The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 97 Charlotte



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


.


.


Setelah mengambil hp dari penjahat buru-buru Ronald kembali ke tempat biasa di mana tempat kejadian itu terjadi namun anehnya saat ia kembali ia sudah tidak menemukan Alexa ataupun pemilik HP yang di curi. Matanya menatap ke seluruh penjuru berlari ke sana kemari bahkan ke tempat pohon rindang yang ia duduki terakhir kali namun naas ia tidak menemukan siapapun di sana.


Perasaannya menjadi kacau saat tidak melihat gadisnya meraup wajah kasar dan sesekali menarik rambutnya yang sedikit panjang. "Alexa! di mana kamu sayang?" teriak Ronald namun tak ada jawaban.


Pria itu meninggalkan tepi danau ia berjalan menyusuri danau bahkan sampai ke tempat parkiran namun tak kunjung di temukan. "Oh ****! kenapa aku tidak menelponnya saja..." Buru-buru Ronald meraih ponsel di saku celana belakang mengotak-atik layar ponselnya mencari nomor sang kekasih.


"Semoga kau baik-baik saja sayang, jangan membuat aku khawatir" bisik Ronald dalam hati. Saat nomor yang dicari sudah ketemu ia langsung menekan tombol biru namun pria itu harus menelan rasa kekecewaan karena bukan suara kekasihnya yang menjawab melainkan suara operator.


"Akkkkkkhhh!! di mana kamu sayang!" teriak Ronald merasa kesal, ia masih belum menyadari jika Alexa kini dalam keadaan bahaya. Pria itu terus berjalan hingga sampai dirinya di tempat parkiran motor namun motor miliknya masih ada di sana.


Ronald dengan keadaan kacau segera menaiki motornya namun sebelum men-star motornya ia terdiam sembari memikirkan sesuatu yang membuat hatinya merasa janggal, dua keningnya saling bertautan dengan dahi mengkerut. Pria dengan rambut pirang itu dengan cepat merogoh ponsel di saku depan celana sekolah ia baru menyadari jika ini semua hanya jebakan.


"****! Alexa dalam bahaya sekarang!" umpat Ronald ketika otak pintarnya mulai mencerna apa yang sudah terjadi buru-buru pria itu menaikkan gas motornya lalu meninggalkan parkiran umum Danau Washington. Bibirnya komat-kamit membaca untaian doa agar Alexa baik-baik saja jantungnya ikut bergemuruh hebat kala pikiran buruk menghantuinya.


"Akan ku habisi mereka yang mau menyakiti Alexa... brengsek! siapa yang sudah berani bermain-main denganku." Batin Ronald mencengkeram kuat setir motornya.


Di sisi lain sebuah mobil berwarna hitam memasuki bangunan tua bertingkat bahkan dindingnya pun sudah di tumbuhi rumput banyak lumut hinggap di setiap dinding dan pondasi bagian bawahnya. Toyota Land Cruiser FJ40 berhenti di depan bangunan tua yang tidak terawat kedua pria dengan pakaian hitam itu turun dari dalam mobil lalu kemudian membuka pintu mobil di jok belakang.


Terlihat seorang wanita masih menggunakan pakaian seragam sekolah tengah di bopong oleh kedua pria yang baru saja turun dari mobil Toyota tersebut.


Sepertinya wanita tersebut tengah pingsan terlihat dari dirinya tidak bergerak sama sekali dan matanya tertutup rapat. Senyum tipis tersirat di bibir kedua pria entah apa arti dari senyum devil itu.


"Boss akan sangat senang karena kerja kita berhasil... aku sudah tidak sabar mendapatkan uang miliaran dolar." Ucap rekan kerjanya sedangkan pria satunya terkekeh jenaka.


Rupanya demi uang mereka akan menghalalkan segala cara sekalipun itu akan menyangkut nyawa orang lain, tidak berpikir itu baik atau buruk yang penting adalah kesenangan. Kesenangan semu membuat orang lain mendapat imbasnya.


Kedua pria itu membawa masuk gadis berseragam sekolah ke dalam bangunan tua menaiki anak tangga satu persatu hingga sampai mereka di lantai tiga masuk ke dalam salah satu ruangan di sana sudah ada seseorang yang telah menunggu mereka. Wanita cantik dengan rambut panjang sebahu tengah duduk di sebuah kursi kayu dengan kaki menyilang sedangkan tangan kanannya bertengger sebuah benda panjang berukuran kecil dengan asap yang sudah berterbangan ke udara. Apalagi jika bukan benda yang mengandung nikotin, rokok dengan merek Marlboro putih itu menjadi pilihan sang wanita berambut pirang.


