
Gundukan tanah tersebut hancur berkeping-keping, sehingga Zhao Kai mengerutkan keningnya—padahal ia telah menggunakan kekuatan terhebatnya.
“Apakah perbedaan kekuatan Ranah Spirit dengan Ranah Jie Zhu sangat besar? Sehingga kami seperti anak ayam yang mencoba melarikan diri dari sergapan Elang Putih saja,” keluh Zhao Kai tak tahu cara apa yang harus digunakan untuk menghentikan Pedang Darah.
Zhao Yunfei mengeluarkan Pedang dari Kantung Penyimpanannya dan menebas Pedang darah, tetapi Pedangnya malah terpotong dengan mudah oleh Pedang Darah.
Zhao Kai segera memetik senar Guqin-nya yang langsung membekukan Pedang Darah, tetapi es yang menyelimuti Pedang Darah langsung mencair hanya dalam satu tarikan nafas saja.
Pedang Darah kemudian menancap di dada Zhao Yunfei yang langsung berteriak kesakitan.
Zhao Kai hendak mendekat, tetapi Zhao Yunfei mengangkat tangannya. “Cepat kabur saudara Kai, Aku akan menahan Pedang ini!” Zhao Yunfei berkata dengan nafas tersengal-sengal, dia menggenggam erat Pedang darah yang menancap di dadanya agar tidak mengejar Zhao Kai.
Zhao Kai menggertakkan giginya, ragu-ragu untuk meninggalkan rekan kerjanya tersebut. Namun, ia juga berpikir bila mereka mati di sini—maka tidak akan ada yang memberitahukan kejahatan besar yang dilakukan oleh Ye Jing, dan bisa saja kejahatannya mungkin akan menghancurkan Kerajaan Zhao.
“Pergilah!” teriak Zhao Yunfei yang merasa tubuhnya makin melemah dan tak yakin mampu menahan Pedang Darah yang terus mendorong tubuhnya ke belakang.
“Maafkan aku saudara Yunfei ....” Zhao Kai segera melarikan diri, tetapi ekspresi wajahnya langsung menjadi masam—karena Ye Jing telah muncul di hadapannya dengan seringai jahat. “Sial! Apakah kami akan mati di sini dengan sia-sia?” gerutunya sembari memetik senar Guqin.
Energi spritual Es membekukan area sekitarnya, termasuk Zhao Yunfei—sehingga rekan kerjanya itu langsung mati membeku.
Seringai di sudut bibir Ye Jing langsung menghilang, karena ia tak bisa lagi menyerap esensi kehidupan Zhao Yunfei. Dia sangat marah dan menatap tajam Zhao Kai.
Ye Jing menjentikkan jari tangannya, sehingga Pedang Darah menghancurkan tubuh Zhao Yunfei yang membeku. Kemudian Pedang Darah memotong tangan kanan Zhao Kai yang memetik senar Guqin.
“Aaaaaaaaaaaaaaaa! Sakit, sialan kau Iblis laknat!” umpat Zhao Kai menatap tajam ke arah Ye Jing.
“Ha-ha-ha... kau masih bisa mengumpat padahal tidak bisa melakukan apa-apa lagi,” ejek Ye Jing tertawa. “Aku suka dengan keberanianmu, kalau kita berada di Dunia Tianlong maka aku akan menjadikanmu sebagai budakku. Namun, sayang sekali aku membutuhkan esensi kehidupanmu untuk meningkatkan basis kultivasiku!”
Ye Jing mengerutkan keningnya dan segera terbang ke arah Zhao Kai yang tersenyum lebar karena merasa menang melawan Ye Jing walaupun harus mengorbankan nyawanya.
Tangan Iblis Ye Jing mencengkram bongkahan es yang menyelimuti tubuh Zhao Kai dan meremasnya dengan keras—sehingga tubuh Zhao Kai hancur berkeping-keping.
“Sial! Kedua bajingann ini berhasil mengelabuiku, sepertinya mereka rela mati demi gadis kecil tadi. Namun, di mana dia?” Ye Jing mengedarkan energi spritual-nya dan tidak menemukan keberadaan gadis kecil tersebut. “Cih, lupakan saja gadis kecil itu, lebih baik aku menuju Desa selanjutnya dan Yan Yan sayang... tunggulah kedatangan mantan tunanganmu yang akan mengambil esensi kehidupanmu ha-ha-ha!” Ye Jing segera terbang menuju wilayah Klan Yan.
...***...
Hakim Zhao Qihan meremas gelas ditangannya hingga hancur berkeping-keping setelah terkejut mendengar laporan bawahannya kalau gedung Pengadilan telah hancur akibat pertarungan antara Zhao Jian melawan Prajurit suruhan Zhao Meng. Namun, hasilnya malah mengecewakan karena seluruh Prajurit tersebut dibunuh oleh Zhao Jian dan di pihak Zhao Jian tidak ada korban jiwa.
“Sial! Hakim Jian itu ternyata memiliki Beasts yang mampu membunuh Dua Belas Ranah Spirit dengan mudah, kalau begini kita tidak akan mampu membunuhnya!” gerutu Zhao Qihan.
Para bawahannya hanya diam saja dan tidak berani menyuarakan pendapat karena takut Zhao Qihan marah.
Zhao Qihan segera berdiri dan berkata, “Ikuti aku... kita akan menuju kediaman Komandan Zhao Meng!”
Dia harus berkonsultasi dengan Zhao Meng, tindakan apa yang harus mereka lakukan dalam menghadapi Zhao Jian.
Sementara itu desas-desus liar menyebar di Penduduk Kota Canglan tentang penyerbuan Assassins terhadap Hakim yang datang dari ibukota.
“Kakak Bai, kita harus melaporkan kematian ayah pada Hakim dari ibukota itu agar Hakim Zhao Qihan dan Komandan Zhao Meng dihukum berat. Aku mendengar dia itu sangat kuat, bahkan mampu mengalahkan Ranah Spirit yang mengeroyoknya tanpa terluka sedikitpun!” Huang Xue—Adik Perempuan Huang Bai yang menjadi Walikota yang baru menggantikan ayahnya Huang Taiji yang telah mati dibunuh oleh Zhao Qihan dan Zhao Meng.
“Cerita itu telah dibesar-besarkan Xue‘er... kita harus mengikuti perintah mereka agar keluarga kita bisa hidup damai di Kota Canglan ini. Jangan coba-coba mengusik mereka—kan, kamu tahu sendiri kalau ada Sekte Underworld dibelakang mereka. Apa kamu ingin Klan Huang dimusnahkan seperti yang terjadi pada Klan kecil lainnya yang tidak patuh pada mereka!” Huang Bai menasehati saudarinya itu.
Huang Xue mengerutkan keningnya dan menepis tangan Huang Bai yang mengelus kepalanya. Dia menghentakkan kakinya berjalan menuju kamarnya, sedangkan Huang Bai hanya tersenyum masam dan menghela nafas dalam-dalam karena tidak dapat melakukan apa-apa untuk membalaskan dendam atas kematian ayahnya, apalagi ayahnya juga terlibat dalam penggelapan dana upeti untuk Kerajaan Zhao dan bila hal tersebut diketahui oleh pihak Kerajaan maka seluruh harta keluarganya akan diambil alih pihak Kerajaan.