Beasts Master

Beasts Master
Kompetisi Perburuan Hutan Tengah XII



“Itu kan Beast Ular Tujuh Warna milik Xuan Ji, kenapa dia dikejar oleh seseorang?” gumam Zhao Jian yang hendak diam-diam mengintip Beast apa yang sedang diburu oleh sekelompok murid-murid yang auranya dirasakan oleh Gaoer tersebut. “Apakah dia yang mereka buru? Berarti Xuan Ji juga ada di dekat sini!”


Beast Ular Tujuh Warna melihat sosok tampan tak jauh darinya, awalnya ia hendak lari ke arah lain karena mengira Pemuda itu bagian dari musuh tuannya. Namun, ia teringat pernah melihat Zhao Jian di Puncak Penjinak Beast sehingga ia memutuskan berlari ke arah Pemuda itu.


“Senior... tolong aku!” teriak Beast Ular Tujuh Warna.


Jing Han berhenti mengejar Beast Ular Tujuh Warna, wajahnya langsung mengkerut masam karena gagal mendapatkan Kristal Beast Ular Tujuh Warna.


Melawan Zhao Jian yang memiliki Tiga Beast Ranah Saint adalah keputusan bodoh sehingga Jing Han segera menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat. Sudut bibirnya memancarkan senyuman tipis, “Senior Jian... aku terpaksa melakukan hal ini karena dipaksa senior Bai Lie!”


Zhao Jian merasa ada sesuatu yang salah setelah mendengar nama Pemimpin Kelompok Serigala Hitam tersebut.


“Tolong ampuni aku senior Jian dan Nan Jing yang ingin menculik nona Ruxu!” Jing Han sengaja mengatakannya agar Zhao Jian marah dan mengabaikan dirinya.


“Nan Jing?” Zhao Jian terkejut mendengarnya, dia teringat dengan Pemuda yang mencoba merayu istrinya itu.


Tiba-tiba hembusan angin kencang muncul dan sosok Zhao Jian langsung menghilang.


Beast Ular Tujuh Warna terkejut Zhao Jian malah melesat ke arah pertempuran antar sesama murid Sekte Pedang Abadi tersebut. Dia segera mengikutinya karena takut Jing Han menangkapnya.


“Ah, sayang sekali aku tidak mendapatkan Kristal Beast Ular Tujuh Warna itu!” gumam Jing Han menghela napas panjang. “Lebih baik aku meninggalkan Hutan Tengah saja!” pikirnya lagi karena Xuan Ji pasti akan memendam dendam padanya dan bila ia tetap di sini maka pertarungan diantara mereka tidak akan terhindarkan.


...***...


Nan Jing memejamkan matanya, kemudian ia mengayunkan Pedangnya ke arah kiri dan ledakan energi spritual membuatnya terpental beberapa langkah.


“Bagaimana kau bisa menebak tubuhku yang asli?” Xuan Ji terkejut, seteguk darah menyembur dari mulutnya karena kekuatan Nan Jing lebih besar darinya mengingat dirinya baru melangkah ke Ranah Saint kemarin sedangkan Nan Jing melangkah ke Ranah Saint sebulan yang lalu, yang berarti kekuatan Ranah Saint miliknya lebih stabil dan kuat.


“He-he-he... kau pikir Klanmu saja yang memiliki tehnik rahasia!” Sudut bibir Nan Jing memancarkan seringai jahat. “Aku masih memaafkanmu bila tidak ingin campur tangan dalam masalah kami dan aku akan membiarkanmu membawa tunanganmu pergi!”


Dia tidak ingin berlama-lama melawan Nan Jing karena ternyata kekuatan Jiang Ruo melebihi ekspetasi mereka. Jiang Ruo masih dapat bertahan melawan Bai Lie yang dibantu oleh Dua Ranah Saint.


Tehnik pedang yang mengandung energi spritual Es Jiang Ruo sangat berbahaya sekali, Bai Lie bahkan beberapa kali dibuat membeku menjadi Patung Es——untung saja energi spritualnya adalah Api sehingga dapat segera mencairkan energi spritual es yang membekukannya.


Xuan Ji menjadi bimbang, dia menatap tunangannya yang tampak kesulitan menghadapi kepungan anggota Kelompok Mawar.


“Tidakkkkkkkk! Bunuh dia senior Jing!”


Tiba-tiba Xuan Yan muncul di sebelah Nan Jing, dia tidak ingin Xuan Ji dibiarkan pergi karena ia tidak ingin kehilangan harta karun milik Xuan Ji.


Nan Jing mengerutkan keningnya menatap Xuan Yan. Dia teringat kalau mereka itu adalah saudara sepupu dan Xuan Yan dulunya dikenal sebagai jenius beladiri Klan Xuan, tetapi gelar itu sudah direbut oleh Xuan Ji mulai sekarang.


Nan Jing menepuk pundak Xuan Yan dan mengirim suara telepati. “Kita tidak bisa membuang-buang kekuatan untuk melawannya saat ini karena ketua Bai Lie membutuhkan kekuatan kita menaklukkan tuan Putri Jiang Ruo. Kalau kamu memiliki dendam pribadi dengannya maka aku akan membantumu membereskannya di masa depan, bukan saat ini!”


