Beasts Master

Beasts Master
Kota Nandong



“Bertahanlah Chi‘er... aku yakin Klan Nan pasti akan menemukan keberadaan kita,” gumam Nan Ling sedih mendengar suara teriakan histeris dari Nan Chi yang sedang diperkosa oleh bandit bertubuh kurus tersebut.


Saat berjalan menuju gua tempat Bos bandit berada, Nan Ling kebingungan kenapa gadis-gadis yang diculik bersama mereka tidak terlihat lagi. Dia menduga-duga mungkinkah mereka telah dibunuh atau dijual ke rumah bordil.


Nan Ling menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat pada dua bandit yang berjaga di pintu masuk gua. “Aku diperintahkan untuk melayani tuan—”


“Masuk saja dan tidak perlu berbasa-basi!” sahut salah satu bandit dengan seringai tipis terpancar dari sudut bibirnya.


“Semoga saja Bos berhasil menerobos ke Ranah Paramita, ini sudah percobaan yang ke Dua Puluh Sembilan... kalau tidak berhasil lagi dan kita menculik gadis-gadis lain lagi maka aku takut Kaisar akan marah serta memerintahkan militer memburu kita!” sahut bandit yang satu lagi.


“Semoga saja mereka masih menganggap kejadian ini sebagai tindakan kriminal biasa saja dan kabarnya aku mendengar kalau Bos sudah mencapai Ranah Saint Puncak, aku yakin hanya dengan beberapa pengorbanan saja Bos sudah berhasil menerobos ke Ranah Paramita!”


Nan Ling terkejut mendengar perbincangan kedua bandit itu. Detak jantungnya berdebar kencang dan akhirnya mengerti kenapa gadis-gadis yang diculik bersamanya menghilang.


“Hei gadis bodoh! Kenapa kau mematung di sana, cepat masuk ke dalam!” tegur salah satu bandit karena Nan Ling berhenti berjalan.


Dengan ragu-ragu Nan Ling berjalan ke bagian terdalam gua tersebut dan melihat sosok Pria tampan yang terlihat seperti berusia Tiga Puluhan tahun sedang duduk bersila.


Pria tampan itu merasakan keberadaan Nan Ling, dia kemudian menjentikkan jari tangannya dan tiba-tiba leher Nan Ling telah dicengkeram oleh Bos bandit tersebut.


Nan Ling membelalakkan mata karena kesulitan bernapas dan hendak memohon ampunan, tetapi saat niat itu terbesit di pikirannya tiba-tiba ia merasakan sensasi sakit dari dadanya dan Pria tampan itu menyeringai jahat menatap Jantung yang masih berdegup di tangan kirinya.


“Maaf Nan Chi... semoga saja ada yang menyelamatkanmu,” gumam Nan Ling sebelum pandangannya tiba-tiba menjadi gelap. “Ayah... ibu... maafkan Ling‘er karena harus meninggalkan Dunia ini lebih dulu, semoga di kehidupan berikutnya kita bertemu lagi.”


Tubuh Nan Ling terbakar oleh energi spiritual Api Bos bandit hingga menjadi butiran debu, kemudian Bos bandit itu menelan habis Jantung milik Nan Ling dan melakukan Kultivasi agar dapat menerobos ke Ranah Paramita.


Dulu ia hanya membutuhkan Dua Puluh Jantung wanita muda saja untuk menerobos dari Ranah Tianzun ke Ranah Saint, kini ia berharap tidak memerlukan banyak Jantung wanita muda untuk menerobos ke Ranah Paramita.


...***...


Zhao Jian dan Nan Yue memasuki Kota Nandong dan Pendekar Klan Nan yang menjaga gerbang masuk langsung tersenyum lebar melihat Nan Yue akhirnya datang bersama anggota Sekte Pedang Abadi.


“Bibi Yue... sayang sekali kamu datang terlambat, Pengadilan Kota Nandong telah berhasil menangkap bandit-bandit yang menculik putrimu, tetapi sayang sekali Putrimu tidak dapat diselamatkan!” seru Pendekar Klan Nan tersebut.


“Apaaaaaaaaaa?” Nan Yue terkejut mendengarnya, air matanya tak terbendung lagi. Dia menangis histeris sembari meneriakkan nama Putrinya.


