
Liu Ruxu kebingungan, kenapa ia belum mati padahal beberapa tarikan nafas yang lalu mulut Beasts Piton Hitam telah terbuka lebar—akan melahap tubuhnya.
“Apakah ada yang datang menyelamatkanku atau Beasts itu tidak tertarik memakanku?” gumam Liu Ruxu membuka matanya dan terkejut melihat benang putih yang diselimuti energi spritual melilit tubuh Beasts Piton Hitam.
Namun, tubuhnya telah melemah dan tak sempat melihat siapakah yang menjadi sang penyelamatnya itu. Matanya kembali terpejam dan tak mengetahui apakah Beasts Piton Hitam telah dikalahkan atau tidak.
...***...
Zhao Fu dan yang lainnya telah tiba di lereng gunung Kun Lun dengan ekspresi wajah ketakutan.
Para Prajurit Kerajaan Zhao yang berjaga di sana terkejut, sikap sombong dan angkuh dari para tuan muda tersebut kini telah memudar.
“Sial! Ternyata Beasts tadi sangat menakutkan sekali!” gerutu Zhao Fu menghela nafas dalam-dalam dan memperhatikan wajah rekan-rekannya. “Kita kehilangan lima orang! Eh, tunggu... di mana nona muda Ruxu?” Dia langsung panik, karena yang hilang adalah Putri Patriark Klan Liu—salah satu empat Klan besar di Kerajaan Zhao.
Ekspresi wajah Zhao Fu menjadi masam, kalau yang hilang anggota Klan kecil—maka ia tak terlalu khawatir. Namun, bila Liu Ruxu yang hilang, maka Klan Liu akan marah besar—apalagi dirinya lah yang telah mengundang gadis tercantik di Kota Tianwu itu ikut berburu Beasts ke Gunung Kun Lun.
Lin Tao duduk bersandar di Pohon besar dan berkata, “Dia dihempaskan oleh ekor Beasts Piton Hitam itu dan nasibnya kini tergantung pada keberuntungannya saja, karena aku tak melihat siapapun di belakangku!”
Lin Tao adalah orang yang terakhir kabur saat Sesepuh Klan Lin-nya dan Zhao Chung bertarung melawan Beasts Piton Hitam.
Zhao Chung tiba-tiba muncul sembari menggendong Sesepuh Klan Lin yang terluka parah.
Lin Tao segera mengeluarkan Pil Penyembuhan dari Kantung Penyimpanannya dan segera memasukkan Pil tersebut ke mulut Sesepuh Klan Lin.
Dia tak ingin Sesepuh tersebut mati, karena keberadaannya sangat dibutuhkan Klan Lin untuk menjaga keseimbangan kekuatan Klan Lin, sebab kehilangan satu Ranah Spirit saja bisa menurunkan status Klan Lin-nya dari empat Klan besar dan digantikan Klan lain yang memiliki lebih banyak ahli beladiri kuat.
“Paman Chung! Liu Ruxu belum kembali!” seru Zhao Fu pada Zhao Chung yang langsung terkejut mendengarnya.
“Tuan muda Fu, kembalilah ke Kota Tianwu,” sahut Zhao Chung. “Aku akan membawa beberapa Prajurit ke puncak Gunung Kun Lun, mencari keberadaan nona muda Liu Ruxu!”
Namun, ia tak yakin Liu Ruxu berhasil selamat dari Beasts Piton Hitam tersebut—karena dirinya yang di Ranah Spirit saja kesulitan menghadapinya, sedangkan Liu Ruxu hanya di Ranah Penempaan Tubuh Tahap Tian Tingkat Tiga saja.
Zhao Fu mengepal tangannya dan hanya bisa menuruti seruan Zhao Chung, membawa rekan-rekannya kembali ke Kota Tianwu, sedangkan Zhao Chung membawa Prajurit penjaga lereng gunung Kun Lun serta Sipir Penjara bawah tanah dengan basis Kultivasi Ranah Spirit bersamanya ke puncak gunung Kun Lun—untuk mencari keberadaan Liu Ruxu serta mengalahkan Beasts Piton Hitam tersebut.
...***...
Zhao Jian yang awalnya sedang bermeditasi memulihkan luka yang dideritanya saat melawan Beruang, tiba-tiba dikejutkan oleh getaran seperti gempa Bumi serta suara ledakan. Dia menduga itu pasti rombongan Zhao Fu yang sedang melawan Beasts yang juga ingin ia buru tersebut.
Zhao Jian kemudian mendekati tempat pertarungan itu dan terkejut melihat gadis cantik yang membuatnya dicambuk hingga pingsan beberapa hari—karena mengintipnya sedang mandi tiba-tiba akan dilahap Beasts Piton Hitam yang sangat besar dan panjang.
Dia segera menggunakan energi spritual Beasts Ulat Ungunya yang kini telah menembus Ranah Spirit setelah memakan banyak tumbuhan di Gunung Kun Lun—sehingga Zhao Jian bisa menggunakan energi spritual yang tak terbatas.
Dia memanfaatkan keberadaan Pohon-Pohon besar yang ada disekitarnya untuk melilit Beasts Piton Hitam—sehingga ketika Beasts tersebut menarik Benang Sutera Beasts Ulat Ungu, maka Pepohonan itu yang akan tertarik bukan dirinya.
Beasts Piton Hitam mendesis marah dan menatap tajam dengan Niat Membunuh yang sangat besar ke arah persembunyian Zhao Jian.
“Ah, ternyata indra penciumanmu sangat tajam he-he-he!” Zhao Jian tertawa masam dan langsung melompat ke depan Beasts Piton Hitam.
Beasts Piton Hitam menggerakkan tubuhnya untuk memutuskan Benang Sutera Beasts Ulat Ungu, tapi yang terjadi malah Pepohonan yang ada disekitarnya tercabut dari akar-akarnya dan menabrak tubuh Beasts Piton Hitam.
“Shshshshshs!”
Beasts Piton Hitam sangat marah dan melepaskan energi spritual Angin berbentuk Pisau-Pisau tipis tak kasat mata, memotong Pepohonan di sekitarnya.
Namun, ia bingung melihat Zhao Jian malah menyeringai jahat menatapnya, kemudian tiba-tiba muncul Beasts Rubah dengan simbol matahari di keningnya di depan Zhao Jian.
“Hancurkan Ular jelek itu, Daji! Kalian akan makan daging enak lagi!” seru Zhao Jian.
Beasts Piton Hitam langsung panik, ia memiliki firasat buruk kalau Beasts Rubah kecil di depannya sangat berbahaya. Dia ingin menggerakkan ekornya untuk menghempaskan Zhao Jian dan Rubah kecil itu, tetapi Benang Sutera beasts Ulat Ungu malah makin kencang melilitnya.
Dia merasa kesakitan, karena bekas luka dari pertarungan melawan Zhao Chung dan Sesepuh Klan Lin makin melebar.
Dari mulut Daji menyembur Api yang sangat besar, sehingga Beasts Piton Hitam makin panik dan memaksakan diri menggunakan energi Spritual-nya walaupun itu mengakibatkan lilitan Benang Sutera beasts Ulat Ungu makin mengencang dan menyakitinya. Namun, yang terpenting adalah bisa menghindari kobaran api dari Beasts Rubah.