"Bagus! luar biasa kinerja kalian memang tidak pernah di ragukan." Ucapnya setelah mengepulkan asap rokok dari mulutnya kedua pria yang membopong remaja sekolah itu tersenyum bangga.


"Itu karena bayarannya membuat kami semangat mengerjakannya" jawab salah satu pria.


"Lalu bagaimana dengan gadis ini Boss apa yang akan kita lakukan?" senyum tipis kembali tersirat di bibir tipis wanita yang tengah duduk santai ia lalu menunjuk salah satu benda dengan gerakan matanya dua pria itu mengikuti gerakan mata sang Boss. Mengangguk mengerti dan membawa remaja sekolah itu ke tempat yang di tunjukan oleh bossnya. Dua rantai besi bertengger di dua sudut kayu di atas plafon ruangan tersebut kemudian mengikat kedua tangan remaja menggunakan rantai besi. Setelah mengikat tangan sandera dengan lantai wanita yang adalah Boss dari penjahat beranjak dari kursinya berjalan cool ke arah sandera.


"Hahahhaha... akhirnya! akhirnya aku menemukanmu. Dengan begitu aku sesuka hati melakukan apapun padamu, hah tidak sabar rasanya kakakku yang tampan itu akan menjadi milikku satu-satunya wanita yang akan menjadi istrinya adalah aku hanya aku." Ucapnya dengan tawa menggelegar hingga membuat gadis yang terikat oleh rantai itu terbangun.


Mengerjap matanya berkali-kali hingga pandangan yang tadinya samar-samar kini terlihat jelas, indra pendengarnya menangkap suara yang tengah tertawa lepas seakan baru mendapatkan hadiah besar.


"A-aku di mana ini? kenapa tanganku terikat?" batinnya merasa aneh. Gadis itu kemudian mendongakkan kepalanya hingga tiba-tiba matanya membulat sempurna kala melihat wanita yang di kenalnya baru-baru ini.


"Kamu! lepaskan aku! kenapa kau menangkapku hey apa kau gila!" teriak gadis yang terikat. Boss penjahat itu semakin tertawa lepas kala mendengar teriakkan dari sanderanya.


"Sudah bangun kucing manis, kita bertemu lagi apa kau senang hmmm...?" sapanya dengan tangan menyentuh dagu mangsanya. Gadis remaja itu melotot tajam kepada wanita yang berdiri di depannya.


"Apa yang kau rencanakan cepat lepaskan aku!" bentaknya namun tak membuat wanita berambut pirang itu takut ia malah mencengkram kuat dagu sanderanya hingga membuat sang empu meringis sakit.


"Apa maksudmu jangan macam-macam yah! lepaskan aku Charlotte!"


PLAK


Gadis berambut pirang itu melayangkan tamparan keras ke pipi gadis berseragam sekolah membuat sang empu meringis nyeri.


"Sudah ku bilang jangan meneriakiku apa kau tuli hah! benar-benar gadis munafik!"


PLAK


PLAK


PLAK


Tiga tamparan kembali terulang, mendarat ke pipi gadis yang terikat oleh rantai.


"Sialan dia benar-benar membuatku emosi, sakit sekali" batinnya mencengkram kuat jemari tangannya belum lagi rantai besi bertengger di pergelangan tangannya membuat tangannya kesakitan.


"Itu adalah balasan karena sudah menyukai kak Ronald... dengar baik-baik kak Ronald hanya milikku dia adalah pria yang aku cintai. Hahahaha tidak sabar aku melenyapkanmu" ucap Charlotte yang ternyata adalah adik Ronald anak tiri dari Tuan Kalingga.


"Gila kamu Charlotte! kamu tidak bisa bersama Ronald kalian berdua adalah saudara bagaimana bisa kamu..." belum selesai bicara tamparan kuat kembali mengenai pipi Alexa.


PLAK


PLAK


PLAK


"Beraninya kau melarangku tahu apa kamu tentang hidupku! kau membuatku naik pitam saja" Charlotte berjalan mundur ke belakang lalu kemudian tangan kanannya mengambil sebuah benda di balik celananya sebuah benda persegi berwarna hitam, tersenyum tipis ke arah Alexa.


"Mau apa kau Charlotte? kau sudah gila yah buang pistol itu!!"


"Benar aku memang sudah gila... benar aku sudah gila karena aku mencintai kak Ronald tapi dia tidak mencintaiku hehehhe karena aku tidak bisa mendapatkan kak Ronald maka kamu pun juga sama... selamat tinggal calon kaka ipar hahahaha"


BRAAAAK


DOR


DOR


"Nooooooo!!!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung