
“Cih, kenapa Aku memiliki Saudara laki-laki yang sangat penakut? Buat apa harta kekayaan kalau kehidupan kami dibawah bayang-bayang para penjahat itu!” gerutu Huang Xue melompat dari jendela kamarnya—ia menggunakan topi caping dan penutup wajah.
Huang Xue memutuskan akan mengadu pada Hakim Zhao Jian yang rumornya bahkan berani menyinggung Klan Lin demi menghukum pelaku pembunuhan terhadap wanita muda dari penduduk biasa—walaupun akhirnya ia dinyatakan bersalah karena dan dipenjara selama Sebulan.
Namun, Huang Xue curiga, sebenarnya Hakim Jian tidak bersalah karena pihak Pengadilan hanya menjatuhkan hukuman ringan saja padanya. Kemudian pihak Pengadilan ingin menenangkan kemarahan Klan Lin saja agar tidak terjadi kekacauan di Kota Tianwu—makanya Hakim Zhao Jian ditumbalkan.
“Apa Nona muda Xue yakin menemuinya malam ini? Kenapa kita bertemu dengannya besok saja, karena situasi Kota Canglan saat ini sangat kacau. Tidak ada Prajurit Kerajaan yang berpatroli dan pihak Pengadilan juga baru saja diserang oleh Assassins!” kata ahli beladiri Klan Huang—yang merupakan pengawal pribadi Huang Xue.
Dia menyuruh tiga pengawalnya ini menyelidiki di mana Hakim Zhao Jian menginap. Namun, ia langsung terkejut saat mendengar kalau gedung Pengadilan cabang Kota Canglan telah diserbu oleh Assassins.
“Kenapa Assassins itu menyerbu Pengadilan?” selidik Huang Xue penasaran.
“Mereka ingin membunuh Hakim Zhao Jian, tetapi mereka yang malah dibunuh olehnya dan yang lebih mengejutkan adalah Hakim Zhao Jian ternyata Beasts Master!” sahut Pengawal Huang Xue tersebut.
“Beasts... Beasts Master!”
Huang Xue terkejut dan sangat senang mendengarnya, ternyata Hakim Zhao Jian itu sangat kuat—kalau begini Zhao Qihan dan Zhao Meng pasti akan dihukum oleh Hakim Zhao Jian.
“Eh, tunggu!” Huang Xue menyadari sesuatu yang salah. “Ternyata Hakim Zhao Qihan dan Komandan Zhao Meng juga berasal dari Klan Zhao, biasanya sesama anggota Klan tidak akan saling menyinggung dan pada akhirnya Klan Huang kami saja yang akan menjadi tumbalnya!” gumamnya, sehingga tubuhnya menjadi lemas dan sulit melangkahkan kaki.
Ketiga Pengawal pribadi Huang Xue keheranan melihat nona muda mereka berhenti melangkah. “Ada apa nona muda Xue? Sebentar lagi kita akan sampai di Penginapan Hakim Zhao Jian menginap,” kata salah satu dari mereka.
“Ah, oh... ya. Aku hanya menghirup nafas panjang saja untuk meningkatkan keberanianku agar tidak gugup nanti saat bertemu dengan Hakim Zhao Jian!” Huang Xue berkilah.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah Penginapan kecil—sehingga Huang Xue mengerutkan keningnya, kenapa Hakim dari ibukota mau menginap di Penginapan yang sederhana padahal ada sebuah Penginapan mewah yang dikelola oleh Klan Huang-nya dan merupakan tempat istirahat favorit para pelancong serta petinggi Kerajaan yang berkunjung ke Kota Canglan.
“Maaf... Penginapan ini telah dipesan oleh pihak Pengadilan dari Ibukota, sehingga kami tidak menerima tamu hingga mereka kembali ke ibukota lagi!”
Huang Xue dan Pengawalnya dicegat petugas keamanan Penginapan.
