
Zhao Jian terkejut melihat Zhao Tian dan Ketiga saudaranya ternyata ada di istana Kekaisaran Jiang juga, bahkan beberapa Penatua juga turut hadir begitu juga dengan para pejabat tinggi Kekaisaran serta para Jenderal.
“Hmm, apakah topik pertemuan ini adalah membahas pernikahanku dengan Putri Mahkota?” gumam Zhao Jian berspekulasi sembari mengikuti Kasim yang memandunya menuju meja makan panjang dan di ujung meja itu Kaisar duduk, dia sedang berbincang-bincang dengan Zhao Tian saat ini.
Zhao Jian duduk di sebelah Zhao Tian dan di seberangnya ada gadis cantik yang langsung memalingkan wajah saat ditatap olehnya.
“Cantik sekali, sepertinya aku pernah melihatnya di Puncak Awan Putih?” gumam Zhao Jian berusaha mengingat-ingatnya dan berpikir gadis yang dilihatnya itu mungkin hanya mirip saja dengan gadis cantik di depannya ini.
Zhao Jian menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat pada Kaisar Jiang Long dan para pejabat tinggi Kekaisaran barulah ia duduk di kursinya.
Kaisar Jiang Long tersenyum lebar dan berkata, “Karena semua sudah di sini mari nikmatilah hidangan sederhana yang dibuat oleh Juru masak Istanaku ini!”
“Ini bukan lagi sederhana, tetapi ini sudah di atas hidangan mewah!” gumam Zhao Jian karena hidangan di atas meja itu adalah daging Beast Rusa dan minumannya adalah teh yang berusia ratusan tahun.
Kaisar Jiang Long bingung melihat Zhao Jian dan Jiang Ruo tidak saling menyapa padahal dalam waktu dekat mereka akan dinikahkan, sehingga Kaisar berpikir apakah Putrinya itu tidak menyukai Zhao Jian yang menurutnya tidak kalah tampan dari Lu Xiaoran.
“Bagaimana menurutmu penampilan Rou‘er, Zhao Jian? Apakah dia cantik atau ....” Kaisar Jiang Long penasaran apakah Zhao Jian tidak menyukai Putrinya atau Putrinya yang tidak menyukai Zhao Jian.
Jiang Ruo hampir tersedak makanan saat mendengar pertanyaan ayahnya itu, sedangkan Zhao Jian hanya tersenyum masam kemudian berkata, “Sebenarnya Aku belum pernah bertemu dengan Putri Mahkota Jiang Ruo!”
Kini semua orang yang ada di meja makan itu hampir tersedak makanan termasuk Zhao Tian, ayah Zhao Jian.
Zhao Tian ingin sekali menempeleng kepala anaknya itu karena Putri Mahkota Jiang Ruo sebenarnya ada di depannya, sementara Zhao Jian mengira wanita cantik di depannya itu adalah istri termuda Kaisar karena hanya dia saja wanita yang ikut dalam jamuan makan tersebut.
kaisar menatap Jiang Ruo dan berkata, “Apakah kamu belum pernah menyapa calon suamimu?”
“Dia terlalu sibuk dengan istrinya saat di Sekte makanya aku enggan menyapanya!” sahut Jiang Ruo tanpa sedikitpun melirik Zhao Jian yang tersenyum masam karena melupakan tentang mencari tahu tentang Jiang Ruo, padahal ia sudah mendengar dari Penatua Duan Siliang kalau Putri Mahkota juga murid Sekte Pedang Abadi.
“Hmm, sejak kapan bocah ini hebat membual?” gumam Zhao Tian tersenyum.
Jiang Ruo hanya mengangguk pelan saja karena ia tahu calon suaminya itu hanya berkilah saja.
“Ha-ha-ha... ternyata begitu, bagaimana kalau kalian latih tanding. Kan, kalian sama-sama Ranah Tianzun, pasti hebat melihat Beast Master bertarung melawan ahli beladiri berbakat tinggi seperti Ruo‘er!” seru Kaisar Jiang Ruo.
“Ya, kami tak sabar ingin melihatnya!” sahut Jenderal Jing Mu atasan Jing Han yang tewas dipenggal oleh Zhao Jian beberapa hari yang lalu.
Sudut bibir Jenderal Jing Mu memancarkan seringai tipis, karena ia merasa Putri Mahkota Jiang Ruo juga tidak menyukai Zhao Jian, sehingga ia merasa Jiang Ruo pasti akan bertarung dengan sengit untuk mempermalukan Hakim termuda itu.
Bukan hanya Jenderal Jing Mu saja yang langsung menyahut dan meminta Jiang Ruo dan Zhao Jian untuk melakukan latih tanding—para Pejabat tinggi Kekaisaran juga ikut menyahut karena mereka juga ingin melihat Hakim termuda itu dipermalukan oleh Jiang Ruo.
“Baiklah, aku sudah putuskan kalau nanti setelah tamu-tamu dari berbagai Klan datang saat itulah latih tanding antara calon menantuku melawan Putriku diadakan! Ini akan menjadi hiburan yang bagus dan kita juga dapat melihat sejauh mana perkembangan seni beladiri Ruo‘er!” kata Kaisar Jiang Long sembari tersenyum cerah.
Jiang Ruo menatap Zhao Jian dan ayahnya, kemudian ia mengangguk pelan, sementara Zhao Jian segera menangkupkan tinju dan berkata, “Aku akan melakukan yang terbaik dan mohon bimbingannya nanti nona Ruo!”
“Hei Jian‘er! Beast Kupu-Kupumu tak bisa ikut dalam latih tanding ini karena ia sudah mencapai Ranah Saint. Bila ia ikut takutnya nanti itu malah melukai nona Ruo!” seru Zhao Tian sengaja memamerkan basis Kultivasi Beast yang dimiliki anaknya, karena ia merasa beberapa Pejabat tinggi Kekaisaran menatap Zhao Jian dengan tatapan sinis.
“Ranah Saint?” Para Pejabat Kekaisaran terkejut mendengarnya, sedangkan Kaisar Jiang Long hanya tersenyum saja—karena ia sudah mengetahui tentang hal itu dari Jiang Mo.
“Pantas saja bocah ini sangat arogan, ternyata Beast-nya sudah mencapai Ranah Saint!” gumam Jenderal Jing Mu. “Sepertinya bocah ini akan semakin merepotkan untuk dihadapi!” pikirnya lagi karena ia yakin Zhao Jian akan mengusik antek-anteknya yang lain—karena Zhao Jian itu masih naif dan menjunjung Keadilan konyol yang ia agung-agungkan.
Patriark Sekte Pedang Abadi yang juga menteri urusan Istana Kekaisaran langsung menyadari kalau banyak pihak-pihak yang tidak suka dengan Zhao Jian, sehingga ia langsung menggelengkan kepala. “Sepertinya aku harus meminta Penatua Xiao Shi untuk mendisiplinkannya agar tidak terlalu mengusik orang-orang gila ini!” gumamnya. Di sisi lain ia juga menantikan pertarungan latih tanding antara Zhao Jian dan Jiang Ruo, karena dua-duanya adalah murid terbaik dan terkuat di Puncak Penjinak Beast dan Puncak Awan Putih.