Xuan Yan menggertakkan giginya dan menatap Xuan Ji dengan tatapan penuh niat membunuh. “Sial! Aku gagal lagi,” gumamnya dan tatapannya tertuju pada Kalung Giok di leher Xuan Ji. “Jangan-jangan itulah harta karun yang membuat basis Kultivasinya meningkat, karena sejak kecil dia selalu melindungi Kalung Giok itu walaupun dia dihajar hingga babak belur!”


“Apa yang kau lakukan?” Nan Jing terkejut dan segera menghunus kembali Pedangnya.


“Ini adalah dendam pribadi kami dan aku akan menerima tawaran—” Belum selesai Xuan Ji berbicara, tiba-tiba ratusan energi spritual angin berbentuk bulan sabit melesat ke arah Nan Jing.


Xuan Ji terkejut, karena energi spritual angin berbentuk bulan sabit itu melesat melewati dirinya. Leluhur Klan Xuan bahkan sampai berteriak memperingati dirinya bahwa ada kekuatan kuat yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka.


Xuan Ji menghela napas lega karena serangan itu tidak ditujukan padanya. Kalau serangan itu ditujukan padanya maka dirinya tidak akan sanggup menangkisnya karena menurut Leluhur Klan Xuan, kekuatan serangan itu berasal dari Ranah Saint Puncak.


“Sial! Apakah musuh dari Sekte lain?” Bai Lie mengerutkan keningnya menatap Nan Jing yang dipenuhi luka sabetan, kepalanya bahkan terputus karena tidak sempat menangkis serangan yang tiba-tiba muncul tersebut.


“Jian gegeeeeeeeeeeeeeeeee!” Liu Ruxu beteriak histeris, air mata bahagia membasahi wajahnya karena merasa lega suaminya akhirnya datang menolong mereka.


Jiang Ruo yang telah melihat kekuatan asli Zhao Jian saat di Kerajaan Kura-Kura Awan ikut bernapas lega, sudut bibirnya memancarkan senyuman tipis walaupun ia tidak berteriak histeris seperti Liu Ruxu.


“Bai Lie... kau ingin mati, ya... sehingga berani mengusik kedua istriku!” gertak Zhao Jian melepaskan Niat Membunuh.


Bai Lie tidak menyangka situasinya berubah seperti ini, Zhao Jian dapat membunuh Nan Jing hanya dengan sekali serang saja, sementara mereka sudah mengepung Jiang Ruo tetapi tetap tak dapat mengalahkannya. Bila mereka tetap bertarung maka kelompok Serigala Hitamnya akan dihancurkan.


Bai Lie mengangkat tangannya. “Aku mengaku kalah!”


Anggota kelompok Serigala Hitam lainnya segera mengangkat tangan mereka. Namun, Zhao Jian hanya mendengus dingin tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia mendekati Liu Ruxu untuk memastikan tidak ada luka-luka yang fatal di tubuh istrinya itu.


Zhao Jian bernapas lega, Liu Ruxu hanya menderita luka ringan saja. Dia hendak mendekati Jiang Ruo, tetapi Pimpinan Kelompok Mawar Merah itu langsung melambaikan tangan agar dirinya tak mendekat.


“Kalian keluar lah dari Hutan Tengah dan kalian semua akan dihukum oleh faksi Penegak Hukum Sekte!” seru Jiang Ruo menatap dingin pada Bai Lie. “Cepat menjauh dari pandanganku!” Dia langsung berbalik badan dan memeriksa bawahannya.


Zhao Jian hanya tersenyum masam karena diabaikan oleh Jiang Ruo, seolah-olah mereka tidak saling kenal saja.


Xuan Ji mendekati Zhao Jian, dia menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat. “Terimakasih senior Jian... kalau senior tidak datang maka kami akan—”


Zhao Jian menepuk pundak Xuan Ji, sudut bibirnya memancarkan senyuman hangat. “Mana mungkin kamu akan kalah, kau adalah tokoh utama dari Puncak Penjinak Beast he-he-he!”


Zhao Jian yakin sosok kuat yang bersembunyi di Kalung Giok Xuan Ji akan muncul bila Xuan Ji dalam situasi yang mendesak.


“Justru aku yang berterimakasih karena berkat bantuanmu pertikaian sesama murid sekte Pedang Abadi dapat dihindarkan!” seru Zhao Jian, walaupun sebenarnya ia ingin menggunakan Kitab Keadilan untuk menghukum kelompok Serigala Hitam. Namun, dalam situasi saat ini ia tidak ingin menyela keputusan yang dibuat oleh Jiang Ruo.


Gadis cantik mendekati mereka, Zhao Jian langsung tersenyum hangat karena mengira gadis itu hendak menyapanya. Namun, gadis itu malah mengalihkan tatapannya pada Xuan Ji sembari memain-mainkan jari tangannya.


“Ji gege ....” Dia berkata malu-malu.


“Eh, ternyata dia adalah heroin tokoh utama kampret ini!” Zhao Jian mengutuk Xuan Ji dalam benaknya. Dia kemudian berdehem, “Aku akan memeriksa yang lain. Kalian lanjutkan saja reuniannya!”