zhao Jian malah melempar Pedang Keadilan ke belakang.
Zhu Fan yang hendak menyerang punggung Zhao Jian terpaksa menangkis Pedang yang melesat ke arahnya dengan Kapaknya.
“Sungguh bodoh melempar Pedangmu dalam situasi seperti ini!” Jiang Xiaofan tersenyum lebar dan memutuskan tidak lagi menjauh dari Zhao Jian. Dia segera mengayunkan Pedangnya.
Namun, tiba-tiba tendangan Kaki Zhao Jian mendarat di dada Jiang Xiaofan, sehingga ia terhempas mundur selangkah dan menyemburkan seteguk darah.
“Kurang ajar!” Jiang Xiaofan sangat marah dan menebas Zhao Jian secara horizontal ke arah lehernya. Namun, Zhao Jian menundukkan kepalanya dan tapak tangan Zhao Jian mendarat lagi di dadanya.
Energi spritual angin menyatu dengan tehnik beladiri Divine Martial Arts yang digunakan oleh Zhao Jian dan energi spritual angin itu meledak di dada Jiang Xiaofan.
Jiang Xiaofan terhempas sejauh Sepuluh langkah dan tanda telapak tangan yang tembus dari dada ke punggung terlihat jelas di tubuhnya.
Jantung dan Paru-paru Jiang Xiaofan hancur berkeping-keping, sehingga ia langsung tumbang ke tanah dengan mata terbelalak; tidak mempercayai kalau dirinya akan dibunuh oleh ahli beladiri dari Gui Dao kecil.
“Kepung penjahat itu! Dia menyerang Hakim Jian!” seru Komandan militer yang bertanggungjawab atas keamanan Kota Tianwu.
Petugas Pengadilan dibawah pimpinan Zhao Chen juga datang setelah Liu Ruxu mengadukan tentang kemunculan Dua Ranah Jie Zhu di restoran dan mengatakan kalau Zhao Jian sedang mengulur waktu sebelum bala bantuan tiba. Namun, mereka tidak menyangka ternyata Zhao Jian telah bertarung melawan Ranah Jie Zhu itu lebih dulu.
Zhu Fan menggertak kan giginya karena tidak mungkin bisa menang melawan mereka sendirian, sedangkan melawan Zhao Jian saja mereka kewalahan.
Dia kemudian melempar Jimat Kertas ke arah Zhao Jian dan tiba-tiba asap tebal muncul, sehingga Zhao Jian segera menjauh dari sana dan menggunakan energi spritual angin menghilangkan asap tebal itu. Namun, saat asap itu menghilang, Zhu Fan telah melarikan diri juga.