Beasts Master

Beasts Master
Xuan Ji



Ayam Jago menendang kaki Xuan Yan sehingga Pemuda Ranah Jie Zhu itu terhempas mundur beberapa langkah.


Xuan Yan mengerutkan keningnya karena tidak menyadari kedatangan Ayam Jago dan Beast Serigala miliknya juga tidak bereaksi menghadang Beast Ayam Surgawi tersebut.


“Beast Ranah Jie Zhu... siapa yang berani mencampuri urusan Klan Xuan kami ini?” Xuan Yan menatap tajam ke arah kerumunan murid-murid.


“Sombong sekali kau berani menindas murid yang lemah!” cibir Ayam Jago menendang Xuan Yan tetapi tiba-tiba Beast Serigala milik Xuan Yan melompat ke arah Ayam Jago.


“Dasar Ayam tak berguna!” cibir Gaoer tiba-tiba muncul dan mencakar tubuh Beast Serigala sehingga Beast tersebut terhempas menabrak Pohon Persik.


“Kurang ajar! Anjing siapa ini?” gerutu Xuan Yan sembari mengeluarkan Pedang dari Tas Sihirnya.


“Jangan bertindak kurang ajar kau anak muda!” sela Zhao Jian berjalan mendekati mereka dengan tangan ditaruh di belakang.


Xuan Yan mengerutkan keningnya dan mundur beberapa langkah dengan ekspresi wajah pucat karena yang muncul itu adalah murid senior dengan basis kultivasi Ranah Saint, di mana perbedaan kekuatan mereka ibarat air seteguk dibandingkan dengan air di lautan.


Setelah menegur Xuan Yan, Zhao Jian menatap Xuan Ji dan ia terkejut karena merasakan energi spritual yang aneh samar-samar merembes dari Kalung giok yang ia kenakan.


Menyadari tatapan Zhao Jian tertuju pada kalung gioknya, Xuan Ji langsung memasukkan Kalung itu ke dalam pakaiannya.


“Leluhur Xuan... apakah ia menyadari keberadaanmu?” Xuan Ji berkomunikasi menggunakan telepati pada Kloning Jiwa pendiri Klan Xuan Pertama yang menetap dalam Kalung Giok itu.


Penyebab basis kultivasi Xuan Ji sangat lambat berkembang adalah karena ia harus membagi energi spritual-nya agar Kloning Jiwa Leluhurnya itu tetap bertahan dan Leluhurnya itu berjanji padanya untuk mengajarinya tehnik beladiri yang sangat hebat dan dulunya dengan tehnik beladiri itu membuat Klan Xuan sangat disegani oleh musuh, tidak seperti sekarang menjadi Klan kecil yang terpaksa menjadi kaki tangan Klan besar.


Saat masih kecil Xuan Ji menemukan Kalung Giok itu di tempat harta pusaka Klan Xuan, karena Kalung Giok itu terlihat tidak berharga sehingga tidak ada yang mengambilnya selama ribuan tahun hingga akhirnya jatuh ke tangan Xuan Ji.


“Aku tidak tahu apakah dia menyadari keberadaanku,” sahut Leluhur Xuan menatap Zhao Jian dengan seksama. “Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan sosok yang membuat detak jantungku berdegup kencang, firasatku mengatakan kalau dia adalah sosok kuat yang tidak bisa kau tangani kecuali kau telah menyerap semua ilmu beladiri dariku. Nasehatku adalah jangan mengusiknya!” katanya lagi.


Xuan Ji terkejut mendengar seruan Leluhurnya itu. Dia tidak menyangka ada sosok yang membuat Leluhurnya ragu, padahal mereka sudah bertemu dengan beberapa jenius beladiri dan Leluhurnya selalu mengatakan bila kultivasi-nya sama dengan mereka maka dirinya akan dengan mudah mengalahkan mereka.


Xuan Ji juga kagum dengan sikap tenang yang ditunjukkan oleh Zhao Jian. Tiba-tiba ia merasa familiar dengan wajah Zhao Jian. “Bukankah dia adalah Zhao Jian, murid senior terkuat di Puncak Penjinak Beast yang juga satu-satunya murid yang melakukan Kontrak Jiwa dengan banyak Beast,” pikirnya.


Zhao Jian yang telah mengalihkan pandangannya pada Xuan Yan kembali menoleh ke arah Xuan Ji karena merasa ada yang memperhatikannya.