Huang Xue melepas penutup wajahnya dan topi caping yang ia kenakan—kemudian ia menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat. “Aku Huang Xue, putri dari Huang Taiji ingin bertemu dengan Hakim Zhao Jian dan ini sangat penting sekali. Tolong biarkan kami lewat!”
Petugas keamanan tersebut terkejut mendengarnya dan mereka buru-buru menangkupkan tinju juga untuk menunjukkan rasa hormat.
Huang Xue mengerutkan keningnya dan berkata, “Aku mengerti, kami akan menunggu di sini hingga Hakim Zhao Jian keluar dari dalam penginapan!”
“Eh?” Petugas keamanan Penginapan dan Ketiga Pengawal pribadinya terkejut mendengarnya.
Para Petugas keamanan Penginapan merasa sangat bersalah karena membiarkan nona muda Klan Huang yang merupakan penguasa Kota Canglan akan berdiri di depan mereka melewati dinginnya malam bersama. Namun, mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena yang memberi mereka perintah jabatannya lebih tinggi dari Huang Xue—bahkan Walikota saja harus tunduk pada Hakim Zhao Jian.
...***...
Zhao Jian tidak tidur di dalam kamarnya, ia bermeditasi mendalami tehnik beladiri Divine Martial Arts di Dunia Ilusi yang dibentuknya di dalam pikirannya.
Dia membuat Kloning dirinya sendiri dan melawannya menggunakan tehnik beladiri Divine Martial Arts—sedangkan Kloning-nya menggunakan tehnik beladiri Jurus Pedang Dewa Mata Angin dan Langkah Angin milik Klan Zhao yang ia pelajari lebih dulu saat di Akademi Kerajaan.
Hasil latihannya tidak terlalu mengecewakan karena ia selalu kalah, tetapi semakin lama ia bertarung semakin lama yang dibutuhkan Kloning-nya untuk mengalahkan dirinya dan itu adalah kemajuan besar—karena ia hanya menggunakan tehnik beladiri Divine Martial Arts yang merupakan tehnik beladiri dari Klan kecil saja.
Zhao Jian membuka matanya karena mendengar suara pertarungan diluar Penginapan dan memeriksanya karena penasaran.
Dia melihat Tiga laki-laki berjubah Klan Huang sedang melawan Sepuluh Prajurit Kerajaan, sedangkan para Petugas keamanan Penginapan memilih menjauh dari tempat pertarungan tersebut.
“Nona muda Huang... cepat lari dari sini, kami akan menahan mereka!” kata salah satu pengawalnya yang telah babak belur—tubuhnya dipenuhi luka sabetan Pedang.
Pria bertubuh kekar yang merupakan pimpinan dari para Prajurit Kerajaan tertawa terkekeh-kekeh mendengarnya. “Jangan buat kami melukai wajah cantikmu Nona muda Xue. Kita ini di pihak yang sama dan ikutlah dengan kami, apakah kamu pikir saudaramu akan senang bila kamu mengadu pada Hakim Zhao Jian?”
Huang Xue menggertak kan giginya dan menghunus Pedangnya.
“Bukankah Huang Bai sudah mengatakan, nasib Klan Huang ada di tangan Bos kami. Bila mereka terusik dengan ulahmu, maka mulai besok tidak akan ada lagi Klan Huang di Kerajaan Zhao ini!” ancam Pria bertubuh kekar itu sembari berjalan ke arah Huang Xue.
Dia menggeser bilah Pedang Huang Xue dengan jari tangannya dan berbisik ke telinga Huang Xue. “Tubuhmu sangat cantik dan baru berkembang ha-ha-ha... bagaimana kalau kau tidur denganku maka Aku akan melupakan kejadian ini, kalau tidak aku akan mengadukanmu pada Komandan Zhao Meng dan Hakim Zhao Qihan. Kemudian tebak apa yang akan terjadi selanjutnya?”
Tubuh Huang Xue bergetar hebat dan Pedang ditangannya langsung terjatuh, sedangkan Pria bertubuh kekar itu menyeringai puas karena berhasil mengancam gadis cantik berusia 17 tahun tersebut.