“Tenanglah bibi Yue... sebelum kita melihat tubuh Putrimu maka kita belum bisa mempercayai berita itu, sudah bukan rahasia umum lagi kalau Pengadilan maupun Klan-Klan sering memanipulasi sebuah kasus!” sela Zhao Jian menghibur Nan Yue agar tidak bersedih mendengar kabar itu walaupun ia juga tidak yakin apakah Putri Nan Yue masih hidup atau sudah mati.


“Kau anak nakal! Beraninya kamu memfitnah Pengadilan!” gerutu Pendekar Klan Nan itu menatap tajam Zhao Jian.


“Hei, jangan memprovokasi anggota Sekte Pedang Abadi itu, apakah kamu ingin membuat Klan Nan dihancurkan?” sela Pendekar Klan Nan lainnya karena ia merasakan Aura Ranah Saint dari Pemuda di atas punggung Beast Ayam Surgawi tersebut.


“Hmm, sepertinya kamu tidak mengenal diriku, ya?” sahut Zhao Jian melirik Pendekar Klan Nan itu dan tiba-tiba ia merasakan sensasi tercekik pada lehernya.


“Tuan muda tolong maafkan kami!” Pendekar yang satu lagi langsung bersujud memohon ampunan sehingga para penduduk yang berlalu lalang di gerbang Kota terkejut melihatnya dan mulai berspekulasi tentang apa yang terjadi.


Zhao Jian menghilangkan energi spiritual-nya yang membuat Pendekar Klan Nan itu merasa tercekik. “Kedepannya berkerja lah dengan baik... ingat lah kesempatan kedua itu jarang terjadi.”


“Terimakasih tuan muda... kami tidak akan mengulanginya lagi!” Kedua Pendekar Klan Nan itu menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat.


Zhao Jian hanya mendengus dingin dan melanjutkan perjalanan memasuki Kota Nandong. Tujuannya adalah gedung Pengadilan.


Nan Yue hanya melamun saja di atas punggung Ayam Jago, dia terus kepikiran dengan nasib Putrinya.


“Tunggulah sebentar di sini bibi Yue, aku akan bertanya pada Pengadilan tentang Putrimu!” seru Zhao Jian membuyarkan lamunan Nan Yue.


Dia kemudian memasuki gedung Pengadilan, karena ia mengenakan Jubah Sekte Pedang Abadi——Hakim Pengadilan cabang Kota Nandong langsung menyambut kedatangannya.


Hakim itu tersenyum lebar sembari menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat. “Adakah yang bisa kami bantu tuan muda?” sapanya.


“Di mana tawanan bandit yang menculik gadis-gadis di Desa Pakis Hitam?” sahut Zhao Jian dengan ekspresi wajah datar.


Hakim itu mengerutkan keningnya dan merasa Zhao Jian sombong sekali, tetapi ia tetap tersenyum dan menjawab, “Kasus itu telah ditutup dan kami telah mengeksekusi mati mereka!”


“Jadi seperti itu,” sahut Zhao Jian dengan sudut bibir memancarkan seringai tipis menatap Hakim bertubuh gemuk dan berkumis tebal tersebut.


Entah mengapa Hakim itu merasa Zhao Jian sedang memandang rendah dirinya. Dia pun mengutuk Zhao Jian dalam benaknya dan hanya tersenyum saja.


“Kumpulkan Sepuluh Petugas Pengadilan dalam waktu Lima Puluh tarikan napas dan aku menunggu mereka di halaman gedung Pengadilan, kalau sampai terlambat maka seluruh Petugas Pengadilan dan Hakim yang ada di Kota Nandong ini akan dipecat serta dihukum berat!” seru Zhao Jian sembari menunjukkan Plakat berwarna emas.


“Hakim dari Pusat?” Hakim itu terkejut melihat Plakat yang ditunjukkan oleh Pemuda Sekte Pedang Abadi tersebut. “Siapa sebenarnya Pemuda ini, bagaimana ia bisa menjadi Hakim berkedudukan tinggi? Mungkinkah ia keluarga Kaisar atau Klan besar?” pikirnya dan langsung menyuruh Sepuluh Petugas Pengadilan untuk mendampingi Zhao Jian.