Leluhur Xuan buru-buru menghilangkan tehnik rahasianya. “Hampir saja ketahuan, dia seperti dinding besi yang tidak bisa diselidiki apa yang ada dibalik tembok besi itu!” keluhnya. “Namun, kau beruntung karena sosok kuat sepertinya tidak melakukan kontrak jiwa dengan Beast kuat yang di Puncak Penjinak Beast ini, aku heran kenapa dia malah melakukan Kontrak Jiwa dengan Beast Ayam Surgawi padahal Beast Kingkong maupun Beast Ular Tujuh warna yang jauh lebih kuat.”


Xuan Ji tersenyum masam menatap Zhao Jian dan segera menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat. “Xuan Ji berterimakasih atas pertolongan senior Jian!” sapanya.


“Oh, kau mengenalku?” sahut Zhao Jian tersenyum. Namun, ia merasa tetap ada yang aneh dengan Xuan Ji. “Apakah kekuatan aneh itu berasal dari dia?” pikirnya berspekulasi.


“Tentu semua murid-murid mengenal senior Jian yang merupakan murid terkuat di Puncak Penjinak Beast!” sahut Xuan Ji lagi.


Zhao Jian semakin bingung, padahal ekspresi wajah Xuan Ji tadi seperti anak ayam yang dikepung kawanan serigala saking takutnya dirundung oleh Xuan Yan. Namun, kini dia terlihat sangat tenang seperti Pendekar yang berpengalaman.


“Kau mem-bully yang lemah Xuan Yan... sesuai dengan aturan Sekte maka kamu akan dikirim ke Penjara bawah tanah selama satu Bulan agar kau bisa merenungkan kesalahanmu dan berbuat baik di masa depan!” seru Zhao Jian memvonis Xuan Yan tanpa menggunakan Kitab Keadilan karena saat ini ia berada di lingkungan Sekte yang berarti ia bukan Hakim Kekaisaran melainkan hanya Petugas Penegak Hukum Sekte saja. Namun, ia tetap melakukan hukuman yang keras pada murid-murid yang melakukan pelanggaran.


“Apaaaaaaa? Aku hanya ribut masalah keluarga saja dengan Xuan Ji!” sela Xuan Yan tidak terima dengan hukuman yang ia terima. “Senior Jian tolong kurangi hukumanku, bagaimana kalau kirim saja aku ke Pertambangan Kristal Batu!” katanya lagi.


Penjara Bawah tanah adalah tempat yang paling dihindari oleh semua murid-murid Sekte Pedang Abadi karena Penatua yang menjaga tempat itu terkenal sangat sadiss, ruang tahanannya sangat sempit dan tidak ada cahaya yang menyinari tempat itu serta tidak ada makanan yang diberikan pada para tahanan, untuk bertahan hidup maka mereka harus menggunakan energi spritual mereka.


“Aku tidak peduli dengan alasanmu! Yang jelas kau melakukan pelanggaran di wilayah Puncak Penjinak Beast. Jadi, terima saja hukumanmu dan jangan ulangi lagi di masa depan, seharusnya kau fokus saja berkultivasi agar menjadi kuat karena bisa saja orang yang kau anggap lemah itu di masa depan tiba-tiba mempecundangimu!” sahut Zhao Jian sembari menatap Xuan Ji yang hanya tersenyum masam. “Seret dia ke Penjara bawah tanah!” serunya lagi pada murid-murid lain yang menonton keributan itu.


Beberapa murid senior bergegas membawa Xuan Yan yang meronta-ronta agar tidak dijebloskan ke Penjara bawah tanah.


“Senior Jian... aku adalah anggota Kelompok Serigala Hitam, tolong pertimbangkan lagi hukuman yang kau putuskan!” teriak Xuan Yan.


Sudut bibir Zhao Jian memancarkan seringai tipis mendengar nama Kelompok Serigala Hitam, karena dia teringat dengan Nan Jing yang mencoba menggoda istrinya dan bahkan mengirim Penegak Hukum bodoh untuk menggerebeknya.


“Katakan saja pada Bosmu untuk melakukan banding pada Penegak Hukum Sekte, aku juga penasaran sekuat apa pengaruh sekumpulan anak-anak bangsawan nakal itu!” sahut Zhao Jian sembari melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.


Xuan Ji terkejut mendengar ucapan Zhao Jian dan tidak menyangka dia sangat berani. Namun, setelah berpikir Zhao Jian adalah menantu Kaisar untuk apa juga dia takut karena sosok terkuat di Kekaisaran Jian ada di belakangnya.