The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 174 Si Joni Tidur Lagi



Happy Reading Guys, jangan lupa like dan hadiahnya yah heheh 😁😇😇😇


.


.


.


.


.


.


Kini rombongan tuan Farhan membentangkan karpet karakter di tengah ruangan, sebagai tempat istirahat di malam hari sebab kamar di Apartemen tersebut hanya memiliki tiga kamar. Dan kini mereka sedang duduk di atas karpet karakter di temani dengan secangkir kopi sevel dan cemilan ringan.


"Bagaimana bisa Hamas pulang ke Indonesia tidak memberitahu Daddy, bahkan orang rumah lainnya?" ketus tuan Farhan dengan ekspresi masam. Apalagi saat mendengar kabar Alexa yang kabur membuat darah tuan Farhan mendidih.


"Terus kenapa kamu tidak menjaga adik kamu malah membiarkan dia pergi begitu saja! Susah payah menemukannya malah membiarkan dia pergi lagi" Azhar dan dua adik laki-lakinya hanya menunduk merasa bersalah karena tidak bisa menjaga amanah dari orang tuanya untuk menjaga adiknya.


"Maaf Daddy" mereka bertiga berucap lirih, tuan Farhan hanya mendesah kasar, mau marah pun tidak ada gunanya nyatanya Alexa tidak mungkin kembali dengan memarahi anaknya.


"Bagaimana jika besok kita ke rumah yang merawat kak Alexa saja?" Fadil memberikan saran kepada tuan Farhan dan pria itu melirik ke arah Alex dan Amanda.


"Bagaimana menurut kalian?"


"Baiklah, lebih cepat lebih baik aku juga sangat merindukan putriku, entah apakah dia di rawat dengan baik atau tidak semoga dia tetap sehat di sana" kata Alex dengan wajah sedih. Niat hati ingin bertemu putrinya tetapi hanya harapan yang kembali pupus.


Azhar sebenarnya ingin memberitahu tentang Alexa yang hilang ingatan karena sesuatu buruk yang telah menimpanya tetapi ia menyembunyikan tidak ingin paman dan tantenya lebih sedih lagi. Ia berbohong bahwa Alexa pergi karena merindukan orang tua angkatnya dan ingin bertemu dengan mereka.


"Maafkan aku yang belum bisa jujur" batin Azhar. Mereka kemudian kembali ke tempat masing-masing merebahkan tubuh yang lelah dan langsung tertidur pulas di atas kasur empuk seakan rasa pegal di punggung hilang dan hanya kenikmatan yang di rasa.


Sementara di benua lain tepatnya di negara yang penuh akan rempah-rempah, Indonesia namanya. Di bangunan besar nan mewah seorang pria sedang duduk di atas kursi kebesarannya, sikunya berpijak di atas sandaran tangan dengan kepala bersandar di atas kepalan tangannya.


Ia menatap foto seorang wanita hamil lalu beralih menatap foto seorang gadis dengan seragam sekolah.


"Kenapa kalian satu persatu meninggalkanku, apakah sudah tidak ada lagi rasa sayang di hati kalian untukku? Ataukah hati nurani kalian juga tidak ada sampai begitu kejam meninggalkanku di sini" lirihnya dengan mata berkaca-kaca. Pria itu sesekali menarik napas panjang lalu membuangnya pelan. Kemudian dia beranjak dan berjalan menuju balkon kamar, dan duduk di kursi yang sudah di siapkan untuk dirinya kala hati terasa hampa.


"Bulannya sangat indah, andai ada kalian di sini hati ini tidak akan begitu tersiksa" memandang langit, bulan purnama terlihat elok di mata kala cahayanya yang menyinari Bumi. Walau bukan dari cahaya sendiri tetapi begitu menyejukkan hati. Lautan bintang di langit, andai bisa membawanya ke Bumi, akankah Bumi ini akan silau karena sinarnya?


Lama ia berdiam diri di balkon ia pun berjalan masuk ke dalam kamar, karena malam semakin larut juga udara di luar sangat dingin, ia tidak mau sakit karena pasti akan merepotkan apalagi Mommynya sedang bepergian jauh.


Sedang di kediaman Tio, kedua anaknya sudah tertidur pulas di kamar sedang pasangan suami istri itu masih belum memejamkan mata, keduanya saling berpelukan dan mengobrol santai. Setelah memiliki anak jarang mereka memiliki waktu bersama, Tio selalu sibuk dengan urusan kantor sedang Aulia sibuk mengurus rumah juga kedua putranya yang banyak tingkah.


"Sayang, bisakah kamu menceritakan kebersamaan kamu bersama Aunty Klara?" Tio yang sedari tadi mengelus rambut sang istri seketika berhenti ia lalu menatap wajah istrinya.


"Kamu mau cari pertengkaran lagi?" mendengar pernyataan Tio seperti itu juga nada dingin langsung menatap wajah Tio dengan ekspresi datar.


"Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku sampai jujur pun tidak mau? Apa jangan-jangan selama ini kamu dan.... " Aulia menutup mulutnya ia menggeleng dengan tatapan yang sulit di mengerti.


PLETAK


"Awww sakit sayang!" pekik Aulia berdesis nyilu.


"Jangan berpikiran yang macam-macam, dasar wanita selalu su'udzon dengan pasangan sendiri. Aku tidak cerita karena itu sudah menjadi masa lalu, kita sudah bersama jadi tidak usah mengungkit masalah yang tidak penting, lagian aku dan Klara tidak ada hubungan apa-apa, dia juga sudah menikah" jelas Tio mengelus dahi istrinya yang tadi ia sentil.


"Maaf sayang, apakah masih sakit?" Tio yang melihat istrinya kesakitan karena ulahnya segera ia rengkuh dan meniup dahi Aulia, wanita itu tersenyum tipis sebenarnya tidak terlalu sakit tetapi ia ingin menjahili suaminya ia juga ingin tahu sampai di mana suaminya itu akan memerhatikan dirinya.


"Sakit sekali, sepertinya memar deh. Apakah ini termasuk KDRT?"


"Apakah aku terlalu bertenaga melakukannya? Tapi kurasa tidak, maaf sayang aku tidak sengaja, sungguh? Pasti sakit sekali yah ini kamu balas saja, maaf sayang maaf" Tio menyodorkan dahinya kepada Aulia untuk membalas perbuatannya yang sudah menyakiti Aulia. Melihat respon sang suami yang ketakutan membuat Aulia merasa bersalah, hatinya tersentuh melihat respon Tio yang berlebihan menurutnya.


"Aku hanya bercanda, sentilan kamu tidak sakit kok, maaf yah" Tio mengecup bekas sentilan di dahi sang istri, ia kembali merengkuh tubuh penuh lemak itu.


"Jangan melakukannya lagi, itu membuatku takut dan merasa bersalah. Aku benar-benar tidak mau tanganku ini sampai melukaimu kamu adalah seseorang yang berharga di hidupku. Jika terjadi sesuatu padamu aku pasti akan di hajar mati oleh Daddy dan Mommy kamu" jelas Tio membuat Aulia tertawa, rupanya suaminya ini masih begitu takut dengan kedua orang tuanya, benar-benar lucu.


"Hahahaha suamiku rupanya begitu takut sama mertua sendiri hmmm ...."


"Tentu saja, mereka sangat menakutkan bahkan lebih menakutkan daripada setan" balasnya. Tiba-tiba Aulia merasa geli di bagian perutnya, ia lantas melirik ke arah suaminya namun Tio pura-pura melihat ke sembarang arah namun rasa geli yang di rasa Aulia membuatnya tidak kuat hingga mengeluarkan ******* yang mengundang si Joni bangun.


"Sayang kau membangunkan Joni" lirih Tio dengan ekspresi tak bersalah, padahal dirinyalah pelaku utama. Joni adalah sebutan bagi benda pusaka milik Tio.


"Kamu yang membuatku mendesah, besok saja mainnya lebih baik sekarang kita tidur"


"Ayolah sayang, aku benar-benar tidak kuat, sekarang ini adalah waktu ekstrim untuk si Joni dia mudah sekali bangun apalagi mendengar panggilan nikmat kamu hehehe" mau tidak mau akhirnya Aulia mengangguk tetapi saat memulai ritualnya tiba-tiba terdengar pintu kamar mereka di gedor dan suara anak kecil yang menangis.


"Sayang, sepertinya kita tunda dulu deh anak-anak menangis tuh" wajah Tio seketika menjadi lemas tidak bertenaga, Joni yang tadi berdiri tegak perlahan-lahan mulai menunduk dan kembali tidur.


Sedang Aulia segera turun dan membuka pintu setelah merapikan bajunya yang tadi berantakan akibat ulah suaminya. Kedua anak laki-laki itu masuk dengan mata sembab, Tio akhirnya ikut turun dari atas kasur menghampiri istri dan dua putra kecilnya.


"Ada apa dengan kalian berdua? kenapa menangis?" tanya Tio dengan wajah heran, sebelah alisnya terangkat tinggi.


"Hiks, hiks, hiks, kami mau tidur sama ayah dan bunda saja, kami takut tadi kami mimpi lihat setan hiks hiks" Aulia segera memeluk tubuh dua putranya sambil mengelus punggung mereka lembut.


"Iya sayang, kalian tidur di sini saja sama bunda dan ayah, jangan takut sekarang sudah aman" kedua saudara kembar itu mengangguk, mereka perlahan-lahan tenang.


Kini empat anak manusia sudah di atas kasur, Adrian dan Adnan sudah tidak lagi menangis.


"Sayang, tadi berdoa gak sebelum tidur?" tanya Aulia dan dua putranya menggeleng, ibu anak dua itu tersenyum tipis.


"Lain kali jika hendak tidur harus berdoa dulu, agar tidak bermimpi buruk karena doa yang kita ucapkan yang akan melindungi kita nanti, mengerti?"


"Mengerti bunda, lain kali kami tidak akan lupa lagi untuk berdoa kalau mau tidur"


"Bagus, kalau begitu ayo berdo'a dulu setelah itu kita tidur" Aulia membimbing anak-anaknya untuk berdo'a setelah itu menidurkan kedua putranya, setelah sudah selesai dengan anaknya ia melirik suaminya yang tampak jutek.


"Sayang besok saja yah" Tio hanya mengangguk pelan dan segera tidur membelakangi Aulia, wanita itu hanya menghela napas berat, suaminya ini mulai bertingkah seperti anak kecil lagi padahal kan bukan salah dirinya melainkan waktu yang tidak tepat.


Kini keluarga kecil itu sudah terlelap tidur di mana dua kembar berada di tengah-tengah kedua orang tuanya, tetapi saat semuanya sudah terlelap, pria dewasa itu bangun dan berpindah tempat ia berbaring di samping sang istri.


Rasanya tidak nyaman jika tidak tidur memeluk tubuh istrinya, tidak lupa juga tangannya harus berada di kedua bukit yang memiliki tekstur kenyal. Dasar pria mesum.


.


.


.


.


.


.


Bersambung