Beasts Master

Beasts Master
Sidang Di Tempat



Lereng gunung hancur berkeping-keping oleh energi spiritual Angin berbentuk bulat sabit sesaat setelah lereng gunung longsor, kemudian Zhao Jian muncul dari lubang cacing bersama Tiga gadis cantik.


Nan Feng mengerutkan keningnya menatap dua gadis cantik berekor dan satu gadis cantik dengan sayap ungu di punggungnya. “Ketiga Beast-nya ternyata Ranah Saint, sial! Aku tidak akan bisa melarikan diri dari mereka,” gerutunya.


“Percuma kau melarikan diri Paman... lebih baik kau bunuh diri atau bilah Pedangku ini yang akan menyayat lehermu!” cibir Zhao Jian tetapi ia langsung mengerutkan keningnya karena merasakan Aura Ranah Saint mendekat ke arah mereka. “Apakah bala bantuannya telah datang?” tebaknya berspekulasi karena ada kembang api menghiasi langit.


Sudut bibir Nan Feng memancarkan seringai tipis, dia juga merasakan keberadaan Ranah Saint yang mendekat ke arah mereka dan dia yakin itu adalah kakaknya.


“Kenapa kau ingin membunuhku, bocah? Apa salahku? Sebagai Hakim dan murid Sekte besar, kau telah melakukan tindakan semena-mena dan aku akan menuntutmu nanti ke Pengadilan pusat!” cibir Nan Feng berusaha mengulur waktu.


“Cih, untuk apa bukti kalau kau sudah melenyapkan semua gadis-gadis Desa Pakis Hitam. Sekarang kau hanya perlu mati dan menghadapi pengadilan akhirat!” sahut Zhao Jian sembari mengayunkan Pedang Keadilan.


Raut wajah Nan Feng mengkerut masam dan tidak menyangka Zhao Jian tidak bisa dikelabui, padahal biasanya Hakim-hakim yang jujur itu sangat berhati-hati dalam membuat keputusan dan mudah dimanipulasi.


“Gerakan Ketiga Cakar Iblis!” Nan Feng melakukan serangan balik cepat. “Apaaaaaaaaaaa?” Dia terkejut kedua pergelangan tangannya terikat oleh benang sutera putih.


“Ara-ara... jangan terbelalak begitu dong, aku jadi takut. Tuan Jian... cepat lenyapkan Manusia berhati Iblis itu agar tidak menjadi mimpi buruk bagi Violet nanti!” Violet—Beast Kupu-Kupu cantik tersebut berpura-pura ketakutan, padahal dialah yang mengikat kedua pergelangan tangan Nan Feng dengan benang sutera putih itu.


Nan Feng hendak mengutuk gadis Beast cantik itu, tetapi Zhao Jian telah muncul di hadapannya. Detak jantungnya berdebar kencang, dia sangat ketakutan dan berteriak memohon ampunan agar tidak dibunuh.


“Jangan lakukan itu!”


Suara teriakan dari kejauhan menggema dan sosok Pria berusia empat puluhan tahun dengan Jubah Pengadilan muncul dengan ekspresi wajah panik.


Namun, Zhao Jian mengabaikan seruan Hakim dari Kota Nandong tersebut. Bilah Pedang Keadilan memotong kedua tangan Nan Feng.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa... sakittttttttttt!” Nan Feng berteriak histeris.


Hakim itu berusaha menenangkan amarah Zhao Jian agar Nan Feng dapat diselamatkan.


Hakim itu adalah salah satu dari Lima Hakim di Kota Nandong. Setelah mendapatkan laporan dari Klan Nan dan petugas pengadilan tentang identitas Zhao Jian, dia langsung bergegas ke gunung ini karena ia yakin bila terlambat datang maka nyawa Nan Feng tidak akan dapat diselamatkan mengingat kabarnya Zhao Jian bahkan berani mengeksekusi mati komandan militer hanya karena komandan militer itu bersikap arogan pada wanita tua.


“Oh, akhirnya ada Hakim yang menyusulku juga,” sahut Zhao Jian menyeringai jahat sehingga Hakim itu mengerutkan keningnya dan merasa ada yang janggal, tetapi ia tidak tahu apa yang janggal itu.


Tiba-tiba mulut Nan Feng berbusa dan tersungkur ke tanah.


“Ara-ara... energi spiritual racunku ternyata mengalir pada benang sutera putih itu,” canda Violet menyeringai sembari menutup mulutnya dengan tangan. “Tuan Jian... bagaimana ini? Apakah Violet akan dihukum brutal?” Dia menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


Zhao Jian menggelengkan kepala melihat tingkah jahil Violet. “Kamu tidak bersalah Violet, anggap saja ini kecelakaan dalam proses penangkapannya. Bukankah begitu Hakim senior?” tanya Zhao Jian sembari melirik Hakim itu.


Hakim itu menggertak kan giginya karena dia akan kesulitan berkilah pada Klan Nan tentang kematian Nan Feng nantinya. Di lain sisi, ia juga tidak dapat menyalahkan Zhao Jian karena Pemuda tampan itu memiliki jabatan lebih tinggi darinya, belum lagi ada sosok Kaisar dan Sekte Pedang Abadi yang menjadi penyokongnya.


Hakim itu menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat dan berkata, “Yang dikatakan Hakim Jian benar... sudah nasib Nan Feng mati seperti ini, mungkin ini karma atas perbuatan jahat yang ia lakukan selama ini!”


Zhao Jian kagum dengan perubahan sikap Hakim itu. Dia benar-benar Hakim senior yang dapat menilai situasi yang menguntungkan untuknya sehingga ia tidak akan terseret dalam kasus ini.


Zhao Jian penasaran bila ia memaksa Hakim itu meneteskan darahnya pada Kitab Keadilan, maka kejahatan-kejahatan seperti apa yang telah dilakukannya. Namun, Zhao Jian segera menepis niatnya itu, karena hal itu bertentangan dengan seruan Kaisar yang memintanya hanya akan mengeluarkan Kitab Keadilan bila ada sebuah tindakan kriminal yang terjadi saja.


“Aku serahkan mayat Bos Bandit itu pada Hakim senior!” seru Zhao Jian sembari menangkupkan tinju. “Ayo kita ke sisi lain gunung ini!” katanya lagi pada ketiga Beast-nya.


“Tidak, tunggu!” sela Hakim itu, tetapi Zhao Jian telah menghilang dari pandangannya. “Sial! Dia pasti akan melenyapkan bawahan Nan Feng. Semoga saja Petugas Pengadilan yang menemaninya tidak membunuh mereka,” pikirnya lagi sembari membawa mayat Nan Feng dan segera menyusul Zhao Jian.